Masjid Ummil Qura, Masjid Tua Beratap Payung Terkembang

Masjid Ummil Qura terletak di tepi Danau Maninjau. Bangunannya didirikan pada tahun 1907 dan sudah mengalami perombakan dari bentuk awalnya.

Masjid Ummil Qura.

Suluah.com – Sebagai salah satu basis syiar Islam di Minangkabau, Maninjau memiliki banyak masjid bersejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Di antaranya adalah Masjid Ummil Qura.

Masjid Ummil Qura berlokasi persis di pinggir Danau Maninjau, tepatnya di Jorong Bancah. Berdasarkan keterangan dari papan nama yang ada, masjid ini berdiri sejak tahun 1907. Berikut kisahnya!

Sejarah

Masjid Ummil Qura terletak di tepi Danau Maninjau. Bangunannya didirikan pada tahun 1907 dan sudah mengalami perombakan dari bentuk awalnya.

Bentuk awal Masjid Ummil Qura.

Cikal bakal Masjid Ummil Qura berawal dari sebuah masjid di sekitar perbukitan Jorong Bancah. Hal itu mengingat semula masyarakat banyak yang tinggal di lereng perbukitan. Namun, karena sesuatu hal, lokasi masjid berpindah ke tepi danau seperti sekarang.

Adapun masjid di lokasi yang sekarang, bangunannya berdiri sejak tahun 1907. Menurut catatan Hamka dalam buku Ayahku, pada sekitar tahun tersebut masjid di sekeliling Danau Maninjau banyak yang diperbaiki dan diperbarui menjadi baru.

Nama masjid ini, yakni Ummil Qura berasal dari bahasa Arab yang berarti ibu atau pusat negeri. Pasalnya, masjid ini tak hanya menjadi pusat keagamaan, tetapi juga kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan adat Minangkabau.

Bangunan masjid ini sudah mengalami perombakan dibandingkan bentuk awalnya. Perombakan yang dilakukan meliputi pembuatan lorong di sekeliling masjid dan penggantian atap.

Arsitektur

Masjid Ummil Qura terletak di tepi Danau Maninjau. Bangunannya didirikan pada tahun 1907 dan sudah mengalami perombakan dari bentuk awalnya.

Ruang salat.

Secara umum, bentuk masjid ini tak jauh berbeda dengan masjid lainnya di tepi Danau Maninjau, seperti Masjid Raya Maninjau dan Masjid Al-Ihsan Gasang. Masjid ini memiliki atap bersusun dan berbentuk payung terkembang.

Baca juga: Masjid Raya Kubu Sungai Batang dan Perdebatan Saat Pembangunannya

Menurut tata ruangnya, masjid ini terdiri dari tiga bagian, yakni ruang utama yakni berfungsi sebagai ruang untuk salat, ruang beranda yang menghadap ke jalan, dan ruang mihrab yang menghadap ke danau.

Pada teras berbentuk lorong yang mengelilingi bangunan, kita dapat melihat bentuk lengkung di antara pilar di sepanjang sisinya. Lengkung ini terbuat dari bata dengan sedikit profil mengikuti lengkungan yang ada. Di bawahnya, terdapat pagar dari bata dan pagar besi. (den)

Baca Juga

Masjid Jamik Sungai Jariang terletak di Jorong Sungai Jariang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Masjid Jamik Sungai Jariang Berusia Seabad Berkubah Kuning Cemerlang
Tabuah masih dapat kita jumpai hingga sekarang, terutama di surau atau masjid tua di Sumatra Barat
Tabuah di Minangkabau, Dari Penanda Waktu Salat Hingga Perang
Buchari Tamam adalah seorang ulama, pengajar, dan aktivis dakwah Indonesia. Bersama Mohammad Natsir, ia ikut mendirikan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII).
Buchari Tamam, Aktivis DDII dan Rektor IAI Al-Ghurabaa
Surau Ilia Binaul Iman di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Surau Ilia Binaul Iman Koto Gadang
Masjid Tua Padukuan merupakan masjid tertua di Nagari Padukuan, Kabupaten Dharmasraya yang selesai dibangun pada tahun 1938.
Masjid Tua Padukuan, Nasibnya Kini
Abdul Latif Syakur adalah seorang ulama ahli tafsir yang berkiprah dalam pemajuan pendidikan perempuan dan pers. Ia membidani lahirnya majalah Islam umum, Pewarta Islam, dan majalah Islam khusus perempuan, Djauharah.
Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan