Jejak Baha'i di Sumbar, Dulu Miliki Ribuan Penganut

Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.

Ilustrasi rumah ibadah Baha'i. [Foto: Minh-Tam VO via Wikimedia]

Suluah.com – Keberadaan Baha'i di Sumatra Barat (Sumbar) belum begitu mendapat perhatian. Padahal, daerah ini pernah memiliki ribuan penganut Baha'i dan menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia, bahkan Asia Tenggara!

Eksistensi Baha'i di Sumbar sudah berlangsung puluhan tahun, yakni sejak dekade 1950-an. Di mana daerah persebaran mereka dan bagaimana sejarahnya?

Sekilas Baha'i

Pembahasan soal Baha'i mencuat akhir-akhir ini setelah viralnya video Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memberi selamat hari raya Nawruz kepada komunitas Baha'i. Nawruz adalah hari pertama dalam Kalender Baha'i alias semacam perayaan tahun baru.

Di dunia internasional, masih terdapat perdebatan mengenai penyebutan Baha'i sebagai agama atau bukan. Di Indonesia sendiri, Kementerian Agama (Kemenag) pada 2014 menyimpulkan, Baha'i adalah suatu agama tersendiri dan bukan aliran dari suatu agama tertentu.

Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.

Pusat Baha'i Nasional yang pernah berdiri di Jakarta. [Foto: Baha'i News No. 297]

Baha'i, menurut Kemenag, memang memiliki kemiripan dengan Islam, tapi kemiripan itu tidak menjadi masalah. "Bukankah banyak agama yang juga memiliki kesamaan, antara satu dengan lainnya?" begitu tertera dalam rilis Kemenag.

Sementara itu, seorang sosiolog Inggris, David V. Barrett dalam The New Believers menyebut Baha'i sebagai "agama yang relatif baru". Agama ini memang baru lahir sekitar tahun 1844 di Persia (sekarang Iran). Pendirinya bernama Mírzá Ḥusayn-`Alí Núrí yang bergelar Bahá'u'lláh. Ia menyatakan dirinya sebagai utusan Tuhan.

Baha'i awalnya berkembang secara terbatas di Iran dan beberapa daerah di Timur Tengah. Menurut sumber berita resmi komunitas Baha'i di seluruh dunia, keberadaan Baha'i di Indonesia bermula pada akhir abad ke-19.

Awalnya, pada dekade 1880-an, dua orang pelopor agama Baha’i yang bekerja sebagai pedagang, yakni Sayyid Mustafa Rumi dan Jamal Effendi, datang ke beberapa wilayah Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Lombok. Setelah itu, datang lagi generasi penyebar Baha'i berikutnya pada dekade 1950-an berjumlah 10 orang yang terdiri dari dokter umum dan lulusan sekolah medis.

Pelopor agama Baha’i generasi kedua ini masuk ke Indonesia melalui program kerja sama dengan Departemen Kesehatan RI. Masa itu Indonesia masih kekurangan dokter, sehingga Indonesia gencar mendatangkan dokter dari luar negeri untuk ditempatkan di berbagai wilayah di Indonesia.

Sejarah Baha'i di Sumbar

dr. Rahmatu'lláh Muhájir, pelopor agama Baha'i di Kepulauan Mentawai, Sumbar

dr. Rahmatu'lláh Muhájir, pelopor agama Baha'i di Kepulauan Mentawai, Sumbar. [Foto: brilliantstarmagazine.org]

Di antara tujuan penyebaran agama Baha'i pada dekade 1950-an yakni Padang, Bukittinggi, dan Kepulauan Mentawai, Sumbar. Ada dua orang yang tercatat sebagai penyebar agama Baha'i di Sumbar. Mereka yakni dr. Astani (bertugas di Padang dan Bukittinggi) dan dr. Rahmatu'lláh Muhájir (bertugas di Muara Siberut, Kepulauan Mentawai).

Tidak banyak catatan mengenai perkembangan Baha'i di Padang dan Bukittinggi. Namun, mengenai profil dr. Astani bisa kita temukan dalam buku Baha'i World 2002–2003 terbitan Pusat Baha'i Sedunia.

Baca juga: Dokter Astani, Pelopor Baha'i di Padang dan Bukittinggi

Dalam buku tersebut dijelaskan, dr. Astani membuka kelas-kelas belajar Baha'i selama di Padang dan Bukittinggi. Sebagai dokter, ia juga bekerja baik di rumah sakit umum maupun militer. Ia menetap di Bukittinggi hingga meninggal pada 2 Januari 2003.

dr. Astani memiliki anak bernama Nasrin Astani, yang saat ini menjadi salah seorang tokoh komunitas Bah'ai Indonesia.

Sementara itu, perkembangan Baha'i di Kepulauan Mentawai menunjukkan hasil yang signifikan. Selama kepeloporannya, dr. Muhájir telah menginspirasi lebih dari ribuan masyarakat asli Mentawai untuk menerima ajaran Bahá'u'lláh.

Hugh C. Adamson dalam Historical Dictionary of the Bahá’í Faith mencatat, ada 4.000 masyarakat Mentawai di Pulau Siberut yang memeluk Baha'i berkat dr. Muhájir.

Kepulauan Mentawai menjadi salah satu wilayah pertama di luar Timur Tengah dan dunia Barat dengan jumlah signifikan konversi ke agama Baha'i terjadi. Dalam buku A History of Christianity in Indonesia disebutkan, penyebaran agama Baha'i menjadi ancaman terbesar terhadap usaha penginjilan di Kepulauan Mentawai, khususnya Pulau Siberut.

Mentawai Miliki Penganut Baha'i Terbanyak

Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.

Siswa-siswi asal Mentawai di Asrama Baha'i "Darut-Tarbiyyih", Padang pada 1980. [Foto: The Baha'i World 1979-1983]

Banyaknya jumlah penganut Baha'i di Kepulauan Mentawai pernah menjadi bahasan dalam berkala yang dikeluarkan Majelis Rohani Nasional Baha'i Amerika Serikat.

"Di Kepulauan Mentawai saja, sekarang ada lebih dari 5.000 orang (pemeluk) Bah'ai, sementara di seluruh wilayah Asia Tenggara jumlah penganut agama ini telah membengkak menjadi lebih dari 8.000," begitu laporan berkala Baha'i edisi Juni 1961.

Artinya, 50% lebih penganut agama Baha'i di Asia Tenggara saat itu ada di Kepulauan Mentawai. Itu baru data tahun 1961. Bagaimana sekarang?

Baca juga: Dokter Asal Iran Menginspirasi Ribuan Penduduk Mentawai Masuk Baha'i

Sayangnya, setelah tahun 1961, data mengenai jumlah penganut Baha'i di Indonesia, termasuk Sumbar tidak lagi tersedia. Hal itu lantaran Presiden Sukarno mengeluarkan larangan kegiatan agama Baha'i berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 264 Tahun 1962.

Pada tahun 2000, Keppres larangan kegiatan agama Baha'i dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid lewat Keppres Nomor 69 Tahun 2000. Meski demikian, populasi umat Baha’i tidak pernah masuk dalam rekam jejak statistik Indonesia. [den]

Baca Juga

Abdul Latif Syakur adalah seorang ulama ahli tafsir yang berkiprah dalam pemajuan pendidikan perempuan dan pers. Ia membidani lahirnya majalah Islam umum, Pewarta Islam, dan majalah Islam khusus perempuan, Djauharah.
Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan
Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau dan lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah.
Meninjau Surau-Surau di Pariangan yang Terlewatkan
Masjid Raya Kubu Sungai Batang berdiri sejak tahun 1911. Umat Islam di sekitar Danau Maninjau berbondong-bondong melakukan infak untuk pembangunannya.
Masjid Raya Kubu Sungai Batang dan Perdebatan Saat Pembangunannya
Kisah Penuturan Seorang Bekas Perwira Bala Tentara Jepang yang Ditugaskan Membuat Lubang Perlindungan Jepang ditulis oleh Hirotada Honjyo pada 17 April 1997, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia pada 2001.
Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi
Rahmatullah Muhajir memperkenalkan Baha'i ke Kepulauan Mentawai. Ia disebut telah menginspirasi ribuan masyarakat asli Mentawai masuk Baha'i.
Dokter Asal Iran Menginspirasi Ribuan Penduduk Mentawai Masuk Baha'i
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Dokter Astani, Pelopor Baha'i di Padang dan Bukittinggi