Masjid Raya Ganting, "Benteng" Sejarah Kota Padang

Masjid Raya Ganting, "Benteng" Sejarah Kota Padang

Masjid Raya Ganting. [Foto: Rahmatdenas]

Suluah.com – Terletak di tepi jalan, Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu. Dua abad lebih masjid ini berdiri menyaksikan belasan generasi dan berbagai peristiwa, mulai dari perdebatan ulama, musyawarah adat, embarkasi haji, pidato Soekarno, hingga latihan perang pada masa penjajahan Jepang.

Tak ayal, catatan sejarah Kota Padang kerap menyebut keberadaan Masjid Raya Ganting. Selain karena peran sentralnya, masjid ini juga pernah menjadi masjid terbesar di Minangkabau hingga awal abad ke-20.

Sejarah Masjid Raya Ganting

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Cikal bakal Masjid Raya Ganting berawal dari sebuah surau. Dalam sejarah Padang, surau paling awal terletak di Kapalo Koto (kini masuk wilayah Seberang Padang) dan sudah berdiri pada abad ke-18.

Pada tahun yang tidak diketahui, surau di Kapalo Koto dipindahkan ke Kampung Ganting di tepi Batang Arau dan dinamakan sebagai Surau Kampung Ganting. Lama-kelamaan, surau berkembang menjadi masjid.

Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatra Barat, Masjid Raya Ganting didirikan pada tahun 1805, tetapi sebelum itu sudah ada surau yang didirikan pada tahun 1790.

"Ada banyak versi (tentang tahun pendirian). Kami memakai versi tahun 1805," ujar Ketua Pengurus Masjid Raya Ganting Munandar Maska kepada Suluah.com, Senin (12/4).

Dengan demikianm Masjid Raya Ganting yang berdiri sekarang merupakan pengganti Surau Kampung Ganting dan surau terdahulu di Kapalo Koto.

Pembangunan

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Bangunan Masjid Raya Ganting semula terbuat dari kayu dengan atap berbahan rumbia. Meski demikian, saat terjadi gempa bumi dan tsunami yang melanda pantai barat Sumatra pada 1833, bangunan masjid tetap utuh. Namun, lantai batunya rusak sehingga diganti dengan lantai coran kapur dari kulit kerang dan batu kapur.

Sejarawan Rusli Amran dalam Padang Riwayatmu Dulu menyebut, pembangunan masjid yang lebih baik lagi dimulai pada 1866. Namun, pembangunannya berjalan lamban sehingga, sesudah 20 tahun pembangunan, masjid "belum selesai betul" karena dana yang "selalu saja kurang".

Dana pembangunan berasal dari penduduk Muslim setempat. Surat kabar Sumatra Courant pada 1868 melaporkan adanya penggalangan dana untuk pembangunan masjid.

"Beberapa imam pribumi di Padang melakukan penggalangan dana dari masyarakat Muslim untuk pembangunan masjid," demikian laporan Sumatra Courant edisi 12 September 1868.

Tokoh dalam penggalangan dana yang teridentifikasi yakni Syekh Kapalo Koto, seorang imam di Seberang Padang dan Syekh Gapuak (bernama asli Abdul Halim), seorang saudagar sarung bugis di Pasar Gadang. Sementara itu, Haji Umar, kepala kampung Ganting mewakafkan tanah untuk masjid. Tiga tokoh inilah yang oleh banyak sumber disebut sebagai tiga tokoh pemrakarsa Masjid Raya Ganting.

Tempat Singgah Para Saudagar

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Semasa menjadi daerah jajahan Belanda, Padang terkenal sebagai kota perdagangan. Kota ini memiliki Pelabuhan Teluk Bayur yang mengekspor komoditas seperti cengkeh, kayu manis, dan kopia. Hal tersebut menjadi daya tarik pedagang-pedagang dari pedalaman Minangkabau berdatangan.

"Para pedagang tersebut sering singgah dan diizinkan menginap di masjid ini," tulis Mas'oed Abidin dalam Ensiklopedia Minangkabau.

