Merangkum Perjalanan Oetoesan Melajoe

Merangkum Perjalanan Oetoesan Melajoe

Oetoesan Melajoe. [Foto: Addi Arrahman]

Suluah.com – Oetoesan Melajoe merupakan surat kabar harian berbahasa Melayu di Padang pada masa Hindia Belanda. Ia terbit selama 15 tahun dari 1911 sampai 1926. Surat kabar ini semula keluar dua kali seminggu dan menjadi harian sejak 1915 melalui penggabungan surat kabar lain di percetakan yang sama.

Perubahan Oetoesan Melajoe terjadi sepeninggal pemimpin redaksinya, Datuk Sutan Maharadja pada 24 Juni 1921. Perubahan meliputi dari frekuensi terbit, kepemilikan, susunan redaksi, corak, hingga nama. Melalui artikel ini, penulis Rahmat Irfan Denas merangkum perjalanan Oetoesan Melajoe yang sebelumnya terpenggal-penggal.

Periode Awal

Pada awalnya, Oetoesan Melajoe keluar setiap Rabu dan Minggu. Nomor perdananya muncul tanggal 2 Januari 1911. Datuk Sutan Maharadja bertindak sebagai penanggung jawab redaktur. Di bagian administrasi, berrtugas Abdoel Manan Sutan Maharadja. Dalam perjanalannya, Sutan Mohamad Salim bergabung sebagai redaktur yang berkedudukan di Batavia.

Datuk Sutan Maharadja adalah pendiri Perserikatan Orang Alam Minangkabau. Sebelumnya, ia merupakan redaktur Warta Berita dan Tjaja Sumatra. Bagaimana perjalanan Datuk Sutan Maharadja di dunia pers ditulis oleh Addi Arrahman dari Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi di Jurnal Kafa'ah (2021) dan menjadi rujukan artikel ini.

Surat kabar ini semula dicetak di De Volharding, yang sejak 1905 telah menebirtkan Sinar Sumatra. Pada akhir 1911, Perserikatan Orang Alam Minangkabau membeli mesin percetakan dan mendirikan usaha percetakan di Pasa Gadang. Sejak itu, Oetoesan Melajoe dicetak sendiri.

Lihat pula: Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan

Percetakan Orang Alam Minangkabau sepenuhnya milik bumiputera. Hal ini membuat Oetoesan Melajoe berbeda dengan surat kabar berbahasa Melayu sebelumnya di Padang seperti Pertja Barat dan Warta Hindia yang menggunakan percetakan milik orang Eropa.

Surat kabar ini memasang tarif langganan f0,5 sebulan atau f6 setahun. Seperti rekan sezamannya di Padang, Oetoesan Melajoe terbit empat halaman dengan dua halaman berisi iklan. Pengiklan tidak hanya datang dari pedagang lokal, tapi juga pedagang yang memiliki usaha di Jawa.

Ediotiral atau artikel kiriman pembaca muncul di halaman pertama. Sesudah itu, terdapat beberapa rubrik, yakni berita, agama, dan cerita. Isi berita secara umum menyangkut soal perniagaan dan pendidikan.

Penggabungan dan Menjadi Harian

Pada awal 1915, surat kabar ini melebur dengan Soeara Ra'jat (1912-1913) dan Soeloeh Melajoe (1913-1914) yang dicetak di tempat yang sama. Dengan tetap memakai Oetoesan Melajoe, surat kabar ini terbit setiap hari kecuali Minggu, Jumat, dan hari libur. Tarif langganan naik jadi f1 per bulan.

Datuk Sutan Maharadja tetap menjadi pemimpin redaksi sampai wafat pada 24 Juni 1921. Redaktur yang tercatat pernah membantunya yakni: Sidi Maharadja (alias Chatib Maharadja), S. Maharadja Lelo, Dt. Mangkuto Alam, dan Sutan Raja Nan Gadang.

