Suluah.com – INS Kayutanam mengalami masa krisis berupa terhentinya proses belajar mengajar selama periode pendudukan Jepang di Indonesia. Akibatnya, para siswa kembali pulang ke orang tua mereka.
Begitu pula hanya pada masa awal kemerdekaan. Kegiatan belajar dan mengajar belum kembali normal karena segala perhatian dan usaha tercurah untuk menjaga kemerdekaan.
Vakum Masa Pendudukan Jepang
Pemerintah pendudukan Jepang sebenarnya tidak melarang penuh kegiatan belajar di INS Kayutanam, tetapi situasi saat itu tidak memungkin untuk menyelenggarakan pendidikan.
Alat-alat dan bahan-bahan penunjang kegiatan belajar susah didapatkan, sementara waktu kegiatan belajar terpakai untuk kegiatan gotong-royong membersihkan kompleks sekolah.
Krisis berlanjut pada perang kemerdekaan lantaran sekolah ini menjadi markas bagi para pejuang kemerdekaan mengatur strategi mereka melawan tentara Belanda yang berusaha kembali menjajah Indonesia.
Pemanfaatan Fasilitas INS Kayutanam
Sebagai sebuah usaha untuk mendukung diplomasi pengakuan kemerdekaan Indonesia, Mohammad Sjafei mendirikan Ruang Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Padang Panjang.
Sebanyak 50 orang siswa INS Kayutanam terlibat membangun gedung Ruang Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Padang Panjang.
Di sana, diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan dan kesenian seperti perpustakaan, museum kerajinan tangan daerah, sandiwara rakyat, sendratari, dan berbagai bentuk kesenian lainnya.
Untuk menjalankan berbagai kegiatan tersebut, Mohammad Sjafei memanfaatkan alat-alat dan fasilitas yang tersedia di INS Kayutanam.
Pembumihangusan
Pada masa Agresi Militer Belanda I, kegiatan pembelajaran INS Kayutanam berjalan seadanya karena para pejuang kemerdekaan menggunakan kompleks sekolah sebagai markas pergerakan. Sementara itu, Mohammad Sjafei bersama ibu angkatnya, Khalijah mengungsi untuk sementara waktu ke Nagari Gunung, Padang Panjang.
Kondisi kian parah ketika Agresi Militer Belanda II. Proses belajar mengajar berhenti keseluruhan. Bahkan, ada upaya Belanda untuk menduduki INS Kayutanam untuk kepentingan mereka mengingat lokasinya yang strategis.
Baca juga: Sejarah INS Kayutanam (4): Zaman Perang Hingga Integrasi ke Sistem Pendidikan Nasional
Agar kompleks sekolah berikut segala fasilitasnya tidak jatuh ke tangan Belanda, Mohammad Sjafei merekalan INS Kayutanam dibumihanguskan oleh tentara Indonesia. Keputusan tersebut ia ambil menerima surat permohonan dari tentara Indonesia.
Pihak tentara berjanji akan membangun kembali kompleks sekolah setelah kondisi pulih, sebagaimana termaktub dalam Surat Keterangan No. 27/Gos/12/SR.IV./S/52 dari Resimen IV Banteng dan Sub Teritorial IV tertanggal 16 April 1952. [den]










