Meninjau Surau-Surau di Pariangan yang Terlewatkan

Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau dan lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah.

Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau yang lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah. [Foto: Andipsp11 via Wikimedia Commons]

Suluah.com – Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar) tak hanya menawarkan hamparan pemandangan indah dan kemolekan kampung tradisionalnya. Nagari ini ternyata juga menyimpan kekayaan sejarah yang masih belum banyak digali, yakni keberadaan surau.

Surau adalah bangunan pra-Islam yang mengalami keberlanjutan fungsi setelah Islam masuk. Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau yang lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah.

Sekilas Nagari Pariangan

Sawah di Nagari Pariangan.

Sawah di Nagari Pariangan. [Foto: Ist.]

Nagari Pariangan adalah salah satu nagari atau kampung yang dianggap sebagai kampung tertua di Minangkabau. Menurut versi tambo yang masyhur, para leluhur masyarakat Minangkabau berasal dari sini.

Penduduk Nagari Pariangan menyebar ke berbagai arah sekitarnya. Mendaki dan menuruni bukit dan lembah serta menyeberangi anak sungai mencari tanah yang elok untuk ladang, sawah, dan tempat tinggal.

Nagari Pariangan menyajikan pemandangan alam yang menawan dengan hamparan sawahnya yang berundak-undak. Selain itu, terdapat perkampungan tradisionalnya dengan ciri-ciri bangunan rumah gadang.

Sebagaimana nagari pada umumnya, Nagari Pariangan memiliki sebuah masjid utama yang kini bernama Masjid Ishlah, meskipun bukan masjid yang pertama. Sebelumnya, pernah berdiri masjid terdahulu yang lokasinya berada dekat kuburan panjang agak ke atas lokasi sekarang, tepatnya di Dusun Tigo Luak.

Surau di Nagari Pariangan

Beberapa surau di Nagari Pariangan terbengkalai karena tidak ada lagi yang mengurus

Beberapa surau di Nagari Pariangan terbengkalai karena tidak ada lagi yang mengurus. [Foto: Hendri Nova]

Jauh sebelum kedatangan Islam, masyarakat Minangkabau sebenarnya mengenal surau. Di sinilah, laki-laki Minangkabau menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Laki-laki yang belum menikah tidur di surau sebab kamar di rumah gadang hanya untuk anggota keluarga perempuan

Fungsi surau yang demikian tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi meluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman.

Surau biasanya dimiliki oleh setiap kaum yang menghuni nagari. Oleh karena itu, suatu nagari bisa memiliki banyak surau. Nah, hal itu pula yang terdapat di Nagari Pariangan.

Surau di Nagari Pariangan memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan surau daerah lain di Minangkabau. Kekhasannya terletak pada lokasi surau yang cenderung mengelompok yang memusat ke arah Masjid Ishlah. Ada beberapa pendapat tentang mengelompoknya surau-surau tersebut.

Pertama, daya tarik sumber air panas yang berada di sekitar masjid. Keberadaan surau biasanya dekat sumber air untuk berwudu, mandi, mencuci pakaian, dan sebagainya.

Mengelompoknya surau-surau dengan masjid di tengah-tengahnya seperti Ka'bah dengan Masjidil Haram di sekelilingnya. Konfigurasi ini membuat tata letak bangunan yang unik.

Pendapat lain mengatakan bahwa pengelompokan itu merupakan wujud dari eratnya hubungan antarkaum. Anggota kaum yang biasanya menghabiskan waktu di surau mulai datang ke masjid hingga terjadi pertemuan antarkaum, khususnya pada hari Jumat.

Dalam konteks kehidupan kaum, surau merupakan tempat membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan kaum. Ini berada dengan suku. Musyawarah suku biasanya berlangsung di balai adat.

Selain berkaitan dengan eksistensi kaum, surau identik dengan tarekat. Menurut penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, ada tiga tarekat yang berkembang di surau-surau Nagari Pariangan, yakni Syattariyah, Naqsabandiyah, dan Qadiriyah.

Jemaah ketiga tarekat hidup rukun dan damai. Mereka akan berkumpul dan melebur dalam satu masjid, yaitu Masjid Ishlah tanpa terjadi saling menonjolkan.

Apa saja Surau di Nagari Pariangan?

Masjid Islah dengan surau di depannya.

Masjid Ishlah dengan surau di depannya. [Foto: Rahmatdenas]

Lokasi surau-surau yang mengelompok di Nagari Pariangan mencakup area seluas 3-4 hektare. Pada masa dahulu, jumlah surau di Nagari Pariangan cukup banyak. Ada yang menyebutnya 32 buah dan ada pula yang mengatakan 36 buah.

Namun demikian, menurut penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang pada 2002, surau yang tersisa di Nagari Pariangan hanya belasan saja.

Adapun nama-nama surau yang masih ada itu adalah: Surau Gurun, Surau Singguo, Surau Angek Rajo, Surau Panarian, Surau Mudiak Dt. Tumarajo, Surau Hilie Dt. Rajo Penghulu, Surau Beringin, Surau Koto, Surau Tuanku Imam, Surau Tinggi, Surau Gadang, Surau Dt. Sinaro/Siti Randiang, Surau Datuk Suri, Surau Bunian, dan Surau Baru

Dari belasan surau itu, lima surau sudah jadi tempat tinggal, dan hanya tiga saja yang peruntukannya sebagai tempat mengaji. Selebihnya, sudah tidak dipakai lagi.

Bangunan surau umumnya berukuran yaitu 7,5 x 5,5 meter. Di sisi bagian barat, terdapat mihrab yang menghadap kiblat tempat imam shalat. Beberapa surau memiliki kamar di salah satu sudut ruangan.

Dinding surau terbuat dari anyaman bambu atau sasak yang berukuran tiga jari (5 cm). Di tengah ruangan yang menghubungkan lantai dengan bagian atap dipancangkan tonggak yang berfungsi menguatkan bangunan.

Lantai surau tidak boleh menyentuh tanah. Di bawah lantai, dipancangkan beberapa tiang kira-kira satu meter dari tanah. [den]

Baca Juga

Ahmad Khatib Datuk Batuah adalah seorang guru agama dan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) terkemuka di Sumatra Barat pada awal abad ke-20.
Ahmad Khatib Datuk Batuah, Dari Sarekat Islam ke PKI
Abdul Hamid Hakim adalah seorang ulama bidang fikih dan pemimpin Thawalib Padang Panjang.
Abdul Hamid Hakim, Ulama Ahli Fikih dan Pemimpin Thawalib Padang Panjang
Idrus Hakimy Dt. Rajo Pangulu adalah seorang ulama dan ahli adat Minangkabau
Idrus Hakimy Dt. Rajo Pangulu, Ulama dan Ahli Adat Minangkabau
Abdul Latif Syakur adalah seorang ulama ahli tafsir yang berkiprah dalam pemajuan pendidikan perempuan dan pers. Ia membidani lahirnya majalah Islam umum, Pewarta Islam, dan majalah Islam khusus perempuan, Djauharah.
Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan
Ahmad Yakub Datuk Simarajo adalah seorang ahli adat Minangkabau dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM),
Perjuangan Datuk Simarajo, Ahli Adat Minangkabau Untuk Kemerdekaan
Masjid Raya Kubu Sungai Batang berdiri sejak tahun 1911. Umat Islam di sekitar Danau Maninjau berbondong-bondong melakukan infak untuk pembangunannya.
Masjid Raya Kubu Sungai Batang dan Perdebatan Saat Pembangunannya