Tak hanya disinggahi oleh para saudagar, Masjid Raya Ganting juga ramai didatangi oleh jemaah calon haji. Mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan manasik haji di sini.

Materi bimbingan haji tersebut diberikan oleh seorang pria asli Arab Saudi "Dia terkenal dengan nama Tuanku Syekh Arab," tulis Buya Hamka dalam Ayahku. Nama sebenarnya adalah Abdul Hadi.

Abdul Hadi dekat dengan tokoh adat dan pejabat Belanda. Ia juga dekat dengan ulama tradisional Syekh Khatib Ali. Bahkan, Syekh Khatib Ali menjadikan ia sebagai menantunya.

Saat propaganda komunisme di Sumatra kian kuat, Abdul Hadi memberikan khotbah Jumat dalam bahasa Melayu di masjid yang berisi ajakan untuk tidak ikut dalam gerakan komunis. Namun, belakangan, ia terlibat perdebatan masalah ikhtilaf dengan Syekh Adam Balai-Balai di Padang Panjang.

Pada suatu waktu, ia berkhotbah di mimbar Masjid Raya Ganting sambil membawa kapak dan berseru mengancam Syekh Adam. Akibat peristiwa ini, polisi Hindia Belanda mengamankannya dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa di Sabang.

Arena Debat Ulama dan Dua Hari Raya

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Masjid Raya Ganting pernah menjadi arena perdebatan antara ulama Minangkabau yang terbagi menjadi Kaum Tua dan Kaum Muda. Perbedaan pandangan dalam masalah ikhtilaf hingga metode menentukan awal bulan membuat umat Muslim sempat terbelah.

Konflik tersebut berawal ketika Abdullah Ahmad, seorang ulama reformis representasi Kaum Muda, mulai mengajar di Masjid Raya Ganting pada tahun 1906. Ia menggantikan kedudukan pamannya yang meninggal, yakni Syekh Gapuak, yang merupakan salah seorang pendiri masjid.

Sebagai pendukung pembaruan dalam beragama, Abdullah Ahmad menentang persoalan tarekat dan rabithah yang merupakan amalan ulama trandisionalis atau Kaum Tua.

Pengajaran Abdullah Ahmad mendapat banyak pengikut, termasuk Imam Masjid Raya Ganting bernama Haji Talib. Sayangnya, Abdullah Ahmad tidak mendapat tempat di hati ulama Kaum Tua. Akhirnya, pada tahun 1909, Abdullah Ahmad pindah mengajar dan mendirikan Adabiyah School.

Pada tahun 1919,  Syekh Khatib Ali yang merupakan seorang ulama dari Kaum Tua memboikot posisi Haji Talib. Lantaran masalah ikhtilaf, Kaum Tua menolak salat Jumat dengan Haji Talib dan pindah ke Surau Syekh Khatib Ali—padahal surau bukan tempat salat Jumat.

Peristiwa ini membuat BJO Schrieke, pejabat Hindia Belanda di Padang, turun tangan. Ia mempertemukan kedua belah pihak untuk mencari solusi. Di antara hasil pertemuan yakni, mengangkat dua imam di Masjid Raya Ganting, masing-masing mewakili Kaum Tua dan Kaum Muda.

Bahkan, karena ada perbedaan menentukan awal bulan dalam Islam antara Kaum Tua dan Kaum Muda, salat Id saat Hari Raya Idul Fitri di Masjid Raya Ganting berlangsung pada dua hari yang berbeda. Satu pada 1 Syawal menurut penanggalan ulama Kaum Tua, dan satunya lagi versi ulama Kaum Muda.

Namun, perseteruan antara dua kelompok Kaum Tua dan Kaum Muda tidak berlangsung lama. Ketegangan antara mereka segera melebur dalam usaha bersama melawan kolonialisme Belanda dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Rapat Raksasa Para Penghulu

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Masjid Raya Ganting dalam sejarahnya tidak hanya memiliki arti penting bagi para saudagar dan ulama, melainkan juga bagi para pemimpin tradisional atau penghulu di Padang

Mereka menjadikan masjid ini sebagai tempat mereka berkumpul dan merapatkan persoalan yang terjadi di masyarakat.

