Masjid Nurul Iman Padang, Lambang Keamanan Pasca-PRRI, Pernah Dibom, dan Rencana Jadi Islamic Center

Masjid Nurul Iman Padang, Lambang Keamanan Pasca-PRRI, Pernah Dibom, dan Rencana Jadi Islamic Center

Masjid Agung Nurul Iman. [Foto: Rahmatdenas]

Suluah.com – Sekitar 63 tahun yang lalu, situasi Padang diliputi kekacauan. Hal itu bermula dari deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) oleh Ahmad Husein pada 15 Februari 1958.

Presiden Soekarno yang menganggap PRRI sebagai pemerintahan tandingan naik pitam. Pada 17 April 1958, pemerintah melancarkan operasi gabungan dengan tujuan utama Kota Padang untuk menumpas "pemberontakan". Hanya butuh tiga hari, daerah itu berhasil dikuasai oleh TNI.

Meskipun PRRI akhirnya dapat diredam, kondisi Kota Padang tak lagi tenang. "Suasana kini begitu mencekam, layaknya suasana perang," demikian kesaksian Gubernur Sumatra Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa dalam buku biografinya.

Di tengah situasi demikian, TNI "menghadiahi" Padang sebuah lahan mahal di pusat kota berukuran 150 x 100 meter. Di atasnya akan dibangun masjid sebagai upaya rekonsiliasi setelah penumpasan pemberontakan PRRI. Masjid itu kini dikenal dengan nama Masjid Nurul Iman.

Lambang Keamanan

Pembangunan Masjid Nurul Iman dimulai pada 26 September 1958, ketika jabatan Gubernur Sumatra Barat dijabat oleh Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Rencana semula, masjid akan diberi nama Nurul Aman yang dimaksudkan sebagai "lambang keamanan", mengingat situasi Padang yang diliputi kekacauan pasca-PRRI.

Tahap awal pembangunan meliputi pengerjaan pondasi tuntas pada 1960. Namun, sesudahnya, pembangunan berjalan lamban. "Warga enggan menyumbang dana untuk pembangunan masjid ini sehubungan dengan (ingatan mereka terhadap) invasi tentara pusat ketika memadamkan pemberontakan," tulis Hans-Dieter Evers dan Rudiger Korff dalam Urbanisme di Asia Tenggara.

Pada 1965, pengurus sudah memfungsikan masjid untuk Salat Jumat dengan memanfaatkan ruang darurat. Pada 10 Maret 1966, Gubernur Suputro Brotodihardjo mengeluarkan SK tentang penggantian nama masjid menjadi Nurul Iman.

Pembangunan Masjid Nurul Iman dapat dilanjutkan pada masa Orde Baru berkat bantuan pemerintah pusat. Pada 1976, pembangunan sudah mendekati fase penyelesaian.

Pada April 1977, pemakaian Masjid Nurul Iman diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amirmachmud. Saat itu, bangunannya terdiri dari dua lantai dengan luas masing-masing 2.700 m² dan 1.350 m².

Total dana yang sudah digunakan untuk pembangunan sekitar Rp300 juta, termasuk bantuan dari tentara dan infak dari jemaah. Dari jumlah itu, Presiden Soeharto menyumbang sebanyak Rp32,5 juta. Soeharto selalu singgah ke Masjid Nurul Iman setiap berkunjung ke Sumatra Barat sehingga membuat masjid ini mendapat julukan Masjid Presiden.

Tiba-tiba Dibom

Sekitar setahun setelah peresmiannya, Masjid Nurul Iman mendapat serangan bom, tepatnya pada 11 November 1976. Majalah Tempo melaporkan, bom meledak pukul 22.20 menyebabkan loteng di lantai satu rusak dan beberapa jendela kaca pecah. Pihak keamanan menduga, bom diatur untuk meledak ketika pelaksanaan ibadah salat Jumat keesokan harinya, tetapi bom meledak lebih dini.

Ledakan bom tidak menimbulkan korban jiwa. Masjid tetap digunakan untuk salat Jumat meski sempat ditutup sementara untuk penyelidikan. Pelakunya, Timzar Zubil, dikaitkan dengan Komando Jihad. Di bulan sebelumnya, ia menjadikan Rumah Sakit Immanuel Bukittinggi (kini Rumah Sakit Otak Mohammad Hatta) sebagai sasaran.

Saat itu, Masjid Nurul Iman bukan satu-satunya masjid besar di pusat kota. Terpisah jarak 700 meter, terdapat Masjid Taqwa Muhammadiyah yang pembangunannya dibiayai secara patungan oleh pedagang.