Penelitian yang berfokus pada Oetoesan Melajoe setelah menjadi harian dan sampai meninggalnya Datuk Sutan Maharadja telah dilakukan Abdul Cholik dalam skripsi "Pandangan Kaum Kuno terhadap Kaum Muda dalam Harian Oetoesan Melajoe (1915-1921)" di Universitas Indonesia.

Uniknya, dalam pembacaan Abdul Cholik, para redaktur Oetoesan Melajoe tidak selalu sejalan dengan pemahaman Datuk Sutan Maharadja. Bahkan, Sutan Raja Nan Gadang pernah menyindir Datuk Sutan Maharadja di surat kabarnya, Warta Hindia.

Sepeninggal Datuk Sutan Maharadja, Oetoesan Melajoe mengalami kemunduran dengan tidak lagi terbit harian, melainkan Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kepemimpinan diteruskan oleh Sidi Maharadja. Pada masanya, motto “Tegoehlah Setia Perserikatan Hati Antara Bangsa Anak Negeri Dengan Orang Wolanda” ditanggalkan.

Dalam perjalanan, Sidi Maharadja terjerat delik pers dan kempimpinan beralih S. Maharadja Lelo. Pada akhir Januari 1923, terjadi pemogokan pekerja Percetakan Orang Alam Minangkabau. Oetoesan Melajoe berhenti terbit sejak saat itu dan nanti akan kembali muncul dengan nama Oetoesan Melajoe Perobahan.

Oetoesan Melajoe Perobahan

Setelah tidak ada kabarnya selama enam bulan, Oetoesan Melajoe menyapa pembaca dengan nama baru, Oetoesan Melajoe Perobahan pada 5 Juli 1923. Sesuai namanya, surat kabar ini sepenuhnya berubah. Selain nama, terjadi perubahan pada kepemilikan, susunan redaksi, dan corak.

Oetoesan Melajoe tidak lagi milik Serikat Orang Alam Minangkabau. Dari penelusuran surat kabar sezaman, Abdoel Moeis telah membeli hak penerbitannya pada April 1923. Ia juga membeli Perobahan dari Tjia Eng Thiam. Hasil penggabungan keduanya itu melahirkan Oetoesan Melajoe Perobahan.

Temuan ini melengkapi kronologi yang "terputus" terkait perubahan nama sekaligus kepemilikan Oetoesan Melajoe agar tidak terjadi anakronisme, seperti uraian Ensiklopedia Sejarah Indonesia. Situs tersebut menyebut perubahan terjadi tahun 1922 dan Abdoel Moeis (yang berada di Padang tahun 1923) menggusur Datuk Sutan Maharadja (padahal sudah wafat tahun 1921).

Di bawah kempimpinan Abdoel Moeis, dewan redaksi surat Oetoesan Melajoe Perobahan terdiri dari A.M. Dt. Sinaro, A. Jahja, dan Hassan Noel Arifin. Perubahan ini, mengutip Abdul Cholik, sangat ironis. Sebab, Datuk Sutan Maharadja sebagai perintisnya dikenal sangat membenci Abdoel Moieis.

Pada akhir Desember 1923, penerbitan surat kabar ini kembali terhenti berhubung masalah poitik yang menjerat Abdoel Moeis. Surat kabar ini kembali muncul pada April 1924. Hassan Noel Arifin menjabat pemimpin redaksi sampai penerbitan terakhir pada pengujung 1926. "Tidak pernah diwartakan sebab dari berhentinya", demikian laporan Sinar Sumatra. [den]

Baca Juga

Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan
Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Padang.
Mengenal Gereja Advent di Padang
Kolam renang Belanda di Padang yang dibuka pada 29 Januari 1933
Kolam Renang Belanda di Padang Bertuliskan Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk
Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad, Ulama Reformis di Bidang Dakwah dan Pendidikan
Parendangan Nasution adalah seorang guru Indonesia yang saat ini menjadi Kepala SMA Negeri 10 Padang. Ia merupakan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP).
Parendangan Nasution, Guru dan Kepala SMA Negeri 12 Padang
Sari Lenggogeni
Sari Lenggogeni, Akademisi dan Pengamat Pariwisata Indonesia