Masjid Jamik Tigo Baleh, Masjid Pertama di Bukittinggi

Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.

Masjid Jamik Tigo Baleh.

Suluah.com – Masjid bergaya ala Timur Tengah lazim kita jumpai di Sumatra Barat. Salah satunya yakni Masjid Jamik Tigo Baleh di Kelurahan Pakan Labuah, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Bukittinggi.

Masjid dengan sebuah kubah besar berpadu dua menara ini tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong. Berikut sejarahnya!

Masjid Pertama di Nagari Kurai Limo Jorong

Lampiran Gambar
Masjid Jamik Tigo Baleh pada tahun 1980-an. [Foto: Ist.]

Kehadiran masjid di Minangkabau pada masa lampau tak terlepas dari sejarah nagari tempatnya berada. Begitu pula dengan Masjid Jamik Tigo Baleh yang terdapat di wilayah Nagari Kurai Limo Jorong, cikal bakal Bukittinggi sekarang.Ruang utama Masjid Jamik Tigo Baleh.

Pada umumnya, setiap nagari memiliki masjid utama yang menjadi pusat kegiatan keagamaan oleh masyarakat. Bahkan, salah satu syarat berdirinya nagari adalah keberadaan masjid.

Berdirinya Masjid Jamik Tigo Baleh tak terlepas dari perkembangan penduduk Nagari Kurai Limo Jorong. Sesuai namanya, nagari ini meliputi lima jorong, salah satunya Jorong Tigo Baleh.

Di jorong ini, masyarakat Nagari Kurai Limo Jorong mula-mula membangun masjid. Lokasinya terletak di kawasan bernama Koto Jolong, daerah lurah atau kerendahan dekat hulu Batang Kurai. Pemilihan lokasi ini karena berada di tengah permukiman Jorong Tigo Baleh.

Tidak ada data mengenai tahun awal pembangunan masjid. Namun, menurut buku Menelusuri Jejak Sejarah Nagari Kurai Beserta Lembaga Adatnya karangan M.A. Dt. Kampung Dalam, pembangunannya diperkirakan dimulai pada abad ke-19.

Setelah pembangunan masjid selesai, jorong-jorong lain mulai menyusul membangun masjid seperti Masjid Jamik Mandiangin, Masjid Jamik Birugo, dan Masjid Jamik Tarok.

Selain untuk pelaksanaan salat Jumat, keberadaan masjid menjadi penting sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Nagari Kurai Limo Jorong yang kian bertambah.

Pembongkaran dan Pembangunan Kembali

Lampiran Gambar
Masjid Jamik Tigo Balehpada tahun 2009. [Foto: Ichsan K Joeameh]

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, banyak nagari di Minangkabau mengganti masjid mereka yang semi permanen dengan bangunan baru yang permanen.  Hal yang sama dialami oleh Masjid Jamik Tigo Baleh.

Sekitar tahun 1952, Masjid Jamik Tigo Baleh yang berlokasi di dekat hulu Batang Kurai dibongkar. Setelah itu, dibangun lagi masjid baru di pinggir jalan raya Tigo Baleh sekarang.

Saat itu, bentuk masjid ini belum seperti sekarang. Bangunan awalnya berbentuk mirip seperti Masjid Jamik Darussalam Koto Baru sekarang, yakni berdenah persegi dengan kubah utama di tengah dan anak-anak kubah di empat penjuru.

Dalam perjalanannya, masjid ini kembali dirombak. Masjid baru terdiri dari dua lantai dengan gaya modern sederhana. Desainnya menonjolkan pelengkung yang mengelilingi bangunan.

Baca juga: Masjid Agung Tangah Sawah dan Rupa yang Silih Berganti

Masjid ini awalnya tidak memiliki menara. Setelah tahun 2009, pengurus menambah dua menara dan bangunan tambahan di pintu masuk masjid.

Berdiri di atas tanah seluas 3.131 meter persegi, Masjid Jamik Tigo Baleh kini memiliki luas bangunan 1.156 meter persegi yang dapat menampung 1.000 jemaah. [den]

Baca Juga

Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Ruang salat Masjid Tajul Arifin Padang
Melihat Sejarah Islam di Pauh dari Masjid Tajul Arifin