Rencana Rahasia Jepang di Lubang Jepang Bukittinggi

Jepang membangun Lubang Jepang karena diduga ingin menjadikan Bukittinggi sebagai tempat tinggal Kaisar Jepang kelak. Bagaimana kisahnya?

Lubang Jepang Bukittinggi. [Foto: Adhmi via Wikimedia]

Suluah.com – Pendudukan Jepang di Indonesia menyisakan banyak bungker yang masih dapat kita lihat jejaknya saat ini, salah satunya di Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar). Di sini, terdapat Lubang Jepang yang menyimpan rencana rahasia Jepang dulunya.

Pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi merupakan pusat markas besar Angkatan Darat ke-16, korps militer Jepang yang melaksanakan pemerintahan atas wilayah Sumatra. Hal itulah yang melatarbelakangi Jepang membangun bungker di kota ini. Berikut sejarahnya.

Sekilas Lubang Jepang

Lubang Jepang berada di tepi jurang Ngarai Sianok, lembah bertebing terjal, yang dialiri oleh sebuah anak sungai. Salah satu pintu masuk ke Lubang Jepang bisa kita temukan di tempat yang kini jadi objek wisata bernama Taman Panorama. Dari taman ini, kita dapat menyaksikan keindahan Ngarai Sianok.

Perjalanan ke pintu Lubang Jepang akan mengarahkan kita menurun. Hal itu tampak dari anak-anak tangga yang membawa kita masuk. Terowongan yang kita saksikan hari ini telah mengalami “sentuhan” untuk menunjang keselamatan pengunjung.

Dasar terowongan diberi konblok, dindingnya disemen, dan langit-langitnya diberi pencahayaan lampu listrik. Beberapa petunjuk menyiratkan bahwa bungker ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang persembunyian atau perlindungan semata.

Setidaknya ada 21 lorong dengan berbagai peruntukan yang dapat kita temukan. Ada barak tentara, ruang dapur, tempat penyimpanan amunisi, ruang sidang, kamar komando, dan sejumlah sel tahanan.

Sel tahanan ini, menurut penuturan penjaga, merupakan tempat pembantaian dan penyiksaan. Nyawa dari mereka akan dibuang ke jurang Ngarai Sianok. Tapi, sayangnya kebenaran cerita itu tak memiliki bukti lanjut baik semacam dokumentasi atau sekadar keterangan di papan informasi.

Arti Penting Bukittinggi Bagi Jepang

Di balik sederetan ruang dalam bungker di Bukittinggi ini, ada satu hal yang sebenarnya lebih memantik tanda tanya. Seberapa penting Bukittinggi bagi Jepang, sehingga mereka membangun bunker perlindungan untuk kepentingan pertahanan mereka?

Ternyata, Lubang Jepang bukan bungker perlindungan semata!

Siti Aminah Majid Usman dalam Memoar Siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada mengungkapkan kisah di balik pembangunan bungker ini. Menurutnya, ada rencana rahasia Jepang untuk menjadikan Pulau Sumatra sebagai “wilayah kekuasaan Jepang”.

“Jika itu terwujud, Bukittinggi akan dijadikan sebagai tempat tinggal Tenno (Kaisar Jepang),” tulis Siti Aminah yang bernama asli Hiroko Osada.

Siti Aminah merupakan putri bangsawan Jepang. Ia berjumpa Abdoel Madjid Usman, seorang pemuda Minangkabau yang pertama belajar ke Jepang, dan menikahinya pada 1936.

Memoar Siti Aminah membeberkan banyak fakta sejarah tentang penjajahan Jepang di Sumbar. Buku terbitan Pustaka Yayasan Obor Indonesia dengan editor Salmyah Madjid Usman dan Hasril Chaniago pada 2017 ini menyebutkan tidak benar bahwa Lubang Jepang berfungsi sebagai tempat penyiksaan.

“Itu adalah tidak benar. Lubang itu dilengkapi dengan segala kebutuhan hidup dan pertahanan diri seperti dapur, tempat menyimpan logistik dan senjata. Jadi patut diduga tujuannya adalah untuk tempat tinggal di masa depan,” katanya.

Lorong Misterius Lubang Jepang

Panjang Lubang Jepang adalah 1.500 m. Itu yang terbuka untuk umum saat ini. Jika pangkal awalnya adalah dari Taman Panorama, terowongan ini berakhir menuju dasar lembah.

Pintu keluarnya dapat kita temukan di tepi jalan penurunan dekat dasar Ngarai Sianok. Namun, yang masih tak tersingkap adalah peta Lubang Jepang itu sendiri. Saat memasuki terowongan, kita menyaksikan beberapa lorong, yang tertutup karena alasan keselamatan sehingga tidak bisa kita telusuri.

Penutupan lorong tersebut menyisakan tanda tanya. Ke mana lorong misterius Lubang Jepang akan membawa kita?

Pembangunan Lubang Jepang sendiri memang tidak tercatat dengan baik. Sumber dari Kompas menyebut, terowongan ini dibangun pada tahun 1944 oleh para pekerja paksa yang rata-rata adalah penduduk dari luar Bukittinggi yang diculik atau orang Jawa.

Pembangunannya berlangsung dalam waktu singkat sehingga warga Bukittinggi sendiri tidak tahu ada lubang di bawah kotanya. Konon, semua pekerja mati dalam terowongan. Kematian mereka memang bagian dari rencanah Jepang demi menjaga kerahasiaan terowongan.

Baca juga: Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang

Makmur Hendik dalam Tikam Samurai berkisah, Lubang Jepang memiliki lorong berbelit-belit yang mengarah ke dekat Jam Gadang dan objek vital lainnya di Bukittinggi serta mempunyai pintu tembus ke tempat-tempat strategis baik di dalam maupun luar kota.

Desain Lubang Jepang yang sedemikian rupa menyiratkan Jepang hendak mengamankan akses keluar masuk Bukittinggi. Jika Sekutu datang menyerang, mereka akan bersembunyi di terowongan dengan perbekalan persenjataan dan makanan yang bisa menghidupi satu batalion pasukan berkekuatan 1.000 orang selama setahun! (den)

Baca Juga

Asvi Warman Adam adalah sejarawan kontemporer Indonesia yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1983.
Asvi Warman Adam, Menguak Kabut Sejarah
Kisah Penuturan Seorang Bekas Perwira Bala Tentara Jepang yang Ditugaskan Membuat Lubang Perlindungan Jepang ditulis oleh Hirotada Honjyo pada 17 April 1997, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia pada 2001.
Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi
Masjid Jamik Tigo Baleh tercatat sebagai salah satu masjid terawal di Kota Bukittinggi yang dahulu bernama Nagari Kurai Limo Jorong.
Masjid Jamik Tigo Baleh, Masjid Pertama di Bukittinggi
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Dokter Astani, Pelopor Baha'i di Padang dan Bukittinggi
Keberadaan Baha'i di Sumbar belum begitu mendapat perhatian. Sumbar menjadi salah satu daerah dengan penganut Baha'i terbanyak di Indonesia.
Jejak Baha'i di Sumbar, Dulu Miliki Ribuan Penganut
MUI Sumbar menjadi pionir lahirnya MUI pusat. Sumbar sudah memiliki majelis ulama yang independen pada 1968, sementara MUI lahir pada 1975.
Sejarah MUI Sumbar, Pionir Lahirnya MUI Pusat