Sejarah Kuranji dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, Basis Harimau Kuranji

Daerah Kuranji memainkan peran penting sebagai basis pertahanan dan perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sinilah, basis kedudukan Harimau Kuranji.

Makam Pahlawan Kuranji. [Foto: Rahmatdenas]

Suluah.com – Kecamatan Kuranji merupakan salah satu kecamatan di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Dalam sejarahnya, daerah ini memainkan peran penting sebagai basis pertahanan dan perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di sini, sering terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam perjuangan kemerdekaan. Dari sini pula, para pejuang kemerdekaan mengatur strategi dan melakukan penyerangan-penyerangan terhadap tentara Sekutu dan Belanda yang berada di dalam Kota Padang.

Perang Pasca-Kemerdekaan di Kuranji

Terhitung sejak tanggal 10 Oktober 1945 pasukan Sekutu memasuki wilayah Sumatera Barat melalui pelabuhan Teluk Bayur di Padang. Saat pendaratan itu tidak kurang dari 12 kapal perang tentara Sekutu memadati pelabuhan yang merupakan pintu masuk ke kawasan ranah Minangkabau.

Tentara Sekutu yang dikirim ke Padang merupakan Divisi India ke-26 yang berada di bawah pimpinan oleh Mayor Jendral M.H. Chambers dan didampingi oleh Mayor Jendral A.I. Spits sebagai wakil dari Belanda. Pendaratan ini masih berlangsung hingga beberapa hari kemudian seiring dengan usaha Sekutu untuk memantapkan kedudukan militer di Pulau Sumatera.

Saat pendaratan itu hampir terjadi kerusuhan antara tentara Sekutu dengan masyarakat di sekitar pelabuhan. Penyebabnya adalah tindakan tentara Sekutu yang menurunkan bendera merah putih yang terpasang di depan gedung kantor Syah Bandar pelabuhan. Peristiwa ini menimbulkan kecurigaan dan sikap ketidaksenangan masyarakat Padang terhadap Sekutu.

Sikap permusuhan semakin meningkat setelah para pejuang dan pemuda Kota padang mengetahui Sekutu membawa tentara Belanda untuk menancapkan kembali kuku-kuku kolonialisme. Permusuhan yang kemudian menjadi pertentangan semakin menjadi setelah Sekutu secara paksa mengambil alih gedung-gedung pemerintah Indonesia hampir di seluruh Kota Padang.

Dalam waktu yang tidak begitu lama Kota Padang telah menjadi medan jihad bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia di kawasan itu. Sejak itu, berbagai pertempuran dan konflik-konflik senjata dan fisik antara pejuang kemerdekaan Indonesia dan Tentara Sekutu.

Berbagai peristiwa tersebut, kehidupan penduduk bumiputera menjadi tidak aman. Banyak warga yang kemudian melakukan eksodus ke daerah-daerah lain baik di Kota Padang maupun daerah-daerah lain di luar kota.

Jadi Markas BKR

Seiring eskalasi pertempuran, Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Ahmad Husein yang semula di Jati pindah ke Kuranji. Menurut Mestika Zed, ini merupakan keputusan Ahmad Husein untuk melindungi anak buahnya agar tidak menjadi sasaran penangkapan Sekutu.

“Lagi pula untuk menghadapi Sekutu secara frontal jelas tidak mungkin, karena persenjataan BKR amat terbatas. Sebaliknya Sekutu memiliki kekuatan yang lebih unggul baik dari segi kualitas personil maupun persenjataan," tulis Mestika Zed.

Kuranji saat itu merupakan sebuah kampung yang terletak di pinggiran kota Padang. Selain markas BKR, daerah Kuranji menjadi sebagai pusat pelatihan militer bagi para pemuda Kota Padang khususnya yang semakin banyak bergabung dalam Tentara Keselamatan rakyat Indonesia (TKR).

Pada mulanya, tempat pelatihan ini berada di Alang Laweh, tetapi tempat itu hancur akibat serangan tentara Sekutu. Sejak itu, Kuranji yang terletak tidak kurang dari 5 kilo meter di luar Kota Padang memainkan peranan yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan di Kota Padang.

Pada tanggal 5 Februari 1946, para pejuang kemerdekaan Indonesia yang berada di Padang Luar Kota mengadakan musyawarah untuk mendirikan organisasi perjuangan yang selanjutnya bernama Dewan Perjuangan Padang Luar Kota.

Tempat pertemuan ini di Masjid Lubuk Lintah, Kuranji yang ketika itu merupakan daerah Nagari Pauh IX. Dalam pertemuan itu, Ahmad Husein tampil sebagai komandan pertempuran. Sejak itu, seluruh pasukan pejuang kemerdekaan di Padang Luar Kota berada di bawah pimpinan Ahmad Husein.

Pada mulanya, Kampung Kalawi menjadi basis organisasi ini. Akan tetapi dengan pertimbangan daerah itu kurang aman karena mudah dijangkau maka dipindahkan ke Kalumbuk suatu daerah di Kuranji yang berada agak menjorok ke dalam dari jalan raya. Surau Batu dijadikan sebagai sebagai kantor organisasi itu.

