Masjid Syekh Amrullah, Saksi Perjalanan Dakwah Kekek Buya Hamka

Berdiri sejak 1717, Masjid Syekh Amrullah telah melewati masa tiga abad. Masjid ini menjadi saksi perjalanan dakwah Amrullah, kakek Hamka.

Masjid Syekh Amrullah.

Suluah.com – Masjid Syekh Amrullah terletak di Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Masjid ini berdiri sejak tahun 1717.

Nama masjid ini, yakni Amrullah diambil dari nama kakek Hamka, Muhammad Amrullah. Di sinilah, pusat pengembangan ajaran Islam di Nagari Sungai Batang pada masa dulunya.

Sejarah Masjid Syekh Amrullah

Kehadiran masjid di Minangkabau pada masa lampau tak terlepas dari sejarah nagari tempatnya berada. Begitu pula dengan Masjid Syekh Amrullah. Masjid ini merupakan masjid pertama di Nagari Sungai Batang.

Kehadiran masjid merupakan penanda awal berdirinya sebuah nagari. Sebab, salah satu syarat nagari di Minangkabau dapat berdiri adalah masjid. Oleh sebab itulah, masjid ini awalnya bernama Masjid Nagari.

Menurut data di situs Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Masjid Syekh Amrullah pertama kali berdiri pada tahun 1717. Itu berarti eksistensinya sudah melewati masa tiga abad.

Historiografi mengenai masjid ini dapat kita temukan dalam catatan Hamka di bukunya, Ayahku, dan artikel Ikhwan Zober di majalah Panji Masyarakat tahun 1991.

Bangunan Awal dan Perubahan

Sebagaimana masjid tradisional Minangkabau, masjid ini semula memiliki bentuk bangunan sederhana. Dindingnya terbuat dari papan dan atapnya berbahan ijuk.

Dalam perjalanannya, terjadi beberapa kali perbaikan yang mengubah bentuk bangunan. Menurut catatan Ikhwan Zober tahun 1991, perubahan bentuk terakhir saat itu adalah pada masa Syekh Amrullah tahun 1886.

Seiring waktu, beberapa materail diganti. Dinding papan berganti menjadi batu, sementara atap ijuk berganti menjadi seng. Pekerjan atap terjadi tahun 1930.

Menurut catatan Hamka dalam buku Ayahku, masjid di sekeliling Danau Maninjau banyak yang diperbaiki dan diperbarui menjadi baru sejak kepulangan ayah Hamka, yakni Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul pada 1906.

Menara dibangun setelah selesai bangunan masjid. Gaya menaranya khas dapat kita temukan pada masjid tua lainnya di Minangkabau dari periode sezaman.

Ketika Ikhwan Zober menulis tahun 1991, kondisi bangunan masjid sudah sangat memprihatinkan. Atapnya banyak yang hancur. Kayunya banyak yang lapuk karena usia. Beberapa bagian dinding retak dan hancur akibat gempa bumi.

"Oleh karena itu melihat kondisi mesjid yang seperti itu rasanya membutuhkan tanggung jawab kita umat Islam agar mengulurkan tangan untuk memberikan kontribusi baik berupa materi maupun pikiran," seru Ikhwan Zober.

Meski kembali mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada tahun 2009, bentuk bangunan masjid ini tetap mempertahankan bentuk dari masa Syekh Amrullah.

Mengenal Muhammad Amrullah

Masjid ini menjadi saksi perjalanan dakwah Muhammad Amrullah. Di sinilah, kakek Hamka tersebut berdakwah dan menggembleng umat.

Muhammad Amrullah lahir tahun 1840. Ayahnya bernama Tuanku Abdullah Saleh, murid Tuanku Pariaman atau bernama asli Abdullah Arif.

Sebelum Muhammad Amrullah lahir, masjid ini sudah berdiri. Hamka menceritakan, Tuanku Pariaman yang pertama kali membuat pengajian di sini. Pengajiannya selalu ramai.

"Sekitar 120 damar togok dipasang setiap malam untuk menerangi pengajian [Tuanku Pariaman] yang diikuti oleh puluhan lebai dan tuanku," demikian kata ayah Hamka menggambarkan. Saking ramainya, "bunyi suara orang menderas kaji [di masjid ini] seperti lebah terbang!"

Sepeninggal Tuanku Pariaman, Muhammad Amrullah melanjutkan estafet dakwahnya. Hamka mencatat, kakeknya itu mendapat ijazah langsung dari Tuanku Pariaman pada tahun 1864 untuk mengajar ilmu tafisr, fiqih, tasawuf, dan ilmu alat untuk membaca kitab kuning.

Sejak saat itu, tulis Hamka, ramailah orang datang belajar kepada Muhammad Amrullah. Namanya kian terkenal di Maninjau dan masyarakat menamakan masjid ini sebagai Masjid Syekh Amrullah.

Muhammad Amrullah wafat dalam usia 70 tahun pada tahun 1909. Makamnya dapat kita temukan di sisi timur masjid di pendakuan bukit.

Baca juga: Masjid Ummil Qura, Masjid Tua Beratap Payung Terkembang 

Sekitar tahun 1925, masjid ini menjadi salah satu basis organisasi lokal bernama Sandi Aman, yang menjadi cikal bakal cabang Muhammadiyah di Sungai Batang.

"Karena Sungai Batang skopnya sangat kecil dan hubungan keluar sangat sulit, maka sebagian mereka pindah ke Padang Panjang," tulis Ikhwan Zober. [den]

[den]

Baca Juga

Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Surau Anjuang Tanah Sirah yang Berusia Lebih dari Seabad Nyaris Roboh
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Cerita Masjid Tua yang "Hilang" di Galogandang Tanah Datar
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Wanita Sungai Limau, Lahir dari Semangat 'Aisyiyah
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Masjid Syuhada Sariak, Kokoh Tanpa Besi
Ruang salat Masjid Tajul Arifin Padang
Melihat Sejarah Islam di Pauh dari Masjid Tajul Arifin