Buni-Bunian #1: Silaturahmi Komponis Muda Sumatera Barat

Suluah.com – Forum Komponis Muda (FKM) Sumatera Barat (Sumbar) menggelar showcase perdana bertajuk "Buni-Bunian #1" pada Selasa (24/10) malam di FoodiShe: Eatery & Social Space, Padang Panjang. Kegiatan kolektif yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB itu ditaja dalam selingan dua sesi rangkaian kegiatan.

Pada sesi pementasan, diisi dengan suguhan lima karya komposisi musik yang dipresentasikan oleh lima komponis muda dari berbagai daerah di Sumbar: M. Hadi Habib (Padang Panjang), M. Rafif (Pasaman), Rofri Hendri (Padang Pariaman), Hedrianto (Solok Selatan), dan Azzura Yenli Nazrita (Agam).

Lampiran Gambar

Gelaran "Buni-Bunian #1" ini diawali dengan penampil pembuka dari komponis M. Hadi Habib yang menyajikan komposisi musik berjudul "Sodam Kanioan". Habib terinspirasi dari karakter semangat dan enerjik dendang Ontak Tobuang sebagai salah satu repertoar kesenian tradisi Sampelong dari Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota.

Peran dendang sampelong dalam komposisinya membawakan nuansa melodi dan ritme. Dengan menawarkan bentuk baru dari garapan musik tradisional melalui pendekatan interpretasi tradisi yang inovatif. Komposisinya diramu dengan sajian berbeda lewat instrumen seruling, bansi, sampelong, vokal, talempong, bass elektrik, dan gandang tambua.

Disusul penampil kedua sesudah itu. M Rafif menyajikan komposisi musik berjudul "Gojang Sarontak" yang terinspirasi dari pola ritme Gandang Pano kesenian tradisi yang ada di Nagari Jambak, Lubuak Sikapiang, Kabupaten Pasaman.

Rafif mentransformasikan dan mengembangkan pola ritme lewat media ungkap yang berbeda dari biasanya pada kesenian tradisi Gandang Pano. Upaya ini dilakukannya atas dorongan rasa peduli, penasaran, dan keingintahuan untuk mengaktualisasikan konsep musikalnya melalui instrumen akordeon, seruling, gitar akustik, talempong, bass elektrik dan gendang Melayu.

Lampiran Gambar

Presentasi karya melalui kegiatan "Buni-bunian #1" yang merupakan wadah perjumpaan para penggiat komposisi musik ini memperlihatkan penjelajahan artistik para kreator yang seiring dengan praktek penyajiannya sebagai upaya meningkatkan produktifitas kekaryaan.

Setelah jeda yang cukup singkat, Jumaidil Firdaus selaku MC yang memandu acara ini menyambut penampil karya berikutnya. Rofri Hendri menggelar komposisi musiknya yang berjudul "Tabiek Onggo-oi".

Terinspirasi dari karakter vokal tradisi yang ada pada kesenian tradisi di Padang Pariaman. Bagi Rofri, di setiap kesenian tradisi Padang Pariaman yang menggunakan vokal, memiliki kesamaan-kesamaan dalam sajiannya. Baik dari segi modus, silabel, maupun perjalanan melodi.

Tafsirnya terhadap keunikan musikal tersebut disajikan dalam bentuk yang harmonis sekaligus atraktif melalui garapan yang dikembangkannya dengan menggunakan media vokal, sarunai, talempong, katuak-katuak, dan gandang tambua.

Lampiran Gambar

Selanjutnya, komponis Hedrianto sebagai penampil keempat malam itu menampilkan komposisi musik dengan judul "Baboiyen" yang terinspirasi dari repertoar Lagu Tenggi pada kesenian tradisi Saluang Panjang yang berjudul "Patik Tigo".

Hedrianto menyajikan komposisi musik yang bersumber dari prinsip permainan nada-nada Fluktuatif yang digarap melalui interaksi dan dialog musikal pada karya. Mentransformasikan dan mengembangkan aspek musikal dengan menggunakan media vokal, Saluang Panjang, seruling, kacapi Sunda, kucapi payokumbuah, bass elektrik dan gandang sarunai.

Empat karya komposisi musik yang berangkat dari kesenian tradisi dalam gelaran "Buni-bunian #1" ini menunjukkan upaya kreatif masing-masing pengkarya. Menjadikan acara yang digagas oleh FKM Sumbar ini sebuah terapan penyajian bagi para komponis.

Jumaidil Firdaus mengungkapkan, "Forum Komponis Muda Sumatera Barat adalah forum silaturahmi komponis / komposer muda yang ada di Sumatera Barat, setelah sekian tahun intens mengadakan forum diskusi seputaran komposisi musik, sekarang FKM Sumbar mulai mengadakan agenda silaturahmi karya komposisi musik komponis muda dengan tajuk "Buni-bunian", yang tentunya juga dibarengi dengan diskusi seputar karya komposisi musik tersebut", papar musisi yang mewakili FKM Sumbar ini.

