Melihat Sejarah Islam di Pauh dari Masjid Tajul Arifin

Ruang salat Masjid Tajul Arifin Padang

Ruang salat Masjid Tajul Arifin, Padang. [Foto: Yulizal Yunus]

Suluah.com – Masjid Tajul Arifin atau Masjid Marhamah terletak di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat. Berdiri pada tahun 1952, cikal bakalnya berawal dari surau bernama Surau Kararai.

Sejarah masjid ini tak terlepas dari perkembangan Tarekat Syattariyah di Kota Padang. Sampai sekarang, khutbah Jumat di sini masih berlangsung dalam bahasa Arab.

Sejarah Masjid Tajul Arifin

Lampiran Gambar
Makam Angku Jamaat, tokoh Tarekat Syattariyah di Pauh. [Foto: Yulizal Yunus]

Sebelum berdiri, masjid ini dulunya merupakan surau yang bernama Surau Kararai. Sebagian besar jemaahnya merupakan ini pengamal Tarekat Syattariyah. Tarekt tersebut dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan.

Surau Kararai menjadi tempat ibadah utama bagi penduduk Kapalo Koto, yang saat itu masih jarang permukiman. Tanahnya merupakan wakaf.

Seiring dengan pertumbuhan jemaah, penduduk setempat sepakat untuk meningkatkan surau menjadi masjid. Di antara tokoh yang memimpin pembangunan adalah Angku Jamat dan Angku Kuning Lukman Hakim.

Pembangunan masjid mulai berlangsung pada tahun 1952. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Tuanku Kiambang, seorang ulama Tarekat Syattariyah.

Salah Satu Masjid Bersejarah di Pauh

Pada awalnya, aktivitas keagamaan masyarakat Pauh berpusat di Masjid Raya Pauh di Kampung Dalam. Masjid tersebut sudah berdiri sejak awal abad ke-19.

Untuk mengikuti salat Jumat, penduduk dari Kapalo Koto harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer ke sana. Oleh sebab itulah, mereka akirnya sepakat untuk memiliki masjid sendiri.

Selain itu, ada dinamika keagamaan masyarakat Pauh yang menyebabkan mereka ingin memiliki masjid sendiri.

Saat itu, penduduk Kapalo Koto masih sebagian besar mengikuti Tarekat Syattariyah, sementara jemaah Masjid Raya Pauh secara umum adalah pengikut Muhammadiyah

Renovasi Tahun 2002

Masjid Tajul Arifin mengalami renovasi total pada tahun 2002 yang mengubah bangunan lama menjadi bangunan dua lantai. Namun, karena keterbatasan dana, pembangunannya berjalan cukup lama.

Meski begitu, masjid tetap berfungsi maksimal. Di dalamnya sudah tersedia ruang garin, ruang guru TPQ/TQA, dan toilet. Fasilitas ini mendukung kegiatan ibadah dan pendidikan yang rutin berlangsung di masjid.

Di depan mihrab masjid, sebagaimana tulisan Yulizal Yunus di postingan Facebook, terdapat makam dua tokoh, yakni Angku Jamaat dan Angku Nan Tuo. [den]

Baca Juga

Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Masjid Jamik Sungai Tanang
Silih Rupa Masjid Jamik Sungai Tanang, Dulu dan Kini