Buya Umar Bakri, Tokoh Perti Asal Pariangan yang Duduk di Konstituante

Umar Bakri adalah seorang ulama Minangkabau yang berkiprah di bidang pendidikan dan dakwah serta sempat duduk di Konstituante

Buya Umar Bakri. [Foto: Ist.]

Suluah.com – Umar Bakri adalah seorang ulama Minangkabau yang berkiprah di bidang pendidikan dan dakwah serta sempat sebentar di dunia politik. Ia merupakan pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam di Pariangan.

Ia juga pemimpin Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) untuk wilayah Batusangkar dan Sijunjung. Setelah kemerdekaan, ia terpilih sebagai anggota Konstituante (1959–1965) mewakili Partai Perti

Kehidupan Awal

Lahir pada 1912, Umar Bakri belajar mengaji di surau dan menamatkan Sekolah Rakyat (1923) di kampung halamannya, Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar).

Ia menyambung belajar agama di surau yang diasuh Abdul Latif di Kubu Rajo, Nagari Lima Kaum selama dua tahun (1924–1926). Setelah itu, ia masuk ke Madrasah Thawalib Alamiah pimpinan Alamsudin di Panji, dekat Canduang, sebelum pindah ke Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) milik Perti di Nagari Jaho, dekat Padang Panjang dan tamat pada 1930.

Di tengah masa studinya, Syekh Muhammad Jamil Jaho mengutusnya untuk mengajar ke Simalako, Muara Aman, Bengkulu. Selama enam bulan di sana, Umar Bakri menggerakkan masyarakat mendirikan suatu madrasah tingkat ibtidaiyah (setara SD).

Setelah tamat, Umar mengajar di almamaternya selama dua tahun. Pada 1932, ia kembali diutus oleh Muhammad Jamil Jaho, kali ini untuk memajukan pendidikan agama di kampung halamannya, Pariangan.

Para pelajar asal Pariangan yang sedang belajar di MTI Jaho berdatangan untuk belajar di halaqah Umar, yang berikutnya bertransformasi menjadi MTI Pariangan. Pada 1934, MTI ini sudah memiliki 200 orang murid.

Aktivisme Umar Bakri

Selain bergiat di bidang pendidikan, Umar Bakri juga mengikuti perkembangan pergerakan nasional dengan bergabung di kursus-kursus politik yang diadakan pemimpin Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) Dt. Singo Mangkuto. Semangat perjuangan kemerdekaan dan melawan kolonialisme dari kursus tersebut mempengaruhi corak kepemimpinan Umar di MTI Pariangan.

Polisi kolonial yang khawatir dengan aktivitas Umar menekan ninik mamak setempat agar menutup madrasah. Demi memperjuangkan sekolahnya, ia menghadap Kepala Nagari yang tak lain perpanjangan tangan penguasa kolonial.

Dalam suatu perdebatan, seorang anak buah Kepala Nagari menyepak Umar hingga terluka dan dibawa ke rumah sakit di Batusangkar. Perkara itu disidangkan ke pengadilan. Hasilnya, hakim memutuskan menghukum Kepala Nagari dengan denda, sementara Umar dapat membuka kembali sekolahnya tanpa halangan.

Dakwah ke Malaysia

Pada 1939, Umar Bakri bermaksud menunaikan ibadah haji. Namun, setiba di Madras, ia tertahan akibat Perang Dunia II yang sedang berkecamuk.

Ia memutar arah ke Perak, bertemu Mufti Kerajaan Perak M. Zen Simabur, yang menyarankannya untuk menetap sementara sambil berdakwah. Umar menerima tawaran tersebut dan ia menunaikan dakwahnya ke sejumlah negara bagian Malaysia, termasuk Perak, Kuala Lumpur, Johor, Negeri Sembilan, Pahang, Terengganu, Perlis, dan Kedah.

Di sela-sela dakwahnya, ia juga menulis buku berjudul Jami'at Al-Nashihah. Setahun di Semenanjug Malaya, karena situasi keamanan yang tak mendukung, ia memutuskan pulang kampung.

Buya Umar Bakri & Perti

Setiba di Pariangan pada 1940, Umar Bakri tampil sebagai organisatoris Perti dan menjadi Konsul Perti untuk wilayah Batusangkar dan Sijunjung. Hari-harinya sibuk dengan membesarkan organisasi, mulai dari pengembangan cabang dan ranting Perti, hingga pembukaan MTI sampai ke pelosok nagari seperti Sumpur Kudus, Silantai, dan Unggan.