Pada 23 April 1922, para penghulu mengadakan upacara di sini. Banyak undangan yang hadir. Rusli Amran dalam Padang Riwayatmu Dulu menyebut peristiwa itu sebagai "demonstrasi para penghulu".

Saat itu, para penghulu menyuarakan protes atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang mengurangi peran pemimpin tradisional dalam pemerintahan. Mereka menuntut hak-hak istimewa mereka yang dulu, sekaligus memperingatkan Belanda akan bahaya yang mungkin timbul dari Kaum Muda.

Para Pejuang Kemerdekaan

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Masjid Raya Ganting juga menjadi saksi berbagai peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa awal pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942, Seokarno berada di Padang selama beberapa hari. Ia menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting dan sempat memberikan pidato di masjid.

Dalam pidatonya di Padang, Soekarno menghimbau rakyat agar tidak mengadakan perlawanan terhadap tentara Jepang karena kekuatan yang ada tidak sebanding. Menurut Soekarno, bangsa Indonesia harus memanfaatkan Jepang untuk mencapai cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Melalui sikap kooperatifnya, Soekarno berhasil mencegah tindakan kasar tentara Jepang terhadap rakyat Sumatra Barat.

Di Sumatra Barat, Jepang berupaya mengerahkan tenaga penduduk untuk kepentingan Jepang, di antara lewat kesatuan tentara pribumi bernama Giyugun.

Padang menjadi markas besar Giyugun di Sumatra Barat dan Masjid Raya Ganting menjadi salah satu tempat latihan perang para prajurit.

Setelah tentara Sekutu mendarat di Sumatra, banyak tentara Inggris dari kesatuan tentara Muslim India membelot dan bergabung dengan tentara rakyat setempat. Mereka mengatur strategi penyerangan dari masjid ini, termasuk penyerangan ke salah satu tangsi militer Inggris dari kesatuan Gurkha. Ketika seorang prajurit Muslim itu tewas dalam perkelahian di markas militer yang hanya berjarak 200 meter dari masjid, jenazahnya disemayamkan di Masjid Ganting.

Akhir Kejayaan

Masjid Raya Ganting bak benteng yang berdiri kokoh menjelajah waktu dan menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Kota Padang.

Meskipun melewati berbagai peristiwa bersejarah, Masjid Raya Ganting akhirnya harus kehilangan masa kejayaan.

Pasca-pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958, pamor masjid ini meredup. Pengawasan Masjid Raya Ganting yang semula di bawah otoritas adat kini berada di bawah Pemerintah Kota Padang. Meskipun demikian, kepengurusan masjid tetap dipegang oleh masyarakat Ganting.

Kini, bangunan Masjid Raya Ganting masih terpelihara dengan baik walaupun sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi tahun 2005 dan 2009. Masjid ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia dan menjadi daya tarik wisata di Kota Padang. [den]

Baca Juga

Masjid Tua Padukuan merupakan masjid tertua di Nagari Padukuan, Kabupaten Dharmasraya yang selesai dibangun pada tahun 1938.
Masjid Tua Padukuan, Nasibnya Kini
Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Bersih dan nyaman, demikian fasilitas ibadah yang ingin dihadirkan oleh pengurus Masjid Jamik Nurul Huda di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang.
Beribadah di Masjid Jamik Nurul Huda Padang Panjang yang Bersih dan Nyaman
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Masjid Tuo Ampang Gadang terancam ambruk. Masjid yang berusia hampir dua abad ini kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masjid Tuo Ampang Gadang, Cagar Budaya yang Terancam Ambruk
Masjid Istiqamah adalah masjid tertua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-19.
Masjid Istiqamah, Masjid Tertua di Sawahlunto