Masjid Raya Lima Kaum, Pernah Nyaris Dirobohkan

Masjid Raya Lima Kaum pernah hampir dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru, tetapi Buya Hamka menyarankan agar masjid ini dipelihara.

Masjid Raya Lima Kaum. [Foto: BPCB Sumbar]

Suluah.com – Sebuah masjid dengan atap kerucut membumbung ke angkasa pada siang hari yang terik. Warna merah membalur sekujur atap seng bak mencegah kilau matahari memantulkan cahayanya. Pada puncak atap, bertengger semacam gardu pandang dengan atap ala kastil di Eropa.

Itulah Masjid Raya Lima Kaum yang terletak di Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Sudirman. Masjid ini mewarisi bentuk lampau arsitektur masjid tradisional Minangkabau dan eksistensinya telah melewati masa tiga abad. Bagaimana sejarahnya?

Sekilas Nagari Lima Kaum

Lima Kaum adalah salah satu nagari kuno di Minangkabau. Tak seperti Nagari Pariangan atau Sungayang yang namanya berbau Sanskerta, nama Lima Kaum menyiratkan pengaruh bahasa Arab. Kata kaum, berasal dari qaum, memiliki arti kelompok keluarga. Spesifiknya, kaum adalah himpunan keluarga di Minangkabau yang memiliki hubungan darah berdasarkan asal keturunan ibu.

Dalam sejarahnya, Lima Kaum adalah tempat Datuk Perpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguangan mencetuskan pemikiran tentang sistem kelarasan (pemerintahan), yakni Kelarasan Bodi Caniago dan Kelasarasan Koto Piliang.

Banyak peninggalan bersejarah di Lima Kaum. Di antaranya, ada Batu Basurek di Jorong Kubu Rajo yang merupakan peninggalan Raja Aditiawarman. Lalu, ada Batu Batikam di Jorong Dusun Tuo yang merupakan sebagai prasasti ikrar kesepakatan antara Datuk Perpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguangan.

Selanjutnya, ada Masjid Raya Lima Kaum yang kita bahas ini.

Sejarah Masjid Raya Lima Kaum

Masjid Raya Lima Kaum pernah hampir dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru, tetapi Buya Hamka menyarankan agar masjid ini dipelihara.

Masjid Raya Lima Kaum pada masa kolonial Belanda.

Asal usul Masjid Raya Lima Kaum dapat kita tarik hingga abad ke-17. Saat itu, diyakini telah ada tempat ibadah yang digunakan oleh masyarakat Muslim setempat. Lokasinya berada di Jorong Balai Batu.

"Hanya beralas batu, berdinding angin, beratap langit," demikian gambaran tempat ibadah di Limau Kaum. Artinya tidak menyiratkan bentuk bangunan sama sekali. Pada waktu yang tidak diketahui, lokasinya dipindahkan ke Jorong Tigo Tumpuak.

Bangunan awal Masjid Raya Lima Kaum diyakini mulai dibangun pada awal abad ke-18. Ada yang memperkirakannya tahun 1710. Namun, tidak ada penjelasan lanjut dari mana angka itu berasal. Jika benar begitu, maka keberadaan masjid ini sudah melewati masa tiga abad.

Ada riwayat tradisional yang mengaitkan sejarah pendirian Masjid Raya Lima Kaum dengan peristiwa Batu Batikam. yaitu perselisihan antara Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang soal kelarasan.

Datuk Parpatiah mencetuskan Kelarasan Bodi Caniago yang demokratis, sedangkan mencetuskan Kelasarasan Koto Piliang yang aristokratis.

Mereka bertengkar hebat. Sebagai pelampiasan emosi, Datuk Parpatiah dan Datuk Katumanggungan menikamkan keris mereka pada sebuah batu. Batu itulah yang populer sebagai batu batikam. Lokasinya berada di Jorong Dusun Tuo yang merupakan bagian dari wilayah Nagari Lima Kaum.

Namun, ketegangan di antara Duo Datuk tidak kunjung reda setelah peristiwa Batu Batikam. Pemuka masyarakat Lima Kaum berinisiatif membuat perdamaian dalam bentuk kenduri serta pendirian masjid yang "lima tingkat atapnya". Itulah dia Masjid Raya Lima Kaum.

Pembangunan Masjid Raya Lima Kaum dilakukan secara bersama oleh masyarakat setempat. Bangunannya terbuat dari kayu dan papan, mulai dari dinding hingga tiang, sementara atapnya terbuat dari ijuk.

Nyaris Dirobohkan dan Diganti

Pada tahun 1950-an, Buya Hamka berkunjung ke Lima Kaum. Saat pertama kali melihat masjid ini, ia langsung terkagum. Namun, perasaan Hamka terenyuh mendengar isu bahwa masjid akan dibongkar dan diganti dengan bangunan yang baru.

Merespons hal itu, Hamka menulis di Harian Haluan edisi 14 April 1951. Ia meminta pemerintah memelihara masjid ini alih-alih meruntuhkan dan menggantinya dengan "bangunan yang tidak tentu modelnya". Selanjutnya, Hamka menyarankan perbaikan atap masjid yang berbahan ijuk, "tetapi tingkatnya tetap lima".

Baca juga: Sejarah Masjid Jamik Tarok, Salah Satu yang Tertua di Bukittinggi

Beruntung, bentuk Masjid Raya Lima Kaum tetap bertahan hingga sekarang. Walaupun tentu saja, terdapat sejumlah pembaruan sana sini, seperti pelebaran mihrab, pembuatan serambi, perbaikan dan pemasangan kaca pada jendela, penggantian bilah-bilah papan yang telah rapuh, dan pembuatan atap dengan bahan seng.

Tak berlebihan jika Hamka mengagumi arsitektur masjid ini. Ia menyebut bahwa Masjid Raya Lima Kaum merupakan "lambang yang tinggi" dari "penerimaan jiwa nenek moyang kepada ajaran Islam". [den]

Baca Juga

Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Bersih dan nyaman, demikian fasilitas ibadah yang ingin dihadirkan oleh pengurus Masjid Jamik Nurul Huda di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang.
Beribadah di Masjid Jamik Nurul Huda Padang Panjang yang Bersih dan Nyaman
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Masjid Tuo Ampang Gadang terancam ambruk. Masjid yang berusia hampir dua abad ini kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masjid Tuo Ampang Gadang, Cagar Budaya yang Terancam Ambruk
Masjid Istiqamah adalah masjid tertua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-19.
Masjid Istiqamah, Masjid Tertua di Sawahlunto
Godang Sungai Naniang berlokasi di Jorong Batu Balabuah, Nagari Sungai Naniang, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Masjid ini berdiri sejak 1915.
Masjid Godang Sungai Naniang, Berusia Seabad Lebih dan Masih Kokoh