Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya

Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga

Ilustrasi papan reklame di puncak Jam Gadang. [Foto: Rahmatdenas]

Suluah.com – Tidak banyak yang tahu, papan reklame raksasa pernah bertengger di puncak Jam Gadang. Hal itu terjadi pada 1929.

Keberadaan papan reklame di Jam Gadang menimbulkan protes dari penduduk, seperti disuarakan dalam surat kabar Bintang Timoer edisi 18 November 1929 berikut ini:

Sejarah Papan Reklame di Jam Gadang

Pembaca barangkali masih ingat pada tiga tahun yang lalu, tatkala tuan Rookmaaker menjadi controleur di Fort de Kock, atas inisiatifnya tuan tersebut, digerakkannya sebuah tubuh komite bernama komite Jam Gadang.

Setelahnya komite ini berdiri, bukan sedikit mendapat perlawanan dari kiri-kanan, dalam pers pun acapkali diperiksa orang tubuh komite itu karena komite itu bergiat akan mencari uang untuk pendirian sebuah Jam Gadang di Fort de Kock.

Rintangan dan halangan tidak dipikiri oleh komite tersebut, asal maksud kesamlaian, yaitu mendirikan Jam Gadang dalam kota Fort de Kock.

Setelahnya Jam Gadang berdiri dan setelahnya tubuh komite pecah, orang banyak memuji atas adanya Jam Gadang dalam kota.

Sekarang di puncak di atas pangkat yang tertinggi, di atas Jam Gadang tersebut, sekarang kita menampak reklame Koek & Co. Buik dan Chevrolet. Malam hari reklame ini diterangi dengan lampu elektrik ada beberapa malam, tetapi kini tidak lagi, siang hari dari jauh kita telah menampak reklame Buik dan Chevrolet. Ini satu keuntungan kepada Koek & Co belalang dapat memangkur, syukurlah.

Jam Gadang Jadi Perkakas Kapitalis

Tetapi apa perasaan si volks dan apa perasaan si komite Jam Gadang yang telah luncur? Terserah kepada mereka itu.

Bagi kita kalau kita pandang dengan pandang overcht ya lumayan juga, tapi kalau kita pandang dengan pandangan batin, nyata tak baik, nyata buruk menjadi perasaan bagi volks dan komite Jam Gadang nan terluncur, perasaannya ia diinjak-injak, ia dijadikan perkakas oleh kapitalis.

Ini satu politik juga bagi perusahaan kaum kapitalis.

Kita seorang pers, seorang penduduk kota Fort de Kock tidak banyak sedikit pun telah menerima atas berdirinya jam itu, atas nama volks dan atas nama kita sendiri memprotes sangat atas reklame Koek & Co yang ada terletak di atas Jam Gadang tersebut.

Kita bersama teman dan orang banyak, merasa sangat [sic] atas adanya reklame tersebut adanya di atas Jam Gadang itu karena Jam Gadang itu kepunyaan orang banyak, bukan kepunyaan seseorang dan tidak kepunyaan perkumpulan.

Komentar Redaksi

Redaksi Bintang Timoer memberi catatan di akhir berita berupa dukungan terhadap protes yang disuarakan warga

"Protes ini harus didengar dan diperhatikan oleh pihak atas. Selembar koran ini harap dikirim setelahnya ditandai karangan ini dengan potlot merah, kepada asisten residen di Fort de Kock." tulis redaksi.

Selain itu, Redaksi Bintang Timoer juga memberi saran yang dapat diambil terhadap adanya papan reklame di atas Jam Gadang.

"Boleh jadi firma Koek & Co membayar juga sebagai buat reklamenya. Uang itu tentu masuk kas Gemeente atau salah satu badan umum di sini. Kalau begitu tentu tidak keberatan, bukan?" tutup redaksi.

Baca Juga

Berita peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 1927 di Sumatra-Bode.
Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927
Asvi Warman Adam adalah sejarawan kontemporer Indonesia yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1983.
Asvi Warman Adam, Menguak Kabut Sejarah
Kisah Penuturan Seorang Bekas Perwira Bala Tentara Jepang yang Ditugaskan Membuat Lubang Perlindungan Jepang ditulis oleh Hirotada Honjyo pada 17 April 1997, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia pada 2001.
Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi
Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.
Masjid Jamik Tigo Baleh, Masjid Pertama di Bukittinggi
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Dokter Astani, Pelopor Baha'i di Padang dan Bukittinggi
Jepang membangun Lubang Jepang karena diduga ingin menjadikan Bukittinggi sebagai tempat tinggal Kaisar Jepang kelak. Bagaimana kisahnya?
Rencana Rahasia Jepang di Lubang Jepang Bukittinggi