Sejarah Seminari di Padang, Bermula dari Panti Asuhan Eropa

Seminari Padang

Seminari Padang.

Suluah.com – Kota Padang pernah menjadi pusat misi Ordo Kapusin di Sumatra pada masa Hindia Belanda. Saksi dari misi itu adalah Seminari Menengah Maria Nirmala yang berdiri pada 1 September 1950.

Seminari di Padang menempati bangunan bekas panti asuhan dari tahun 1920-an yang terbengkalai pada masa pendudukan Jepang dan revolusi fisik. Sempat ditutup pada 1989, seminar ini dibuka kembali pada 2 Agustus 2022 oleh Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Latar Belakang

Indonesia, sebelum pembagian wilayah misi pada 1902, adalah sebuah vikariat apostolik yang berkedudukan di Batavia. Selanjutnya, wilayah Indonesia dibagi menjadi daerah-daerah misi Katolik yang diamanatkan atas ordo-ordo biarawan.

Pada 30 Juni 1911, Prefektur Apostolik Sumatra terbentuk, yang berkedudukan di Padang di bawah pimpinan Mgr. Liberatus Cluts OFM Cap.

Bersama dengan Mgr. Liberatus, datang misionaris Kapusin gelombang pertama, yaitu Matheus de Wolf, Camillus Buil, Agustinus Huijbergts, dan Remigius van Hoof.

Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans atau Mgr. Brans menjabat sebagai Vikaris Apostolik di Padang pada 12 Juli 1932.

Tahun 1916, misi Katolik mulai mendirikan kompleks di wilayah Padang Baru. Para pastor Kapusin membangun sekolah dan asrama untuk anak-anak yatim piatu.

Untuk menghidupi anak-anak yatim piatu, pastor Kapusin beternak sapi, mendirikan pabrik susu, dan menanam kelapa. Lokasi RS Yos Sudarso Padang saat ini dulunya adalah kandang sapi.

Pada 1931, Prefektur Apostolik Padang ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik, dan Mgr. Brans diangkat sebagai vikaris apostolik pertama dengan gelar uskup.

Pendirian Seminari di Padang

Lampiran Gambar
Bekas panti asuhan Eropa yang menjadi seminari. [Dokumentasi Suryadi dari Pandji Poestaka]

Pada 1941, Roma memutuskan memindahkan takhta Vikariat Apostolik dari Padang ke Medan. Namun, karena situasi pendudukan Jepang saat itu, Mgr. Brans baru pindah dari Padang ke Medan pada 1946.

Pada September 1949, Mgr. Brans mulai menggagas pembentukan seminari di Padang. Banyak pastor berpendapat bahwa tindakan itu prematur. Keputusan ini diambil atas desakan Duta Vatikan di Jakarta, Mgr. de Jonghe d'Ardoye.

Sebagai lokasi seminari yang baru itu dipilih sebuah gedung bekas panti asuhan. Gedung ini kondisinya terbengkalai selama pendudukan Jepang dan revolusi fisik.

Pastor Nivardus Ansems, tamatan Universitas Biblicum di Roma, mendapat tugas untuk memulai persiapan pendirian seminari. Ia baru datang ke Indonesia. Namun, sebelum sempat membuka seminari, ia meninggal secara mendadak pada 23 April 1950.

Sebagai penggantinya, datang Bernardinus van de Laar dan Wendelinus Willems. Keduanya pastor tentera pada waktu itu dan tidak berpengalaman di bidang sekolah. Mereka berpedoman pada pendidikan mereka di Seminari Menengah sewaktu di Belanda.

Seminari yang mereka bayangkan bukan SMP atau SMA, tetapi sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk Seminari Tinggi dan menjadi imam. Bahasa Latin menjadi mata pelajaran utama.

Sebagai langkah awal, tugas Bernardinus van de Laar dan Wendelinus Willems membereskan gedung bekas panti asuhan.

Murid-Murid Seminari

Lampiran Gambar
Murid-murid seminari di Padang.

1 September 1950 menandai pembukaan seminari di Padang. Sebelum dibuka, sudah datang 20 murid awal pada 27 Agustus 1950. Mereka terdiri dari 16 asal Tapanulli, dua asal Simalungun, dan dua asal dari Tanah Karo.

Seminari ini menampung pelajar sekolah menengah. Di tempat ini, pernah belajar Uskup Agung Medan Emiritus Mgr. AGP. Datubara, OFM Cap (1954) dan Pastor Frans Halim, Pr (1956).

Sayangnya, seminari ini tidak bertahan lama. Karena mayoritas seminaris yang mendaftar berasal dari wilayah Sumatra Utara, pada tahun 1955, seminari ini dipindahkan ke Medan dan selanjutnya ke Pematang Siantar.

Saat Perfektur Apostolik Padang ditingkatkan menjadi Keuskupan Padang pada tahun 1961, seminari ini dibuka lagi dengan Pastor Aldo La Ruffa menjadi rektornya. [den]

Baca Juga

Masjid Jamik Sungai Tanang
Silih Rupa Masjid Jamik Sungai Tanang, Dulu dan Kini
Masjid Raya Paninjauan
Masjid Raya Paninjauan, Renovasi di Atas Bangunan Asli
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Padang.
Mengenal Gereja Advent di Padang
FK Unand adalah salah satu fakultas kedokteran awal di Indonesia. FK Unand telah memulai perkuliahannya sejak 1955.
Sejarah FK Unand, Berdiri Sejak 1955
Hotel Centrum adalah bekas hotel di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat yang dibangun pada masa kolonial Belanda
Hotel Centrum Bukittinggi, Target Bumi Hangus Hingga Sengketa Lahan
INS Kayutanam mengalami masa krisis berupa terhentinya proses belajar mengajar selama periode pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan di Indonesia
Sejarah INS Kayutanam (3): Sempat Vakum Hingga Dibumihanguskan