Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927

Berita peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 1927 di Sumatra-Bode.

Berita peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 1927 di Sumatra-Bode.

Suluah.com – Sulit untuk menemukan sumber tertulis mengenai sejarah pembangunan Jam Gadang. Padahal, bangunan ini merupakan monumen peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang menonjol di Sumatra Barat (Sumbar).

Meski demikian, dari hasil membolak-balik surat kabar, Suluah.com menemukan petikan berita mengenai Jam Gadang pada tahun 1927. Berikut di antaranya.

Menara Jam Tertinggi di Hindia Belanda

Pada Rabu, 27 Juli 1927, surat kabar Sumatra-Bode memuat berita peresmian Jam Gadang. Tertulis di sana, peresmiannya berlangsung pada Senin pagi atau berarti tanggal 25 Juli 1927. Berikut berita lengkapnya.

Officieel ingewijd.

Maandagmorgen is de groote klok te Fort de Kock, "Djam Gedang" genaamd, onder groote belangstelling officieel ingewijd. De controleur van Fort de Kock, de demang en een Chineesch ingezetene voerden het woord.

De klokketoren is 27½ m, hoog en is de hoogate van geheel Ned. Indië. De klok zal, zoodra de eleetrifieatie van Fort de Kock gereed komt, 's avonds electrisch verlicht worden.

De toren, die op een hoogte is gebouwd, vormt een sieraad voor de hoofdplaats van Agam.

Terjemahan:

Resmi dibuka.

Senin pagi, menara jam besar di Fort de Kock, yang disebut "Djam Gedang", resmi dibuka dengan perayaan besar yang menarik perhatian. Controleur (sekretaris kota) Fort de Kock, demang, dan seorang warga Tionghoa tampil berbicara.

Menara jam memiliki tinggi 27½ m dan merupakan yang tertinggi di seluruh Nederlandsch Indische (Hindia Belanda). Jam akan menyala secara elektrik pada malam hari segera setelah elektrifikasi Fort de Kock selesai.

Menara yang dibangun di atas ketinggian ini merupakan perhiasan untuk ibu kota Agam.

Peresmian Jam Gadang berlangsung dalam "perayaan besar yang menarik perhatian". Tampil berbicara memberi sambutan adalah penguasa setempat, yakni controleur (sekretaris kota) Fort de Kock dan demang, serta perwakilan warga dari etnis Tionghoa.

Dengan tinggi 27,5 meter, Sumatra-Bode menyebut Jam Gadang sebagai menara jam tertinggi di seluruh Hindia Belanda.

Sebagai catatan, Sumatra-Bode adalah surat kabar berbahasa Belanda di Padang yang terbit pertama kali pada 1892. Pendirinya adalah Karl Baumer, seorang Jerman.

Kapan Jam Gadang Mulai Dibangun?

Lampiran Gambar
Berita Sinar Sumatra mengenai Jam Gadang pada 13 April 1927

Banyak sumber menyebut menara jam ini dibangun pada 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmina kepada Controleur Fort de Kock Hendrik Roelof Rookmaaker.

Sayangnya, Suluah.com belum berhasil mendapat detail atau informasi tambahan mengenai pembangunan Jam Gadang, seperti tanggal pembangunan dimulai dan lama waktu pembangunan.

Walaupun tidak diketahui kapan awal pembangunannya, banyak sumber menyebut Jam Gadang turut terdampak gempa bumi berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang Padang Panjang pada 28 Juni 1926.

Saat itu, Jam Gadang sedang dalam tahap kontruksi. Majalah Tempo dalam laporannya pada 1978 menyebut, gempa mengakibatkan bangunan Jam Gadang miring 30 derajat sehingga harus "diperbaiki seperti keadaannya semula".

Baca juga: Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang

Pada 13 April 1927, surat kabar Sinar Sumatra menulis singkat berita mengenai hampir rampungnya pembangunan Jam Gadang. Akan tetapi, jam besar-nya belum terpasang.

Redaksi mencoba memantik rasa penasaran pembaca mengenai nama yang akan disematkan untuk Jam Gadang.

"Nama apakah yang akan dipakaikan pada Jam Gadang itu dalam bahasa Belanda, Rookmakers Klok atau Agam Klok; dan apabilakah rasanya penduduk Bukittinggi akan bisa memandang pada Jam Gadang itu?"

Berapa Biaya Pembangunan Jam Gadang?

Lampiran Gambar
Kutipan buku Sedjarah Negeri Kurai V Djorong serta Pemerintahannya: Pasar dan Kota Bukittinggi (1947).

Biaya pembangunan Jam Gadang berasal dari badan pengelola keuntungan pasar setempat atau disebut pasar fonds. Parada Harahap dalam Dari Pantai ke Pantai: Perdjalanan ke-Soematra (1926) mencatat, Bukittinggi memiliki pasar fonds "yang baling banyak untungnya di seantero Indonesia".

Meski demikian, Wali Nagari Mandiangin Haji Mohammad Hadjerat Datuk Saidi Maharajo dalam bukunya Sedjarah Negeri Kurai V Djorong serta Pemerintahannya: Pasar dan Kota Bukittinggi (1947) menulis, dana pasar fonds hanya digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial semata.

"Uang pasar fonds Bukittinggi dikeluarkan hanya untuk kepentingan kota atau untuk kepentingan pemerintah Belanda. Negeri-negeri yang empunya pasar itu adalah lebih kurang sebagai boneka yang bersedih hati saja," tulis Hadjerat.

Pasar Fonds Bukittinggi menghimpun dana sebanyak f28.000 pada 1926. Uang itu, lanjut Hadjerat, digunakan "secara royal" oleh penguasa Belanda di Bukittinggi untuk membangun berbagai patung, air mancur, dan Jam Gadang.

Untuk membangun Jam Gadang, penguasa Belanda menghabiskan f15.000. Jumlah tersebut di luar upah kuli dan pekerjaan orang hukuman yang jumlahnya sekurang-kurangnya f6.000. Itu berarti, total biaya pebangunan Jam Gadang mencapai f21.000. [den]

Baca Juga

Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga
Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya
Tabuah masih dapat kita jumpai hingga sekarang, terutama di surau atau masjid tua di Sumatra Barat
Tabuah di Minangkabau, Dari Penanda Waktu Salat Hingga Perang
Asvi Warman Adam adalah sejarawan kontemporer Indonesia yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1983.
Asvi Warman Adam, Menguak Kabut Sejarah
Kisah Penuturan Seorang Bekas Perwira Bala Tentara Jepang yang Ditugaskan Membuat Lubang Perlindungan Jepang ditulis oleh Hirotada Honjyo pada 17 April 1997, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia pada 2001.
Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi
Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.
Masjid Jamik Tigo Baleh, Masjid Pertama di Bukittinggi
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Dokter Astani, Pelopor Baha'i di Padang dan Bukittinggi