Masjid Agung Tangah Sawah dan Rupa yang Silih Berganti

Masjid Agung Tangah Sawah di Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat.

Masjid Agung Tangah Sawah dari waktu ke waktu.

Suluah.com – Kota Bukittinggi memiliki banyak masjid tua dan bersejarah. Di antara masjid tersebut, ada yang sudah mengalami perubahan bentuk dari aslinya. Salah satunya yakni Masjid Agung Tangah Sawah di Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah, Kecamatan Guguk Panjang.

Tak hanya bangunan, lingkungan sekitar Masjid Agung Tangah Sawah ikut berubah. Dulunya, sekeliling masjid merupakan hampar sawah yang luas. Kini, kawasan sekitar masjid sudah menjadi permukiman padat penduduk. Bagaimana sejarahnya?

Awalnya Berstatus Masjid Jamik

Tidak diketahui kapan persisnya Masjid Agung Tangah Sawah didirikan. Namun, sebelum menyandang status masjid agung, masjid ini dulunya bertatsus masjid jamik, yakni masjid yang menjadi pusat kegiatan hari besar Islam oleh masyarakat suatu nagari.

Lokasi tempat masjid ini berada bernama Kampung Tangah Sawah. Sesuai namanya, kampung tersebut memang berada di tengah hamparan sawah. Pada masa lampau, Kampung Tangah Sawah termasuk dalam wilayah Nagari Kurai Limo Jorong, cikal bakal wilayah Bukittinggi sekarang.

Di Bukittinggi, ada delapan masjid jamik yang masih berdiri hingga sekarang. Selain di Tangah Sawah, masjid jamik lainnya terdapat di Birugo, Aua Kuniang, Tigo Baleh, Tarok Dipo, Koto Selayan, dan Mandiangin.

Lampiran Gambar

Masjid Agung Tangah Sawah sekitar tahun 1930. Foto diambil dari dari arah barat dengan siluet Gunung Sago di kejauhan.

Rupa Masjid Agung Tangah Sawah telah berganti seiring waktu. Salah satu dokumentasi awal masjid ini dapat kita temukan pada foto koleksi KITLV bertahun sekitar 1930.

Dalam foto terlihat, bangunan masjid memiliki atap limas berundak. Bentuknya sekilas mirip dengan Masjid Siti Manggopoh di Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Di foto tersebut, tampak beberapa rumah atau bangunan yang berdekatan letaknya dengan masjid. Salah satunya yakni Surau Inyiak Jambek, bangunan bertingkat dua tempat mengajar Jamil Jambek. Sekitar 30 meter di depan masjid, terdapat rel kereta api. Saat itu, lintasan kereta api di Bukittinggi masih aktif.

Perubahan Bentuk

Masjid Agung Tangah Sawah di Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat.

Masjid Agung Tangah Sawah pada tahun 1971.

Seiring waktu dan perkembangan ekonomi masyarakat, Kampung Tangah Sawah menjadi kawasan padat penduduk. Tidak ada lagi sawah. Bahkan, bekas rel kereta api di depan masjid sudah tertimbun oleh berbagai bangunan.

Pemandangan demikian dapat kita saksikan pada foto koleksi Tropenmuseum yang diambil pada tahun 1971.

Tak hanya kawasan sekitar masjid yang kian ramai, rupa masjid ikut berubah. Di foto, masjid tampak sudah memiliki dua kubah, satu berukuran besar di tengah dan satu lagi pada sisi mihrab. Sayangnya, tidak ada data mengenai kapan perubahan itu terjadi.

Perubahan besar-besaran terjadi pada tahun 1976. Masjid ini mengalami perombakan total hingga menjadi sekarang. Bangunannya diperluas dan ditingkatkan menjadi dua lantai. Mantan Wakil Presiden RI Mohammad Hatta datang melakukan peletakan batu pertama pembangunannya pada 13 Agustus 1976.

Lampiran Gambar

Masjid Agung Tangah Sawah sebelum perombakan total pada 13 Agustus 1976.

Kondisi Saat Ini

Masjid Agung Tangah Sawah di Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat.

Masjid Agung Tangah Sawah saat ini.

Keberadaan Masjid Agung Tangah Sawah memiliki arti penting bagi masyarakat Bukittinggi. Masjid ini tak pernah lengang karena lokasinya yang berada di pusat kota, tempat berkumpul dan beraktivitas masyarakat dari antero wilayah sekitar Bukittinggi.

Hal itu ditunjang oleh pelataran parkirnya yang luas memungkinkan masjid ini menampung banyak kendaraan. Bahkan, terminal angkutan kota di depan masjid dapat dikosongkan untuk parkir jika tidak tertampung.

Baca juga: Masjid Jamik Birugo, Tempat Pertemuan Para Ulama dan Lahirnya MUI

Masjid Agung Tangah Sawah rutin menjadi tempat kegiatan keagamaan baik skala nasional maupun regional.  Banyak mubalig maupun ulama kondang pernah mengisi ceramah di sini. Sebut saja Sulaiman Ar-Rasuli, Jamil Jambek, dan Hamka dari masa lampau atau Zainuddin MZ, Adi Hidayat, Abdul Somad dari era belakangan.

Masjid ini bahkan pernah menjadi tempat penyambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi pada Januari 2006. Saat itu, mereka melakukan pertemuan kenegaraan di Bukittinggi. Salah satu hari dalam rangkaian pertemuan bertepatan dengan hari Jumat dan kedua kepala negara tersebut melaksanakan salat Jumat di masjid ini. [den]

Baca Juga

Hotel Centrum adalah bekas hotel di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat yang dibangun pada masa kolonial Belanda
Hotel Centrum Bukittinggi, Pernah Dibumihanguskan, Kini Sengketa Lahan
Masjid Jamik Sungai Jariang terletak di Jorong Sungai Jariang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Masjid Jamik Sungai Jariang Berusia Seabad Berkubah Kuning Cemerlang
NV Kedjora adalah percetakan dan penerbit terkenal di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar) yang berdiri pada 17 September 1952
Sejarah NV Kedjora, Percetakan dan Penerbit Terkenal di Bukittinggi
Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga
Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya
Tabuah masih dapat kita jumpai hingga sekarang, terutama di surau atau masjid tua di Sumatra Barat
Tabuah di Minangkabau, Dari Penanda Waktu Salat Hingga Perang
Berita peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 1927 di Sumatra-Bode.
Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927