Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan

Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan

Edisi Sinar Sumatra tahun 1928.

Suluah.com – Terbit sejak 1905 sampai 1942, Sinar Sumatra merupakan surat kabar Tionghoa peranakan berbahasa Melayu paling panjang umurnya di luar Jawa. Ia menyuarakan kepentingan melampaui sekat etnis dan bangsa. Berbagai tantangan baik yang mempengaruhi bisnis maupun redaksi mampu dilewati selama hampir empat dasawarsa.

Sejauh ini, belum ada peneliti yang berfokus pada salah satu surat kabar terbesar di Sumatra ini. Bagaimana sejarahnya? Berikut temuan awal berdasarkan penelitian yang tengah dilakukan oleh Rahmat Irfan Denas sebagai tesisnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).

De Volharding dan Awal Kemunculan

Lampiran Gambar
Pemilik De Volharding: Lie Djoe Soean, M. A. van Tijn, dan Tiauw Kie Lie.

Sebelum menjadi harian, Sinar Sumatra awalnya terbit dua kali seminggu, yakni setiap Rabu dan Sabtu. Edisi perdananya terbit mulai pada 4 Oktober 1905, setelah diawali nomor contoh pada 6 September 1905. Dari empat halaman, dua halaman berisi iklan.

Sinar Sumatra dicetak oleh De Volharding. Pemiliknya semula adalah dua orang Eropa, yakni M. A. van Tijn dan Ijsbrand Rogge. M. A. van Tijn awalnya menjalankan usaha sendiri sebagai penjilid buku. Sementara itu, Ijsbrand Rogge merupakan ahli eksplorasi pertambangan. Ia memiliki sebuah mesin cetak kecil yang dibelinya dari seorang pengusaha Tionghoa di Natal.

Tahun 1902, M. A. van Tijn dan Ijsbrand Rogge bekerja sama mendirikan De Volharding. Saat meninggalkan Padang pada tahun 1908, Ijsbrand Rogge melepas kepemilikannya. Bisnis De Volharding selanjutnya dijalankan secara bersama dalam perserikatan yang terdiri atas Lim Ang Kam, Lie Djoe Soean, M. A. van Tijn, dan Lim Tjeng Djit.

Redaksi Sinar Sumatra

Lampiran Gambar
Para redaktur Sinar Sumatra tahun 1929: Marah Soeleiman Soetan Moeliaa, Jap Gim Sek, Oei Goan Po.

Pemimpin redaksi pertama Sinar Sumatra adalah Lim Soen Hien, seorang jurnalis peranakan Tionghoa asal Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Sebelumnya, ia pernah menjadi redaktur Bintang Sumatra (yang berumur pendek) dan Tjaja Sumatra.

Lim Soen Hien menjalankan dapur redaksi nyaris seorang diri (tanpa redaktur). Namun demikian, ia berhasil memperluas jangkauan pembaca dan pelanggan Sinar Sumatra. Ia juga meningkatkan frekuensi penerbitan menjadi harian, kecuali hari Minggu dan hari besar.

Lim Soen Hien memimpin selama delapan tahun. Setelah itu, sejak 1915 sampai 1922, silih berganti yang menahkodai Sinar Sumatra. Mereka adalah Tan Soei Beng, Oeij Siauw Tjong, Phoa Tjhoen Hoay, Phoa Tjoen Hoat, dan Lim Khoen Hian. Masa kepemimpinan mereka realtif singkat, tidak seperti Lim Soen Hien.

Salah satu faktor yang menyebabkan seringnya pergantian pemimpin redaksi adalah perkara delik pers. Barulah, pada akhir tahun 1922, Sinar Sumatra kembali mendapat pemimpin redaksi yang memiliki "napas panjang". Ia adalah Jap Gim Sek (1922-1928 dan 1929-1933).

Jap Gim Sek tak terlepas pula dari ranjau delik pers. Perkara yang menimpanya sempat membuat hubungannya dengan direksi perusahan memburuk. Pada Agustus 1928, ia bersama seluruh anggota redaksi mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Beberapa redaktur pengganti hanya bertahan dalam waktu singkat.

Jap akhirnya kembali memimpin redaksi pada April 1929. Selepas Jap Gim Sek hengkang tahun 1931, jabatan pemimpinan redaksi beralih ke Jap Gin Seng, Boerhanoeddin, dan Arief Loebis. Pergantian ini memperlihatkan adanya pergeseran kepemimpinan redaksi dari kalangan Tionghoa ke Bumipuetra.

Pengaruh dan Penerimaan Sinar Sumatra

Lampiran Gambar
Suasana Pondok Padang sebelum kebakaran besar 1923.

Sepanjang masa terbitnya, Sinar Sumatra menghadapi berbagai tantangan yang berdampak pada bisnis dan redaksi. Di antaranya persaingan sengit surat kabar, perpindahan kepemilikan, kasus hukum terkait delik pers, dan terpaan malaise. Semua itu tak terlepas dari kecakapan direksi dan redakturnya.

Menilik daftar surat kabar yang terbit di Padang, hanya tiga yang memiliki usia relatif panjang. Tiga surat kabar tersebut Sumatra Bode (1892-1941), Sinar Sumatra (1905-1942), dan Tjaja Sumatra (1899–1933), Secara kebetulan, masing-masing mewakili atau memiliki corak yang berbeda, yakni pers Eropa, Melayu-Tionghoa, dan Bumiputra.

Meskipun pada masa awal oplahnya tidak sebanyak surat kabar lain, Sinar Sumatra tampaknya memiliki pembaca yang setia di kalangan Tionghoa-Padang. Namun, perhatian redaksi tidak terbatas pada persoalan komunitas Tionghoa semata, tetapi juga persoalan yang menyangkut kepentingan umum dan perkembangan pergerakan nasional.

Selain dari pembaca setia yang setia, iklan menjadi sumber pendapatan utama. Kajian Zillan Zalila dari Universitas Negeri Padang (UNP) tentang periklanan pers kolonial di Sumatra's Westkust periode 1900–1930 mencatat Sinar Sumatra sebagai surat kabar dengan jumlah iklan terbanyak di antara tujuh belas surat kabar yang diteliti.

Dalam perdebatan pers mengenai persoalan komunitas Tionghoa di Hindia Belanda, Sinar Sumatra menjadi salah satu surat kabar yang patut mendapat perhatian. Editorialnya kerap dikutip oleh surat kabar Melayu-Tionghoa lain, seperti Djawa Tengah.

Sebagai surat kabar hatian, rubrik beritanya selalu aktual dan beragam. Berita yang terjadi di Padang menjadi fokus utama, sebagaimana terlihat dalam penempatannya di awal rubrik. Sejumlah surat kabar di Hindia Belanda sering mengutip berita soal Padang, bahkan di Padang sendiri!

Kebakaran Pondok 1923

Lampiran Gambar
Suasana kantor Sinar Sumatra.

Sinar Sumatra pernah berhenti terbit untuk sementara setelah percetakan De Volharding terbakar dalam kebakaran besar pada Agustus 1923. Kebakaran tersebut berdampak pada ratusan rumah penduduk di Kampung Tionghoa, bermula dari seseorang yang mencoba menghancurkan sarang tawon, tetapi menjadi tidak terkendali akibat angin kencang.

Dengan dukungan percetakan Sumatra Bode, Sinar Sumatra dapat melanjutkan penerbitan sebelum akhirnya memiliki peralatan cetak baru dari Batavia. Karena peralatan baru tersebut adalah mesin cetak listrik yang lebih modern, perusahaan mengubah namanya menjadi Electrische Drukkerij en Papierhandel De Volharding.

Sinar Sumatra baru berhenti terbit jelang kedatangan Jepang di Padang pada tahun 1942. Namun, kapan pastinya surat kabar ini berhenti masih menjadi misteri. Temuan terakhir yang tercatat dalam katalog perpustakaan adalah Nomor 5 Januari 1942.

Sayangnya, pencapaian yang dimiliki Sinar Sumatra tidak sejalan dengan perhatian yang diberikan kepadanya dalam penulisan sejarah pers Sumatra Barat. Keberadaannya seoalah tenggalam di tengah pembahasan pers dalam pergerakan politik dan perkembangan nasionalisme. [den]

Baca Juga

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Padang.
Mengenal Gereja Advent di Padang
Kolam renang Belanda di Padang yang dibuka pada 29 Januari 1933
Kolam Renang Belanda di Padang Bertuliskan Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk
Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad, Ulama Reformis di Bidang Dakwah dan Pendidikan
Parendangan Nasution adalah seorang guru Indonesia yang saat ini menjadi Kepala SMA Negeri 10 Padang. Ia merupakan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP).
Parendangan Nasution, Guru dan Kepala SMA Negeri 12 Padang
Sari Lenggogeni
Sari Lenggogeni, Akademisi dan Pengamat Pariwisata Indonesia
Sitinjau Laut atau Sitinjau Lauik adalah ruas jalan yang terkenal memiliki tikungan tajam dan curam menghubungkan Kota Padang dan Solok.
Bagaimana Kelanjutan Proyek Jalan Layang Sitinjau Laut?