Berkat kegigihannya, cabang dan ranting Perti berikut 60 MTI telah berdiri di seluruh nagari. Pencapaian Umar membuat Perti memilih Batusangkar sebagai tempat berdirinya Kulliyah Syar'iyyah, perguruan setingkat aliyah sebagai lanjutan jenjang MTI, pada 1942. Umar Bakri memimpin langsung perguruan tersebut

Pada masa perjuangan kemerdekaan, sebagian besar para pelajarnya masuk dalam barisan bersenjata Lasykar Muslimin Indonesia (Lasymi) bentukan Perti. Umar menjadi salah seorang pemimpin Lasymi daerah Batusangkar dan Sijunjung. Ia bertanggung jawab untuk menyediakan dana, perlengkapan, dan perbekalan untuk Lasymi. Jelang penyerahan kedaulatan, ia diangkat menjadi pegawai Jawatan Agama Kewedanaan Batusangkar.

Duduk di Konstituante dan Birokrat

Kiprah Umar Bakri dalam memajukan pendidikan dan organisasi Perti membuat ia dicalonkan sebagai anggota Konstituante oleh Partai Perti pada pemilihan umum pertama 1955. Umar Bakri terpilih bersama Sulaiman Arrasuli, Mansur Datuk Nagari Basa, Sjamsijah Abbas, dan Kuasini Sabil. Di Konstituante, Umar duduk sebagai anggota Panitia Persiapan atau Pekerja Konstituante.

Setelah Konstituante bubar pada 1959, ia kembali aktif pada Jawatan Agama, tepatnya di Tanjung Pinang, yang ketika itu berada di bawah pimpinan oleh H.A.K. Dt. Gunung Hijau.

Setelah empat tahun bertugas di sana, ia pulang ke kampung halamannya untuk memimpin Jawatan Agama Tanah Datar menggantikan pejabat sebelumnya, Sutan Mudo. Ia memegang jabatan tersebut hingga pensiun pada 1969.

Berdakwah Hingga Usia Senja

Pada masa tuanya, Umar Bakri tetap sibuk berdakwah dan mengabdikan diri di dunia pendidikan. Selain memimpin MTI Pariangan, ia mendirikan Akademi Dakwah Islamiyah Pariangan (ADIP) di Pariangan pada 1975. Akademi tersebut kelak menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah yang terdaftar sebagai perguruan tinggi agama swasta di bawah Departemen Agama.

Umar Bakri memiliki empat istri, yakni Rasyidah, Juriah, Syarat Ahmad, dan Siti Jawahir. Yang terakhir adalah anak dari Muhammad Jamil Jaho. Dari empat pernikahannya, ia dikaruniai tujuh orang anak.

Di antara anak-anak Umar Bakri yakni Ma'as Umar, dosen Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Bukittinggi; Daenas, hakim Angkatan Laut di Jakarta; Muhammad Zen, pegawai Pertamina di Jeddah; dan Abdul Khair, dokter di Lampung; Nadji Umar, pegawai Pertamina di Dumai.

Cita-citanya yang dulu pernah kandas untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah dapat ia tunaikan pada 1982, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia. [den]

Baca Juga

Aisyah Elliyanti adalah ahli kedokteran nuklir Indonesia yang menjadi guru besar untuk bidang tersebut di FK Unand
Aisyah Elliyanti, Spesialis Kedokteran Nuklir Pertama di Sumatera
Prof. Syukri Arief adalah ilmuwan kimia Indonesia yang sehari-hari mengajar di Universitas Andalas (Unand).
Syukri Arief, Guru Besar Kimia Universitas Andalas
Marah Adin berkarir sebagai penyuluh pertanian pada masa Hindia Belanda dan pensiun sebagai Kepala Dinas Pertanian Sumatra Tengah (1948–1956)
Marah Adin, Pendiri Kota Solok
Djamaluddin Tamim adalah seorang wartawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia di Sumatra Barat pada dekade 1920-an
Djamaluddin Tamim, Berjuang untuk Indonesia Merdeka Meski Keluar-Masuk Penjara
Abdul Hamid Khatib, Putra Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang Jadi Diplomat
Abdul Hamid Khatib, Putra Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang Jadi Diplomat
Asvi Warman Adam adalah sejarawan kontemporer Indonesia yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1983.
Asvi Warman Adam, Menguak Kabut Sejarah