Ahmadiyah di Indonesia Dibawa oleh Tiga Pelajar Minang

Ajaran Ahmadiyyah di Indonesia disebarkan oleh tiga pelajar dari Ranah Minang. Mereka yakni Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan.

Logo Ahmadiyyah.

Suluah.com – Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia mendapat banyak penolakan, termasuk di Ranah Minang. Namun, tak banyak yang tahu bahwa penyebar Ahmadiyah di Indonesia justru berasal dari daerah tersebut.

Mereka adalah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan. Ketiganya merupakan pelajar Sumatera Thawalib, Padang Panjang yang melakukan kunjungan ke India pada 1922. Bagaimana kisah mereka?

Semula Ingin Belajar Islam di Mesir

Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan merupakan tiga serangkai penyebar Ahmadiyah di Indonesia. Mereka melakukan perjalanan ke India pada 1922 dan menyebarkan ajaran Ahmadiyah ketika kembali ke Indonesia pada 1925.

Pada awalnya, mereka sama sekali tidak berencana ke India. Mereka bermaksud belajar ke Mesir yang sudah lama terkenal sebagai pusat studi Islam.

Menurut sejarah yang ditulis di situs Ahmadiyah Indonesia, keputusan para pelajar Minang tersebut belajar Islam ke India karena mengikuti saran guru mereka di Thawalib. Namun, tidak disebutkan siapa guru yang memberi saran tersebut.

Sesampai di India, mereka menuju Lucknow, sebuah kota di bagian utara India. Sebenarnya, mereka sama sekali tidak mengetahui satu pun madrasah atau seorang ulama di Lucknow.

Mereka meminta kusir delman yang mereka tumpangi supaya mengantarkan mereka kepada ulama paling masyhur di kota tersebut.

Sang kusir membawa mereka ke Madrasah Nizhamiyah "Darun Nadwah" di daerah Firangi Mahal. Di sanalah, para pelajar Minang tersebut belajar Islam di bawah bimbingan guru Abdul Bari-al Ansari hingga dua tahun lamanya.

Merasa tidak puas, mereka berangkat menuju Lahore, sekitar 500 mil barat laut Lucknow. Di sana, mereka berkenalan dengan Ahmadiyah Lahore, yang pada waktu itu telah berpisah dari induk Ahmadiyah yang berbasis di Qadian.

Awal Pelajar Minang Dibaiat Ahmadiyah

Setelah menyimak ajaran Ahmadiyah Lahore di bawah bimbingan Maulana Abdus Sattar, mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Qadian, sumber ajaran Ahmadiyah.

Di Qadian, mereka mendalami Ahmadiyah dan akhirnya melakukan sumpah setia alias baiat di bawah bimbingan Khalifah Mirza Basheer-ud-Din Mahmood Ahmaddan.

Tidak lama setelah baiat, mereka merasa perlu membagi ilmu yang mereka peroleh dengan rekan-rekan mereka di Sumatera Thawalib. Mereka mengundang 23 pelajar Sumatera Thawalib untuk belajar di Qadian. 23 pelajar tersebut datang ke Qadian dan akhirnya bergabung dengan Ahmadiyah.

Saat di Qadian, juru bicara pelajar Indonesia Haji Mahmud meminta Mirza Basheer-ud-Din Mahmood Ahmaddan berkunjung ke Tanah Air. Namun, Mirza mengirimkan Maulana Rahmat Ali pada tahun 1925.

Baca juga: Majalah Yahudi Pernah Ada di Padang

Rahmat Ali awalnya berdakwah di Tapaktuan, Aceh. Di sana, ia mendirikan cabang Ahmadiyah pertama pada 2 Oktober 1925. Setahun kemudian, Rahmat Ali mendirikan cabang Ahmadiyah kedua di Ranah Minang, tepatnya di Kota Padang.

Dikutip dari buku Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, anggota awal Ahmadiyah di Padang berjumlah 15 orang. Di antara mereka yakni Bagindo Zakaria, seorang pengusaha terkemuka asal Pariaman. Ia mewakafkan tanah berikut bangunan di atasnya sebagai markas Ahmadiyah di Padang. [den]

Baca Juga

Kisah Penuturan Seorang Bekas Perwira Bala Tentara Jepang yang Ditugaskan Membuat Lubang Perlindungan Jepang ditulis oleh Hirotada Honjyo pada 17 April 1997, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia pada 2001.
Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Jejak Baha'i di Sumbar, Dulu Miliki Ribuan Penganut
Jepang membangun Lubang Jepang karena diduga ingin menjadikan Bukittinggi sebagai tempat tinggal Kaisar Jepang kelak. Bagaimana kisahnya?
Rencana Rahasia Jepang di Lubang Jepang Bukittinggi
MUI Sumbar menjadi pionir lahirnya MUI pusat. Sumbar sudah memiliki majelis ulama yang independen pada 1968, sementara MUI lahir pada 1975.
Sejarah MUI Sumbar, Pionir Lahirnya MUI Pusat
Organisasi perempuan di Sumatra Barat tumbuh bak cendawan pada masa awal kemerdekaan Indonesia dan umumnya berafiliasi pada partai politik.
Perseteruan dan Kekompakan Organisasi Perempuan Sumbar Awal Kemerdekaan
Jam Gadang merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina. Dalam pembangunannya, ada peran seorang arsitek Koto Gadang bernama Yazid Rajo Mangkuto.
Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang