Buchari Tamam, Aktivis DDII dan Rektor IAI Al-Ghurabaa

Buchari Tamam adalah seorang ulama, pengajar, dan aktivis dakwah Indonesia. Bersama Mohammad Natsir, ia ikut mendirikan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII).

Buku biografi Buchari Tamam. [Foto: Ist.]

Suluah.com – Buchari Tamam adalah seorang ulama, pengajar, dan aktivis dakwah Indonesia. Bersama Mohammad Natsir dan beberapa orang tokoh Masyumi lainnya, ia ikut mendirikan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII), dan dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal.

Ia juga merupakan salah seorang pendiri Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Ghurabaa yang mengelola Institut Agama Islam (IAI) Al-Ghurabaa, Jakarta dan menjabat sebagai rektor perguruan tersebut.

Kehidupan Awal

Buchari Tamam lahir di Nagari Balingka, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 4 Juli 1922. Ayahnya, Tamam Gelar Sutan Sulaiman, bekerja sebagai penjahit pakaian, sedangkan ibunya, Ramlah adalah seorang petani.

Pada umur tujuh tahun, ia ikut orang tua pindah ke Solok. Ia belajar di Sekolah Desa pada pagi hari dan Diniyah School pada sore hari. Setelah itu, ia masuk ke Vervolgschool.

Semasa menjadi pelajar Diniyah School, jiwa aktivismenya tumbuh. Ia bergabung ke Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS) Solok dan menjadi sekretaris. Buchari pernah diinterogasi oleh pihak kepolisian Belanda karena aktivitasnya di organisasi tersebut.

Merantau ke Padang

Pada 1938, Buchari Tamam masuk ke Islamic College milik Persatuan Muslimin Indonesia PERMI di Padang. Untuk memenuhi biaya hidup, ia terkadang bekerja sebagai penjahit di toko Iljas Sutan Mentari, ayah Karni Ilyas.

Di luar kesibukannya belajar, ia aktif berorganisasi dengan berganung di PERMI dan menulis di surat kabar. Ia misalnya menjadi Ketua Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) Padang pada 1939. P

ada 1941, ia memimpin majalah Raya, majalah pelajar Islamic College yang menjadi wadah para siswa mengajukan pendapat dan gagasan mereka sosial dan kemasyarakatan.

Menantu Syekh Daud Rasyidi

Tamat dari Islamic Collage pada 1943, Buchari Tamam pulang kampung dan menjadi guru di tsanawiyah Taman Raya milik PERMI. Ia juga berceramah dan menyemarakkan masjid dengan berbagai kegiatan agama.

Kiprahnya menarik perhatian Syekh Daud Rasyidi, sehingga ia diambil menjadi menantu. Buchari menikah dengan Rahmah pada 13 Maret 1944. Kelak, mereka dikaruniai tujuh orang anak, yakni Warnita, Sukarman Muhammad Rdiha, Shafwani, Irvan, Ansari, Ulfa, dan Yusra.

Aktivis Pemuda

Setelah proklamasi kemerdekaan, Buchari Tamam memimpin Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) cabang Sumatra Tengah. Meskipun kebanyakan pengurus GPII adalah orang Masyumi, ia menyatakan GPII independen dan merangkul seluruh kekuatan umat Islam.

Selama perang pasca-kemerdekaan, ia menyerukan persatuan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan dari mimbar ke mimbar. Pada 1947, ia bersama Tamar Djaja mendirikan majalah Genderang Syahid di bawah Bagian Penerangan Legiun Syahid.

Seiring dengan penggabungan laskar rakyat ke unit tentara reguler, Buchari ditarik ke Dinas Agama Tentara. Di sini, ia memberi bimbingan keagamaan dan mengobarkan semangat perjuangan para tentara.

Bergabung ke Partai Masyumi

Setelah revolusi kemerdekaan, Buchari Tamam sempat terjun ke politik melalui Partai Masyumi. Pada 1952, ia terpilih menjadi Sekretaris Masyumi Sumatra Tengah. Namun, jabatan tersebut ia lepas karena ingin concern terhadap persatuan umat Islam.

Setelah itu, ia turut memprakarsai Kongres Alim-Ulama se-Sumatra di Bukittinggi, Sumatra Barat (14-17 Maret 1957) yang berlanjut dengan Muktamar Ulama se-Indonesia di Palembang, Sumatra Selatan (8-11 September 1957).

Inisiator Darul Hikmah

Ia juga mulai menaruh perhatian di bidang pendidikan dengan menjadi salah seorang inisiator pendirian perguruan tinggi Islam Darul Hikmah (cikal bakal UIN Imam Bonjol Padang). Dalam kepanitian yang dibentuk pada 1952 di bawah pimpinan Nasruddin Thaha, Buchari didapuk sebagai sekretaris.

Darul Hikmah resmi memulai perkuliahan pada 16 Maret 1953. Sayangnya, perguruan tersebut tidak sempat menghasilkan sarjana, karena pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958. Buchari turut bergabung dengan PRRI, mengiringi Mohammad Natsir ijok di rimba-rimba, sebelum mereka menyerahkan diri pada 1961.

Yayasan Kesejahteraan

Pasca-PRRI, Buchari Tamam vakum dari kegiatan politik. Ia pulang kampung menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat yang terpuruk akibat perang. Pada 10 April 1963, ia bersama Natsir mendirikan Yayasan Kesejahteraan di Bukittinggi yang memiliki berbagai kegiatan usaha untuk membantu masyarakat yang kehilangan sumber pendapatan.

Kegiatan-kegiatan yayasan mendapat sokongan dana dari banyak pihak, salah satunya Yayasan Tuanku Imam Bonjol di Medan pimpinan Jenderal A. Thalib.

Masih bersama Natsir, berikutnya ia terlibat dalam pendirian DDII pada 26 Februari 1967. Buchari duduk sebagai sekretaris. Ia juga menggiatkan aktivitas penulisan di DDII dengan menjadi pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi Media Dakwah, organ resmi DDII.

Mendirikan YPI Al-Ghurabaa

Di mana ia berada, Buchari Tamam tak bisa lepas dari kegiatan dakwah dan masjid. Saat di Jakarta, ia tinggal dekat Masjid Al-Ghurabaa, Rawamangun. Selain berdakwah dan membina umat, ia menyemarakkan masjid dengan berbagai kegiatan, seperti koperasi, poliklinik, dan bimbingan tes untuk para calon mahasiswa.

Baca juga: Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan

Ia juga memfasilitasi bantuan dana dari seorang muhsinin Kuwait untuk pemugaran masjid pada 1968. Berikutnya, pada 19 April 1971, ia mendirikan dan memimpin YPI Al-Ghurabaa. Yayasan tersebut menaungi jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, salah satunya IAI Al-Ghurabaa yang berdiri pada 1988.

Buchari mengurus yayasan dan menjadi Rektor IAI Al-Ghurabaa hingga wafat pada 31 Desember 1994 dalam usia 72 tahun. [den]

Baca Juga

Surau Ilia Binaul Iman di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Surau Ilia Binaul Iman Koto Gadang
Abdul Latif Syakur adalah seorang ulama ahli tafsir yang berkiprah dalam pemajuan pendidikan perempuan dan pers. Ia membidani lahirnya majalah Islam umum, Pewarta Islam, dan majalah Islam khusus perempuan, Djauharah.
Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan
Akmal Nasery Basral adalah seorang pengarang fiksi Indonesia. Ia menulis lintas genre mulai dari fiksi ilmiah, sejarah, dan thriller. Ia telah menerbitkan 22 novel dan dua kumpulan cerpen.
Perjalanan Akmal Nasery Basral, Novelis yang Tekun Menggarap Genre Sejarah
Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh atau Inyiak Abbas adalah seorang ulama Minangkabau yang berjasa dalam modernisasi pendidikan Islam. Ia mendirikan Arabiyah School di Ladang Lawas pada 1918
Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Ulama Kaum Tua yang "Modernis"
Achmad Soebardjo adalah seorang diplomat dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (2 September 1945–14 November 1945) dalam Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama.
Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Indonesia Pertama