Buni-Bunian #2: Menggugah Inklusivitas Seniman

Suluah.com – Setelah sukses menggelar pertunjukan musik bertajuk Buni-Bunian #1, kali ini Forum Komponis Muda Sumatera Barat (FKM Sumbar) melanjutkan langkah dengan kembali menghadirkan pertunjukan yang dikemas dalam Buni-Bunian #2.

Sebagai ajang silaturahmi, tentunya tidak hanya sekadar sajian pertunjukan, tetapi dilanjutkan dengan sesi diskusi serta berbagi pengalaman artistik dalam perspektif akademisi maupun pengalaman empiris.

Pada kesempatan ini, FKM Sumbar sebagai penggagas pertunjukan jug didukung oleh FoodiShe Padang Panjang, Mayoret Band Studio, serta TerbangMelayang.id yang dilaksanakan pada Selasa lalu (26/12/2023) di Kota Padang Panjang.

Momentum tersebut menghadirkan lima orang komponis dengan latar pengalaman artistik yang cukup bervariatif. Pertunjukan dibuka oleh karya dari Vindo Alhamda Putra yang merupakan komponis sekaligus putra daerah dari Padang Panjang dengan karyanya yang burjudul “Hubris Overture”.

Istilah hubris merupakan diksi yang dipilihnya dari serapan Bahasa Yunani yang merujuk pada kebanggaan berlebihan, kesombongan atau sikap arogan yang melampaui batas kewajaran. Secara artistik, Vindo menginterpretasikan kondisi tersebut terhadap paradigma dalam pengalaman empirisnya yang ditransformasikan ke dalam ekstraestetis karya.

Kemudian secara musikal, fenomena tersebut digarap dalam bingkai analogi musikal dengan perubahan sukat, pola ritme, serta harmoni yang kompleks dan inovatif. Mix ensembel menjadi wujud karya musiknya yang dikemas dengan gaya kekinian.

Dengan pendekatan programa, karya ini disajikan melalui berbagai unsur dramatik dalam bunyi-bunyian dari yang berbentuk naratif, struktural hingga kontras yang agresif, guna merefleksikan konflik internal serta memberikan kesan dampak dari sikap hubris.

Selanjutnya pertunjukan kedua menghadirkan karya dari Almuta’ali Ramadhan (Ali), komponis dari Perawang, Siak, Riau. Dengan karyanya yang berjudul “Buruju”, Ali merefleksikan pengalaman dan problematika subjektifnya sebagai anak bungsu yang dirasa memiliki tanggung jawab besar terhadap kebahagiaan keluarga.

Berbeda dengan stereotipe di masyarakat yang menilai anak bungsu sebagai anak emas dalam keluarga. Interpretasi tersebut ditransformasikannya ke dalam karya musik dengan mengadopsi permainan musik Melayu yang dikemas bergaya inovatif.

Karya musik yang disajikan menghadirkan dua nuansa yang kontradiktif secara konstruksi auditifnya. Nuansa kesedihan dihadirkan melalui permainan dengan tempo lambat serta melodi yang mengalun, kemudian kesan perjuangan sebagai anak bungsu dihadirkan dengan permainan tempo yang lebih cepat serta ritme yang semakin rapat, guna membangun spirit secara musikal.

Tidak kalah menarik dengan pertunjukan sebelumnya, pertunjukan ketiga menghadirkan karya dari Hafif H.R., yang merupakan komponis dari Sijunjung, Sumatera Barat.

Hafif yang juga merupakan seorang dosen musik di ISI Padang Panjang, turut mempresentasikan karyanya yang berjudul “The Sound of Trains”. Melalui karyanya, ia membawa audiens merasakan pengalamannya terhadap keberangkatan, perjalanan, hingga kedatangan dengan moda transportasi kereta api melalui dramatik dan gramatikal auditif.

Keberangkatan dan kedatangan dijadikan gagasan yang diinterpretasikan dalam dualisme yang hadir dalam sebuah perjalanan. Gagasan tersebut diwujudkan lewat penggarapan musik ansambel tiup logam serta hibrida dengan playback sampling soundscape dan sound synthesis, sehingga menghadirkan kesegaran secara performatif.

Bunyi gemuruhnya stasiun, serta sirine lokomotif juga dihadirkan dengan imitasi dari perpaduan instrumen tiup, sehingga mampu menggugah imajinasi apresiator terhadap eksotisme peristiwa keberangkatan dan kedatangan.

Kemudian pertunjukan berikutnya menghadirkan karya dari komponis perempuan asal Sitongga, Padang Pariaman, yakni Anna Amelia Putri. Melalui karyanya yang berjudul “Suaro Anak”, Anna merefleksikan pengalaman empirisnya terhadap kondisi psikologi anak dalam perpecahan keluarga.

Konflik yang hadir ketika tekanan batin, kehilangan cita-cita, hingga harus mengikhlaskan apa yang telah terjadi diresolusi dengan membangun kembali rasa percaya diri. Interpretasi tersebut ditransformasikan ke dalam karya bentuk naratif dari dendang yang dilantunkan, serta ricikan musik yang mengadopsi dan menginovasi gaya musik tradisi Minangkabau. Sehingga nuansa auditif yang dihadirkan semakin dekat dengan pengalaman dan penghayatan intuitif kultur dari para apresiator.

Sebagai pertunjukan penutup Buni-Bunian #2 malam itu, menghadirkan karya dari M. Chevin Chaniago, komponis asal Mungka, Kab. Limapuluh Kota dengan judul “Statera Suara”.

Chevin terinspirasi dari eksotisme teknik permainan bogi buni dalam permainan talempong pacik logu dendang yang tumbuh dan berkembang di Talang Maua, Mungka. Bagi buni merupakan permainan secara bergantian oleh tiga orang pemain talempong yang membentuk satu frase dengan bunyi yang kompleks.

Ide tersebut digagas ke dalam bentuk yang inovatif melalui varian nyanyian naratif, serta mengadopsi gaya musik beatbox dengan format trio team. Berbagai varian bunyi perkusif yang kultural diimitasi serta didekonstruksi dengan berbagai teknik beatbox, sehingga memperkaya dan menghadirkan kesegaran dalam performatifnya.

Tidak hanya sampai di situ, agenda FKM Sumbar pada malam itu dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman akademis dan empiris oleh para komponis yang dibuka oleh Biki Wabihamdika sebagai pemandu diskusi.

Dimulai dengan mengulas kembali secara naratif dalam teks dan konteks yang terkandung dalam karya, dijadikan pemantik bahasan yang menghangati suasana pada malam yang cukup dingin. Lima karya musik yang dipresentasikan menghadirkan kesegaran khazanah bebunyian yang variatif.

Menurut Hafif satu di antara komponis presenter, memang musik itu merupakan cara berbahasa melalui bunyi-bunyian, ketepatan dan relevansi penggunaan bunyi itu menjadi simbolik yang subjektif sebagai media ungkap.

Selain itu, berbagai metode, tahapan, kendala, dan strategi yang dilakukan oleh para komponis juga dijadikan bahasan.

Jumaidil, satu di antara anggota FKM Sumbar mempertegas kembali, guna menjaga kewarasan dalam praktik musik idealis ini, kehadiran Buni-Bunian ini merupakan kegiatan yang inklusif bagi para seniman. FKM Sumbar membuka kesempatan yang amat luas, mulai dari karya yang utuh, karya prototipe hingga karya yang sedang tumbuh.

Pernyataan tersebut disambut baik oleh Weldi, satu di antara dosen musik di ISI Padang Panjang yang hadir menyaksikan pertunjukan. Ia mengutarakan kesempatan serta kemungkinan FKM Sumbar untuk melebarkan agendanya, seperti dibukanya kelas inkubasi untuk jangkauan interdisiplin. Kondisi tersebut dapat diwujudkan dengan membangun kedisiplinan, konsistensi dan kesungguhan para pelaku seni, serta aspek pendukungnya.

Jangan terlalu bergantung pada faktor eksternal, dimulai dengan kebiasaan dan keberlanjutan secara kolektif, suatu saat agenda ini akan menjadi kegiatan yang profesional. Demikian ujar Taufik Adam yang merupakan komponis asal Sumbar dengan latar pengalaman hingga Internasional.

Buni-Bunian #2 tidak hanya dihadiri oleh pelaku seni, tetapi juga disaksikan oleh masyarakat luas. Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh pengamat seni yang merupakan bagian dari stakeholder di Kota Padang Panjang.

Beliau sangat antusias terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh FKM Sumbar. Selain kegiatan positif, menurutnya kegiatan ini dapat menggali potensi, eksistensi hingga melahirkan regenerasi para maestro yang mampu menjaga ketahanan budaya di masa yang akan datang. Dimulai dari hal yang sederhana, para komponis mampu membaca paradigma interpretatif gejala yang ada di sekitarnya, hingga mengejawantahkan ide gagasannya ke dalam bentuk seni pertunjukan dengan gaya yang inovatif.

Beliau berharap kegiatan ini selanjutnya dapat dikolaborasikan dengan Pemerintah Daerah agar dapat didukung dan difasilitasi secara moril dan materiil.

Sebagai akhiran, Buni-Bunian #2 ditutup dengan foto bersama para komponis, pihak FKM Sumbar sebagai penyelenggara, serta para apresiator yang masih bertahan hingga akhir diskusi. Begitu hangatnya suasana yang dibangun para pemuda telah menggugah desember ceria.

Tag:

Baca Juga

Naramajas, Grup Musik asal Padang Merilis Single Terbaru “Cappucino”
Naramajas, Grup Musik asal Padang Merilis Single Terbaru “Cappucino”
FUSA UIN Imam Bonjol dan Pelita Padang Teken MoU Riset dan Program Lintas Iman di Sumbar
FUSA UIN Imam Bonjol dan Pelita Padang Teken MoU Riset dan Program Lintas Iman di Sumbar
Forum Anak Sumbar Rayakan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) di Festival Anak 2023
Forum Anak Sumbar Rayakan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) di Festival Anak 2023
Buni-Bunian #1: Silaturahmi Komponis Muda Sumatera Barat
Buni-Bunian #1: Silaturahmi Komponis Muda Sumatera Barat
Mafindo Padang kampanye pre-bunking
Mafindo Gelar Kampanye Pre-Bunking di Kawasan Jati dan GOR Agus Salim
Sejarawan Novelia Musda menyebut kemungkinan pengaruh Portugis dalam kuliner Minang dilandasi fakta bahwa bangsa Portugis sudah mencapai pedalaman Minangkabau pada abad ke-16
Sejarawan Novelia Musda Urai Kemungkinan Pengaruh Portugis dalam Rendang di Festival Pusako