Awal Mula Belanda Menginjakkan Kaki di Mentawai

Pemerintah Hindia-Belanda menginjakkan kakinya di Kepulauan Mentawai pada 1869

Mentawai pada awal abad ke-20. [Foto: Kromoblanda]

Suluah.com – Penjajahan Belanda atas wilayah Indonesia tidak berlangsung serentak. Ada kawasan atau pulau yang "terlambat" dikuasai oleh Belanda. Salah satunya Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat (Sumbar).

Pemerintah Hindia-Belanda memasukkan Kepulauan Mentawai dalam yurisdiksinya pada 10 Juli 1864 dan mulai dikunjungi oleh pejabat kolonial pada tahun 1869. Pejabat yang berkunjung itu bernama Herman Adriaan Mess atau H.A. Mess.

Profil H.A. Mess

H.A. Mess lahir di Batavia (sekarang Jakarta) pada ‎28 Desember 1823‎. Mengutip surat kabar De Locomotief pada 10 Desember 1909, H.A. Mess mengawali kariernya sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda pada 1840-an.

Ia ditempatkan di Pantai Barat Sumatra (Sumbar sekarang) yang waktu itu gubernurnya dijabat oleh Andreas Victor Michiels.

Merujuk Almanak Nederlansch Indie, H.A. Mess mulai menjabat sebagai asisten residen Afdeling XIII dan IX Koto pada 13 Desember 1861.

Lima tahun berselang, tepatnya pada 29 Desember 1866, ia pindah tugas ke Afdeling Painan. Jabatannya masih sama, yakni sebagai asisten residen. Ia pensiun pada 1875.

Setelah itu, H.A. Mess sempat menjadi seorang erfpachter di Lubuk Gadang. Ia meninggal dunia di Padang pada 27 November 1909 dalam usia 86 tahun.

Di luar tugasnya sebagai pegawai, H.A. Mess menunjukkan minatya dalam dunia pers. Ia pernah menjadi sebagai pemimpin umum Sumatra Courant (1878 sampai 1900) dan editor Palita Ketjil. Bahkan, ia memiliki mesin cetak sendiri sebagai tempat percetakan kedua surat kabar tersebut.

Kiprah H.A. Mess di Mentawai

Pada 10 Juli 1864, Belanda memasukkan Kepulauan Mentawai dalam yurisdiksi Pantai Barat Sumatra bersama dengan gugusan pulau di sekitarnya, yakni Nias, Batu, dan Banyak.

Untuk menegakkan yurisdiksi Belanda terhadap Kepulauan Mentawai, H.A. Mess ditugaskan untuk berkunjung secara rutin.

Pada 1869, H.A. Mess melaporkan hasil kunjungannya ke Kepulauan Mentawai dalam sembilan artikel berjudul "De Mentawei-eilanden" yang dimuat secara bersambung di Sumatra Courant. Pada 1887, artikel-artikel H.A. Mess disunting dan dimuat ulang di surat kabar yang sama.

Artikel H.A. Mess memberi gambaran awal tentang Kepulauan Mentawai. Jika semua isi artikel tersebut digabungkan sudah merupakan sebuah buku tersendiri tentang situasi dan kondisi awal kepulauan Mentawai.

Baca juga: Knabat Bogolu, Perahu Perang Tradisional Mentawai

Pada 1893, Belanda mengirim kekuatan militer di Sipora untuk menghentikan penjarahan kapal dagang oleh penduduk Mentawai.

Namun, keterlibatan Belanda terhadap Kepualaun Mentawai tidak signifikan. Belanda kurang memperhatikan Mentawai karena hambatan geografis. [den]

Baca Juga

INS Kayutanam mengalami masa krisis berupa terhentinya proses belajar mengajar selama periode pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan di Indonesia
Sejarah INS Kayutanam (3): Sempat Vakum Hingga Dibumihanguskan
INS Kayutanam menjadi salah satu sekolah bumiputra dengan fasilitas terlengkap di Sumatra Barat pada dasawarsa 1930-an
Sejarah INS Kayutanam (2): Salah Satu Sekolah Bumiputra dengan Fasilitas Terlengkap
Didirikan pada 31 Oktober 1926 oleh Muhammad Sjafei, INS Kayutanam menyelenggarakan jenjang pendidikan menengah setara dengan SMA/MA
Sejarah INS Kayutanam (1): Berdiri 31 Oktober 1926 Menumpang Kamar Sewaan
Mengapa air terjun Lembah Anai di Sumatra Barat populer dengan sebutan air mancur?
Mengapa Air Terjun Lembah Anai Dijuluki Air Mancur?
Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga
Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya
Dalam sejarahnya, upaya menyusun Kamus Bahasa Minangkabau telah berlangsung sejak masa pemerintah kolonial Belanda.
Sejarah Kamus Bahasa Minangkabau