Suluah.com – Oetoesan Melajoe merupakan surat kabar harian berbahasa Melayu di Padang pada masa Hindia Belanda. Ia terbit selama 15 tahun dari 1911 sampai 1926. Surat kabar ini semula keluar dua kali seminggu dan menjadi harian sejak 1915 melalui penggabungan dengan surat kabar lain di percetakan yang sama.
Perubahan Oetoesan Melajoe terjadi sepeninggal pemimpin redaksinya, Datuk Sutan Maharadja pada Juni 1921. Perubahan meliputi dari frekuensi terbit, kepemilikan, susunan redaksi, corak, hingga nama. Melalui artikel ini, penulis Rahmat Irfan Denas merangkum perjalanan Oetoesan Melajoe yang sebelumnya terpenggal-penggal.
Periode Awal
Pada awalnya, Oetoesan Melajoe keluar setiap Rabu dan Minggu. Datuk Sutan Maharadja bertindak sebagai penanggung jawab redaktur. Di bagian administrasi, berrtugas Abdoel Manan Sutan Maharadja. Dalam perjanalannya, Sutan Mohamad Salim bergabung sebagai redaktur yang berkedudukan di Batavia.
Percetakannya semula dilakukan di De Volharding, yang sejak 1905 telah menebirtkan Sinar Sumatra. Dalam perjalanannya, tempat percetakan pindah ke Pertjetakan Orang Alam Minangkabau yang didirikan pada akhir 1911 oleh perkumpulan bernama sama di Pasa Gadang,
Lihat pula: Sinar Sumatra: Napas Panjang yang Terbenam oleh Hiruk-Pikuk Pergerakan
Pertjetakan Orang Alam Minangkabau sepenuhnya milik bumiputera. Hal ini membuat Oetoesan Melajoe berbeda dengan surat kabar pendahulu di Padang seperti Pertja Barat dan Warta Hindia, yang meskipun pemimpinnya berasal dari bumiputera, tapi menggunakan percetakan milik orang Eropa.
Surat kabar ini memasang tarif langganan f0,5 sebulan atau f6 setahun. Seperti rekan sezamannya di Padang, Oetoesan Melajoe terbit empat halaman dengan dua halaman berisi iklan. Pengiklan tidak hanya datang dari pedagang lokal, tapi juga datang dari pedagang yang memiliki usaha di Jawa.
Ediotiral atau artikel kiriman pembaca muncul di halaman pertama. Sesudah itu, terdapat beberapa rubrik, yakni berita, agama, dan cerita. Berita yang keluar umumnya bertema perdagangan dan pendidikan.
Penggabungan dan Menjadi Harian
Pada awal 1915, surat kabar ini melebur dengan Soeara Ra'jat (1912-1913) dan Soeloeh Melajoe (1913-1914) yang dicetak di tempat yang sama. Dengan tetap memakai Oetoesan Melajoe, surat kabar ini terbit setiap hari kecuali Minggu, Jumat, dan hari libur. Tarif langganan naik jadi f1 per bulan.
Dengan adanya penggabungan tersebut, susunan redaksi bertambah. Datuk Sutan Maharadja tetap menjadi pemimpin redaksi sampai wafat pada Juni 1921. Redaktur yang tercatat pernah membantunya yakni: Sidi Maharadja (alias Chatib Maharadja), S. Maharadja Lelo, Dt. Mangkoeto Alam, dan Sutan Raja Nan Gadang.
Penelitian yang berfokus pada Oetoesan Melajoe pada periode saat menjadi harian dan di bawah kepemimpinan Datuk Sutan Maharadja telah dilakukan Abdul Cholik dalam skripsi "Pandangan Kaum Kuno terhadap Kaum Muda dalam Harian Oetoesan Melajoe (1915-1921)" di Universitas Indonesia.
Uniknya, dalam pembacaan Abdul Cholik, para redaktur Oetoesan Melajoe tidak selalu setuju dengan pemahaman Datuk Sutan Maharadja. Bahkan, Sutan Raja Nan Gadang, yang pernah menyindir Datuk Sutan Maharadja di Warta Hindia.
Sepeninggal Datuk Sutan Maharadja, Oetoesan Melajoe mengalami kemunduran dengan tidak lagi terbit harian, melainkan Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kepemimpinan diteruskan oleh Sidi Maharadja. Pada masanya, motto “Tegoehlah Setia Perserikatan Hati Antara Bangsa Anak Negeri Dengan Orang Wolanda” ditanggalkan.
Dalam perjalanan, Sidi Maharadja terjerat delik pers dan kempimpinan beralih S. Maharadja Lelo. Pada akhir Januari 1923, terjadi pemogokan pekerja Pertjetakan Orang Alam Minangkabau. Oetoesan Melajoe berhenti terbit sejak saat itu sebelum muncul kembali dengan nama Oetoesan Melajoe Perobahan.
Oetoesan Melajoe Perobahan
Setelah tidak ada kabarnya selama enam bulan, Oetoesan Melajoe menyapa pembaca dengan nama baru, Oetoesan Melajoe Perobahan pada 5 Juli 1923. Sesuai namanya, surat kabar ini sepenuhnya berubah. Selain nama, terjadi perubahan pada kepemilikan, susunan redaksi, dan corak.
Oetoesan Melajoe tidak lagi milik Serikat Orang Alam Minangkabau. Dari penelusuran surat kabar sezaman, Abdoel Moeis telah membeli hak penerbitannya pada April 1923. Ia juga membeli Perobahan dari Tjia Eng Thiam. Hasil penggabungan keduanya itu melahirkan Oetoesan Melajoe Perobahan.
(Temuan ini melengkapi kronologi yang "terputus" terkait perubahan nama sekaligus kepemilikan Oetoesan Melajoe agar tidak terjadi anakronisme, seperti pada entri "Oetoesan Melajoe" di situs Ensiklopedia Sejarah Indonesia. Entri tersebut menyebut perubahan terjadi tahun 1922 dengan cara menggusur Datuk Sutan Maharadja, yang sebenarnya sudah wafat).
Di bawah kempimpinan Abdoel Moeis, dewan redaksi terdiri dari A.M. Dt. Sinaro, A. Jahja, dan Hassan Noel Arifin. Perubahan ini, mengutip Abdul Cholik, sangat ironis. Sebab, Datuk Sutan Maharadja sebagai perintisnya dikenal sangat membenci Abdoel Moieis.
Pada akhir Desember 1923, penerbitannya terhenti sementara berhubung masalah poitik yang menjerat Abdoel Moeis. Surat kabar ini kembali muncul pada April 1924. Hassan Noel Arifin menjabat pemimpin redaksi sampai penerbitan terakhir pada akhir 1926. Oetoesan Melajoe berhenti terbit tanpa sebab yang jelas, demikian laporan Sinar Sumatra. [den]











