Sejarah Masjid Raya Lubuk Pandan dan Keunikannya

Masjid Raya Lubuk Pandan sudah berusia satu abad. Di sini, masyarakat mengadakan tradisi oyak tabuik dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masjid Raya Lubuk Pandan. [Foto: Rahmatdenas]

Suluah.com – Masjid Raya Lubuk Pandan terletak di Korong Kampung Guci, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Berdiri pada tahun 1901, masjid ini memiliki banyak hal menarik untuk kita ulik.

Di sini, setiap tahun masyarakat Lubuk Pandan mengadakan tradisi oyak tabuik dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, tabuik tersebut berbeda dengan yang ada di Kota Pariaman. Berikut kisahnya.

Sekilas Nagari Lubuk Pandan

Masjid Raya Lubuk Pandan sudah berusia satu abad. Di sini, masyarakat mengadakan tradisi oyak tabuik dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.

Lingkungan sekitar Masjid Raya Lubuk Pandan.

Kehadiran masjid di Minangkabau pada masa lampau tak terlepas dari sejarah nagari tempatnya berada. Begitu pula dengan Masjid Raya Lubuk Pandan yang terdapat di wilayah Nagari Lubuk Pandan.

Pada umumnya, setiap nagari memiliki masjid utama yang menjadi pusat kegiatan keagamaan oleh masyarakat. Bahkan, salah satu syarat berdirinya nagari adalah keberadaan masjid.

Masjid Raya Lubuk Pandan adalah musajik nan bapucuak atau masjid utama bagi masyarakat Lubuk Pandan. Masjid yang berdiri pada tahun 1901 ini dikenal pula dengan sebutan "Musajik Gadang".

Bentuk bangunan masjid ini cukup unik, terutama pada bagian atapnya yang bertingkat berdenah segi delapan berpadu dengan kubah dan gonjong.

Nama Lubuk Pandan sendiri berasal dari nama tempat pemandian di sungai yang ada depan masjid. Lubuk dalam bahasa Minang berarti bagian terdalam dari sungai, sedangkan pandan mengacu pada tanaman yang tumbuh di sekitar lubuk tersebut pada masa dulunya.

Mauluik dan Oyak Tabuik

Masjid Raya Lubuk Pandan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Lubuk Pandan, khususnya hari besar Islam. Salah satu hari besar tersebut yakni Maulid Nabi Muhammad SAW atau mauluik.

Tradisi mauluik lazim kita jumpai di wilayah Padang Pariaman umumnya. Rangkaian kegiatannya bermacam, mulai dari ibadah dan kegiatan sosial.

Masjid Raya Lubuk Pandan sudah berusia satu abad. Di sini, masyarakat mengadakan tradisi oyak tabuik dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.

Oyak tabuik di Masjid Raya Lubuk Pandan.

Di antara kegiatan sosial dalam rangkaian mauluik di Nagari Lubuk Pandan yakni oyak tabuik. Namun, tabuik di sini berbeda dengan yang ada di Kota Pariaman.

Tujuan penyelenggaraan tabuik yakni untuk menyemarakkan warga agar beramai-ramai datang ke masjid dalam rangka peringatan mauluik. Selain itu, tabuik menjadi ajang fastabiqhul khairat bagi warga dari lima korong yang ada di Nagari Lubuk Pandan.

Setiap korong akan membuat tabuik sekreatif mungkin demi menarik dan menggugah warganya berinfak untuk pembangunan nagari. Dengan demikian, akan terlihat warga korong mana yang banyak sumbangannya melalui tabuik .

Selain oyak tabuik, pada tahun tertentu diadakan pula kegiatan mambangkik lauak atau malapeh larangan, yakni memancing ikan dengan membayar inset bagi peserta. Uang yang terkumpul dimanfaatkan untuk menunjang pelaksanaan ibadah di masjid.

Tugu di Masjid Raya Lubuk Pandan

Masjid Raya Lubuk Pandan sudah berusia satu abad. Di sini, masyarakat mengadakan tradisi oyak tabuik dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tugu peringatan di Masjid Raya Lubuk Pandan.

Di halaman masjid, kita dapat saksikan sebuah tugu peringatan dengan sebuah pisau pada bagian atasnya. Tugu ini dibangun untuk mengenang peristiwa pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi pada 19 Desember 1949 ketika pasukan Belanda melakukan operasi teritorial Lubuk Alung di bawah pimpinan Letnan De Haas. Sekitar pukul 11:00 WIB mereka sampai di Lubuk Pandan.

Begitu sampai di Lubuk Pandan, pasukan Belanda mengamankan sekitar 17 orang atas tuduhan mengganggu ketertiban. Dua di antaranya bernama Buyuang Kaliang dan M. Zen Datuak Paduko Sinaro.

Buyuang Kaling menyembunyikan pisau di balik bajunya tanpa sepengetahuan pasukan Belanda. Dengan nekat, ia mendekati Letnan De Haas dan menikamkan pisau ke tubuh komandan pasukan Belanda tersebut hingga tewas.

Baca juga: Masjid Raya Badano, Tempat Ayah Hamka Menuntut Ilmu

Melihat kejadian tersebut, pasukan Belanda melepaskan tembakan ke arah Buyuang Kaliang dan M. Zen Datuak Paduko Sinaro. Keduanya meninggal di tempat.

Perjuangan Buyuang Kaliang begitu berkesan di hati rakyat Nagari Lubuk Pandan sehingga mereka membangun tugu peringatan di halaman Masjid Raya Lubuk Pandan. Masyarakat selalu merawat dan menjaga tugu tersebut hingga sekarang. [den]

Baca Juga

Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Bersih dan nyaman, demikian fasilitas ibadah yang ingin dihadirkan oleh pengurus Masjid Jamik Nurul Huda di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang.
Beribadah di Masjid Jamik Nurul Huda Padang Panjang yang Bersih dan Nyaman
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Masjid Tuo Ampang Gadang terancam ambruk. Masjid yang berusia hampir dua abad ini kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masjid Tuo Ampang Gadang, Cagar Budaya yang Terancam Ambruk
Masjid Istiqamah adalah masjid tertua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-19.
Masjid Istiqamah, Masjid Tertua di Sawahlunto
Godang Sungai Naniang berlokasi di Jorong Batu Balabuah, Nagari Sungai Naniang, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Masjid ini berdiri sejak 1915.
Masjid Godang Sungai Naniang, Berusia Seabad Lebih dan Masih Kokoh