Masjid Jamik Tigo Baleh, Masjid Pertama di Bukittinggi

Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.

Masjid Jamik Tigo Baleh.

Suluah.com – Masjid bergaya ala Timur Tengah lazim kita jumpai di Sumatra Barat. Salah satunya yakni Masjid Jamik Tigo Baleh di Kelurahan Pakan Labuah, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Bukittinggi.

Masjid dengan sebuah kubah besar berpadu dua menara ini tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong. Berikut sejarahnya!

Masjid Pertama di Nagari Kurai Limo Jorong

Kehadiran masjid di Minangkabau pada masa lampau tak terlepas dari sejarah nagari tempatnya berada. Begitu pula dengan Masjid Jamik Tigo Baleh yang terdapat di wilayah Nagari Kurai Limo Jorong, cikal bakal Bukittinggi sekarang.

Pada umumnya, setiap nagari memiliki masjid utama yang menjadi pusat kegiatan keagamaan oleh masyarakat. Bahkan, salah satu syarat berdirinya nagari adalah keberadaan masjid.

Berdirinya Masjid Jamik Tigo Baleh tak terlepas dari perkembangan penduduk Nagari Kurai Limo Jorong. Sesuai namanya, nagari ini meliputi lima jorong, salah satunya Jorong Tigo Baleh.

Di jorong ini, masyarakat Nagari Kurai Limo Jorong mula-mula membangun masjid. Lokasinya terletak di kawasan bernama Koto Jolong, daerah lurah atau kerendahan dekat hulu Batang Kurai. Pemilihan lokasi ini karena berada di tengah permukiman Jorong Tigo Baleh.

Tidak ada data mengenai tahun awal pembangunan masjid. Namun, menurut buku Menelusuri Jejak Sejarah Nagari Kurai Beserta Lembaga Adatnya karangan M.A. Dt. Kampung Dalam, pembangunannya diperkirakan dimulai pada abad ke-19.

Setelah pembangunan masjid selesai, jorong-jorong lain mulai menyusul membangun masjid seperti Masjid Jamik Mandiangin, Masjid Jamik Birugo, dan Masjid Jamik Tarok.

Selain untuk pelaksanaan salat Jumat, keberadaan masjid menjadi penting sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Nagari Kurai Limo Jorong yang kian bertambah.

Pembongkaran dan Pembangunan Kembali

Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid tertua di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.

Ruang utama Masjid Jamik Tigo Baleh.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, banyak nagari di Minangkabau mengganti masjid mereka yang semi permanen dengan bangunan baru yang permanen.  Hal yang sama dialami oleh Masjid Jamik Tigo Baleh.

Sekitar tahun 1952, Masjid Jamik Tigo Baleh yang berlokasi di dekat hulu Batang Kurai dibongkar. Setelah itu, dibangun lagi masjid baru yang megah berlokasi di pinggir jalan raya Tigo Baleh sekarang.

Baca juga: Masjid Agung Tangah Sawah dan Rupa yang Silih Berganti

Masjid baru menampilkan gaya arsitektur Timur Tengah yang modern dengan kubah besar di tengah berpadu dua menara.

Berdiri di atas tanah seluas 3.131 meter persegi, bangunan masjid terdiri dari dua lantai dengan luas bangunan 1.156 meter persegi yang dapat menampung 1.000 jemaah. [den]

Baca Juga

Hotel Centrum adalah bekas hotel di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat yang dibangun pada masa kolonial Belanda
Hotel Centrum Bukittinggi, Pernah Dibumihanguskan, Kini Sengketa Lahan
Masjid Jamik Sungai Jariang terletak di Jorong Sungai Jariang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Masjid Jamik Sungai Jariang Berusia Seabad Berkubah Kuning Cemerlang
NV Kedjora adalah percetakan dan penerbit terkenal di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar) yang berdiri pada 17 September 1952
Sejarah NV Kedjora, Percetakan dan Penerbit Terkenal di Bukittinggi
Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga
Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya
Tabuah masih dapat kita jumpai hingga sekarang, terutama di surau atau masjid tua di Sumatra Barat
Tabuah di Minangkabau, Dari Penanda Waktu Salat Hingga Perang
Berita peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 1927 di Sumatra-Bode.
Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927