Sejak berdirinya Dewan Perjuangan, Padang Luar Kota khususnya Kuranji menjadi terkenal sebagai basis perjuangan yang sangat tangguh di Kota Padang. Apalagi setelah dewan ini menjalin kerjasama dengan pasukan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Ahmad Husein. Sejak itu pula, Ahmad Husein memimpin penyerangan karena ia dipercaya sebagai pemimpin Pasukan Dewan Perjuangan dan TKR.

Lahirnya Harimau Kuranji

Keberanian dan kemahiran pejuang-pejuang kemerdekaan di Kuranji ditakuti oleh Sekutu. Strategi perang gerilya yang diterapkan Ahmad Husein seringkali merepotkan tentara.

Pada tanggal 21 Februari 1946 pasukan Ahmad Husein berhasil menghancurkan markas tentara Sekutu dan Belanda di daerah Rimbo Kaluang. Sejak pertempuran ini, pasukan Ahmad Husein mendapat julukan Harimau Kuranji. Nama Harimau Kuranji dengan cepat menyebar di kalangan penduduk bumiputera.

Bagi Sekutu, Harimau Kuranji merupakan ganjalan sekaligus momok yang sangat menakutkan. Karena itu, Sekutu dan Belanda menjanjikan akan memberikan hadiah kepada siapapun yang dapat menangkap pemimpin pasukan ini.

Sejak Ahmad Husein memindahkan markas pasukannya ke Kuranji, daerah ini sering kali mendapat gempuran dari tentara Sekutu. Rumah-rumah penduduk pun sering kali menjadi sasaran penghancuran dari tentara Sekutu.

Sekutu sengaja melakukan penggeledahan dan penghancuran rumah-rumah penduduk untuk menakuti mereka agar tidak membantu pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi, penduduk tetap saja memberikan dukungannya kepada pejuang, sehingga Sekutu sering kali mengalami kegagalan dalam mencari pejuang-pejuang kemerdekaan. Sejak itu pula, Kuranji menjadi daerah yang sangat terkenal di kalangan penduduk bumiputera sebagai daerah perjuangan.

Pada pertengahan Bulan Mei 1946, Sekutu mengepung Kalumbuk yang merupakan basis pejuang-pejuang kemerdekaan di Padang Luar Kota. Meski demikian, Pasukan Harimau Kuranji dengan cepat berhasil mengusir kembali tentara-tentara Sekutu.

Peran Strategis Kuranji

Demikianlah, sedikit gambaran tentang keberadaan daerah Kuranji pada masa perang kemerdekaan. Daerah yang sebenarnya hanyalah sebuah perkampungan penduduk bumiputera menjadi sangat terkenal karena menjadi daerah basis pertahanan yang paling penting.

Penting dan strategisnya daerah Kuranji sebagai basis pergerakan para pejuang kemerdekaan tak terlepas dari letaknya yang sangat strategis untuk pertahanan sekaligus penyerangan pasukan Indonesia ke kantong-kantong pertahanan Sekutu dan Belanda.

Baca juga: Mengenang Heroisme Rakyat Pauh di Padang

Jalan-jalan “tikus” yang melintasi daerah itu menjadi penghubung daerah Kuranji dengan berbagai daerah pertahanan di garis belakang hingga ke hutan-hutan di sekitar Bukit Barisan.

Selain itu, daerah ini menjadi tempat persediaan kebutuhan-kebutuhan logistik bagi pasukan pejuang kemerdekaan. Berbagai macam jenis buah, sayuran dan hasil pertanian penduduk mudah di dapat.

Baca Juga

Jombang Santani Khairen adalah seorang novelis Indonesia. Mulai menulis novel sejak 2013, ia memperoleh popularitasnya pada 2019 lewat Kami (Bukan) Sarjana Kertas.
J.S. Khairen, Novelis dengan Berjibun Karya Lintas Genre
Pauh adalah nama kecamatan di Padang. Dulu, daerah ini termasuk salah satu wilayah pertama di Minangkabau yang melawan kolonialisme Belanda.
Mengenang Heroisme Rakyat Pauh di Padang
2x11 Enam Lingkung, demikian nama kecamatan di Sumbar yang mengandung kombinasi kata, angka, dan perkalian. Kok bisa dan apa sejarahnya?
Mengenal Kecamatan 2x11 Enam Lingkung dan Asal Usul Namanya
Masjid Muhammadan adalah peninggalan komunitas Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada 1843.
Semarak Masjid Muhammadan, Dari Jemaah Tablig Hingga Serak Gulo
Masjid Tua Padukuan merupakan masjid tertua di Nagari Padukuan, Kabupaten Dharmasraya yang selesai dibangun pada tahun 1938.
Masjid Tua Padukuan, Nasibnya Kini
Bakmi GM adalah jaringan restoran Indonesia yang mengkhususkan diri dalam hidangan bakmi. Kuliner ini merupakan ikon bakmi di Jakarta.
Sejarah Bakmi GM, Ikon Bakmi di Jakarta