Antropolog Freek Colombijn dalam bukunya The Power of Symbols in the Urban Arena menulis, pada pengujung 1970-an terjadi persaingan yang ketat di antara keduanya untuk memenangkan status sebagai "masjid agung". Namun, wacana penentuan status masjid agung menguap seiring insiden beruntun yang menimpa kedua masjid: runtuhnya kubah Masjid Taqwa Muhammadiyah pada 1975 dan meledaknya bom di Masjid Nurul Iman pada 1976.

Pada era Gubernur Sumatra Barat Zainal Bakar, bergulir rencana pembongkaran Masjid Nurul Iman untuk dapat dibangun kembali. Namun, sampai masa jabatannya berakhir pada 2005, pengerjaan pembongkaran berjalan lamban, yang berdampak pada terganggunya proses peribadatan dan menimbulkan kekecewaan dari berbagai kalangan. Pembongkaran kembali dilanjutkan pada masa peralihan tugas Gubernur Sumatra Barat ke tangan Gamawan Fauzi.

Pembangunan kembali masjid rampung pada 2007 dengan anggaran sekitar Rp18,24 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatra Barat. Peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 7 Juli 2007. Saat upacara peresmian, masjid belum sepenuhnya rampung. Bangunan menara yang lama masih dalam proses pengerjaan.

Dua tahun setelah diresmikan, Masjid Nurul Iman kembali mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang melanda Sumatra Barat pada 30 September 2009. Masjid ini merupakan satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatra Barat yang mengalami kerusakan. Kerusakan meliputi runtuhnya sebagian plafon di lantai satu dan keretakan pada dinding.

Jadi Masjid Agung dan Rencana Jadi Islamic Center

Pada Agustus 2016, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengalihkan pengelolaan Masjid Nurul Iman kepada Pemerintah Kota Padang. Masjid dengan corak warna hijau ini kini diklasifikasikan sebagai masjid agung oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI), menyusul diklasifikasikannya Masjid Raya Sumatra Barat sebagai masjid raya.

Sejak menyandang status sebagai masjid agung, masjid ini berbenah. Sejumlah program untuk menyemarakkan masjid rutin diadakan, seperti kajian pekanan dan program tahfiz. Kegiatan tersebut ramai didatangi jemaah, termasuk anak-anak muda.

Pada bulan Ramadan 2021, pengurus menyediakan sebanyak 100 paket menu berbuka puasa untuk jemaah yang beribadah. Takjil tersebut disediakan secara gratis dibiayai dari sumbangan donatur.

“Masyarakat yang hendak berbuka disilakan untuk datang ke masjid,” ujar Ketua Harian Masjid Agung Nurul Iman Mulyadi Muslim kepada Suluah.com, Selasa (13/4).

Sebelum buka puasa, kata Mulyadi, diadakan kajian sore yang diisi oleh para ustaz alumni universitas dari Madinah, Mesir, dan LIPIA Jakarta.

Program lainnya yakni ATM beras, bantuan berupa beras yang diperuntukkan bagi warga sekitar masjid yang terdata sebagai fakir miskin dan anak yatim.

Mulyadi Muslim mengatakan, Pemko Padang berencana menjadikan Masjid Agung Nurul Iman sebagai Islamic Center. Untuk itu, pada tahun 2021 ini akan diadakan renovasi interior maupun eksterior, seperti penggantian lantai masjid yang sudah lapuk, plafon, kamar mandi, dan menara.

“Rencananya multi years. Tahap awal pengerjaannya menelan biaya Rp5–6 miliar,” katanya. [den]

Baca Juga

Masjid Tua Padukuan merupakan masjid tertua di Nagari Padukuan, Kabupaten Dharmasraya yang selesai dibangun pada tahun 1938.
Masjid Tua Padukuan, Nasibnya Kini
Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Bersih dan nyaman, demikian fasilitas ibadah yang ingin dihadirkan oleh pengurus Masjid Jamik Nurul Huda di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang.
Beribadah di Masjid Jamik Nurul Huda Padang Panjang yang Bersih dan Nyaman
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Masjid Tuo Ampang Gadang terancam ambruk. Masjid yang berusia hampir dua abad ini kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masjid Tuo Ampang Gadang, Cagar Budaya yang Terancam Ambruk
Masjid Istiqamah adalah masjid tertua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-19.
Masjid Istiqamah, Masjid Tertua di Sawahlunto