Lampiran Gambar

Sebelum sesi Pementasan berakhir, komponis Azzura Yenli Nazrita sebagai penampil kelima yang menutup set pergelaran "Buni-bunian #1" malam itu, melengkapi kegiatan ini dengan komposisi musik berjudul "Duo Warih Tungga Rago" yang disuguhkannya.

Azzura tampil sebagai komponis muda perempuan satu-satunya di penghujung showcase tersebut. Dengan formasi seluruh pemusiknya adalah perempuan. Membawakan komposisi musik yang terinspirasi dari sebuah fenomena sosial masyarakat.

Tentang perempuan Minangkabau dengan sistem matrilineal ketika menikah dengan laki-laki di luar Minangkabau yang menganut sistem patrilineal. Memosisikan anak keturunan dari pernikahan tersebut akan memiliki hak waris ganda, dan diakui dikedua suku orang tuanya.

Tafsir Azzura pada aspek musikal dalam komposisinya tampak pada permainan karakter musik dengan dinamika lembut dan keras, melalui media vokal, seruling, sampelong, kucapi Payokumbuah, talempong, bass elektrik, dan gandang tambua.

Lampiran Gambar

Masing-masing komposisi musik yang dipresentasikan oleh lima komponis muda ini, memberi pengalaman tersendiri bagi penikmatnya. Terlihat dari ekspresi dan antusiasme pengunjung yang hadir menyaksikan pergelaran karya-karya yang belum pernah diresepsi sebelumnya di cafe tersebut.

Lima penampilan karya komposisi musik telah usai, menandai masuknya sesi Diskusi Santai. Sebagai momen mencermati perihal artistik kekaryaan dan produksi acara. Terutama hubung kaitnya membincangkan seputar penyajian komposisi musik beserta penyelenggaraan kegiatan.

Waktu yang dibentangkan pada sesi Diskusi ini menempuh durasi yang cukup relevan, bersama narasumber yang sedia mengurai. Menghadirkan pembicara Taufik A Adam, seorang komponis dan multi instrumentalis yang sudah melanglang buana di kancah komposisi musik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Lampiran Gambar

Disarikan dari pandangan Taufik A Adam, "Ruang-ruang komposisi musik seperti ini perlu untuk terus diselenggarakan, untuk melihat, mengetahui, dan memperkenalkan potensi-potensi seniman muda Sumatera Barat. Dan sebaiknya memang diselenggarakan di luar kampus, agar masyarakat juga dapat diberikan apresiasi, sehingga komposisi musik ini tidak hanya milik orang-orang akademis", tegas putra dari Achyar Adam seorang tokoh seni Padang Panjang itu.

Perhelatan kolektif "Buni-bunian #1" ini didukung oleh FoodiShe Padang Panjang, Mayoret Band Studio dan TerbangMelayang.id. Sebagai upaya bersama dalam menghadirkan kesempatan dan eksistensi para talenta muda selanjutnya.

Yudi menyampaikan, "Kami sangat mendukung sekali kegiatan-kegiatan kreatif dan inovatif anak-anak muda bisa diselenggarakan di tempatnya. Karena ini ternyata juga sejalan dengan apa yang dicita-citakannya, menjadikan cafe sebagai ruang kreatif anak muda", imbuh pengelola café tersebut.

Gelaran "Buni-bunian #1" berupaya menawarkan sebuah pengalaman 'mengalami' secara langsung dalam perspektif membawa pengunjung mengenyam ruang-ruang bunyi baru melalui variasi sajian dari para komponis muda.

Tag:

Baca Juga

Naramajas, Grup Musik asal Padang Merilis Single Terbaru “Cappucino”
Naramajas, Grup Musik asal Padang Merilis Single Terbaru “Cappucino”
Buni-Bunian #2: Menggugah Inklusivitas Seniman
Buni-Bunian #2: Menggugah Inklusivitas Seniman
FUSA UIN Imam Bonjol dan Pelita Padang Teken MoU Riset dan Program Lintas Iman di Sumbar
FUSA UIN Imam Bonjol dan Pelita Padang Teken MoU Riset dan Program Lintas Iman di Sumbar
Forum Anak Sumbar Rayakan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) di Festival Anak 2023
Forum Anak Sumbar Rayakan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) di Festival Anak 2023
Mafindo Padang kampanye pre-bunking
Mafindo Gelar Kampanye Pre-Bunking di Kawasan Jati dan GOR Agus Salim
Sejarawan Novelia Musda menyebut kemungkinan pengaruh Portugis dalam kuliner Minang dilandasi fakta bahwa bangsa Portugis sudah mencapai pedalaman Minangkabau pada abad ke-16
Sejarawan Novelia Musda Urai Kemungkinan Pengaruh Portugis dalam Rendang di Festival Pusako