Djamaluddin Tamim, Berjuang untuk Indonesia Merdeka Meski Bolak-Balik Penjara

Djamaluddin Tamim adalah seorang wartawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia di Sumatra Barat pada dekade 1920-an

Djamaluddin Tamim dan keluarga. [Foto: Ist.]

Suluah.com – Djamaluddin Tamim adalah seorang wartawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumatra Barat pada dekade 1920-an. Sebelum aktif dalam gerakan komunis, ia mengajar di Sumatera Thawalib Padang Panjang.

Pasca-kegagalan pemberontakan Silungkang 1927, ia hidup dalam pelarian di Singapura. Di sana, ia mengendalikan jaringan Partai Republik Indonesia (PARI) dan memperoleh banyak pengikut.

Kehidupan Awal

Djamaluddin Tamim lahir pada 18 Desember 1900 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat dari pasangan Halim (ayah) dan Sabiyah (ibu). Ia mewarisi Suku Koto dari sang ibu.

Ungku Gadang, demiikian sapaan akrab Djamaluddin di keluarga, melewati masa kecil dan menempuh pendidikan di Padang Panjang. Tamat dari Sekolah Rakyat pada 1913, ia melanjutkan pendidikan di Sumatera Thawalib.

Selama studinya, ia menonjol sebagai murid yang cerdas dan radikal. Ia juga menaruh perhatian pada pergerakan nasional Indonesia setelah gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy, memperkenalkannya politik.

Pada 1918, pemimpin perguruan, Haji Rasul mempercayakannya sebagai pengajar. Bersama Ahmad Khatib Datuk Batuah, rekan sesama pengajar, ia mendorong murid-murid Thawalib memasuki gelanggang politik. Hal itu membuat mereka berselisih Haji Rasul, yang ingin Thawalib bebas dari aktivitas politik.

Mendirikan Pemandangan Islam

Ketertarikannya terhadap gagasan memadukan komunisme dengan ajaran Islam membuat ia bergabung dengan Sarekat Rakyat (SR) cabang Padang Panjang pada 1922. SR merupakan organisasi pecahan dari Sarekat Islam (SI) yang menjadi cikal bakal PKI

Untuk menyebarkan ide-ide komunis ke para pelajar Thawalib, ia bersama Datuk Batuah mendirikan International Debating Club (IDC), klub debat yang bertempat di kantin sekolah bernama Buffet Merah.

Pada 15 Oktober 1923, mereka mendirikan surat kabar Pemandangan Islam yang “menggabungkan pengetahuan tentang pengaturan masyarakat bagi kepentingan rakyat yang sengsara dan miskin” dengan “kehendak dan tuntutan Islam.”

Pada Desember 1923, polisi Hindia Belanda menangkapnya karena delik pers. Ia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara oleh pengadilan dan bebas pada September 1925.

Pelarian di Singapura

Pasca-gagalnya pemberontakan di Silungkang pada malam tahun baru 1927, Djamaluddin Tamim kembali menjadi target penangkapan pemerintah kolonial. Meski demikian, ia berhasil meloloskan diri ke Singapura.

Selanjutnya, ia berangkat menuju Bangkok, Thailand. Pada 2 Juni 1927, bersama Tan Malaka dan Subakat, ia mendirikan PARI sebagai penerus perjuangan PKI. PARI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan cara-cara revolusioner, tetapi tak meninggalkan ideologi komunis sebagai pedoman aksi.

Djamaluddin Tamim mengatur kegiatan PARI di Singapura, Malaysia, dan Hindia Belanda. Ia merekrut dan membina sejumlah kader lewat kursus-kursus "tingkat tinggi”. Pengikutnya yang terkemuka adalah Djamaloeddin Ibrahim dan Kandoer Sutan Rangkayo Basa.

Ia juga mengirim sejumlah orang ke persembunyian Tan Malaka untuk memperoleh pendidikan politik. Seperti halnya Tan Malaka, Djamaluddin Tamim selama pelariannya memiliki banyak nama samaran, seperti Gow, Abdullah, Si Badu, Lookman, Si Besar, Joseph, dan Sulaiman.

Ia amat waspada dari kejaran Departemen Investigasi Kriminal (CID) Singapura: ketika ia merasa terancam, ia lari ke pantai dan menyamar sebagai nelayan atau pelaut.

Menjadi Digulis

Pelarian Djamaluddin Tamim berakhir setelah CID Singapura menangkapnya pada 13 September 1932. Selanjutnya, ia dibawa ke Batavia untuk diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Ia meringkuk dalam penjara selama beberapa bulan, sebelum akhirnya dibuang ke Boven Digul pada 8 Oktober 1933.

Setelah Jepang mendarat di Indonesia, Djamaluddin Tamim bersama beberapa Digulis lainnya dipindahkan ke Brisbane, Australia. Di sini, pada 21 September 1945, ia memimpin Central Komite Indonesia Merdeka (Cenkim) yang ia bentuk bersama Moh. Bondan.

Djamaluddin menginjakkan kakinya ke Tanah Air pada Januari 1946. Berikutnya, ia aktif sebagai anggota Partai Murba dan mendirikan Pustaka Murba untuk menerbitkan tulisan-tulisan Tan Malaka.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Ia meninggal dunia di Jakarta pada 1 April 1977. Tidak banyak catatan dan dokumentasi mengenai kehidupan pribadi maupun keluarga Djamaluddin Tamim.

Berdasarkan Wawancara singkat Suluah.com kepada pihak keluarga, terkuak bahwa ia memiliki delapan orang anak dari istrinya bernama Tutzahalin. Mereka yakni Yasmi, Martini, Nadir, Lunik, Irianta, Yuri, Titi Asih, dan Tinara. [den]

Baca Juga

Zukri Saad adalah aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Indonesia yang berkiprah dalam gerakan masyarakat sipil di Sumatra Barat
Zukri Saad, Tokoh Gerakan Masyarakat Sipil Sumatra Barat
Erlina Burhan adalah seorang dokter spesialis paru Indonesia yang berpraktik di dua lokasi di Jakarta, yakni di RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS YARSI
Erlina Burhan, Berkiprah Eliminasi TB hingga Penanganan Pandemi Covid-19
Kamardi Thalut berkiprah memajukan bagian bedah sekaligus menjadi guru besar untuk bidang tersebut di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Kamardi Thalut, Dokter Bedah Berdedikasi
Yulizal Yunus adalah seorang filolog dan akademisi bidang sastra Arab. Topik penelitiannya mencakup biografi dan karya ulama Minangkabau.
Yulizal Yunus, Mengkaji Khazanah Keilmuan Ulama Minangkabau Lewat Manuskrip
Zubaidah Djohar adalah seorang penyair dan aktivis kemanusiaan Indonesia
Zubaidah Djohar dan Kerja Kemanusiaannya Bagi Korban Konflik
Abdoel Xarim M.S. adalah seorang penulis roman dan tokoh PKI yang menggerakan Revolusi Sosial Sumatra Timur pada 1946
Abdoel Xarim M.S. Sang Komunis yang Menulis Roman