Gedung BPPI Padang: Cermin Kecerdikan Orang Minang

Gedung BPPI Padang merupakan berkumpulnya para pemuda pejuang kemerdekaan. Di sini, bendera merah putih dikibarkan pada 21 Agustus 1945.

Gedung Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) Padang

Gedung BPPI Padang dulunya merupakan tempat para pemuda pejuang kemerdekaan berkumpul dan mengibarkan bendera merah putih.

Suluah.com – Berbicara tentang Kota Tua Padang, tak lengkap bila tak menyilau Pasa Gadang. Melihat bekas gudang atau rumah toko berusia ratusan tahun.

Kawasan ini dulunya merupakan pusat niaga di Padang, terutama menjadi tempat perdagangan orang Minangkabau. Sisa-sisa kejayaan tersebut masih tampak sampai kini. Beberapa bangunan tua kelihatan masih berdiri, tetapi kondisinya mulai rusak dan hancur.

Namun, tak banyak yang tahu Pasa Gadang menjadi saksi sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan kemerdekaan di Kota Padang sesungguhnya dimulai dari Pasa Gadang. Tepatnya di sebuah gedung beton yang kokoh, kini bernama Gedung Juang '45 Kota Padang di Jalan Pasar Mudik No. 50. Bangunan ini tampak seperti ruko pada umumnya, terdiri dari dua lantai, dan tak memiliki halaman alias mepet ke jalan.

"Di gedung inilah bendera Merah Putih pertama kali berkibar," ujar Ad.

Gedung Joang '45 Kota Padang, nama yang tertera pada bangunan ini, merupakan berkas markas Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) yang menghimpun para pemimpin pergerakan di Padang. Dari gedung inilah, gerakan mempersiapkan penyebaran proklamasi kemerdekaan Indonesia diatur.

Pasa Gadang Markas Pemuda Pejuang Kemerdekaan

Mengapa BPPI memilih menjadikan gedung BPPI di Pasa Gadang sebagai markas mereka? "Di situlah letak kecerdikan orang Minang," ungkap Ad.

Saat BPPI dibentuk pada 21 Agustus 1945, suasana Padang masih kacau dan tak menentu. Jepang masih menduduki gedung-gedung penting sehingga berita proklamasi tak bisa disebarkan secara luas.

"Para pemuda pergerakan berkumpul dan memilih menjadikan gedung di Pasa Gadang sebagai markas mereka. Gedung ini dulunya merupakan hotel pada masa Belanda. Mereka melihat keberadaan gedung ini tak terlalu menarik perhatian para polisi militer (kompetai) Jepang karena letaknya di kawasan niaga," ujar Ad.

Memang, Pasar Gadang sejak dulunya merupakan daerah komersial yang ramai dengan pedagang. Benar saja, Jepang sama sekali tidak curgia bahwa gedung BPPI di Pasar Gadang merupakan sarang pergerakan. Jepang luput karena terlalu fokus memperhatikan bangunan-bangunan pemerintahan di pusat kota, seperti balai kota dan kantor polisi di Imam Bonjol

Selain itu, para pemimpin pergerakan sengaja memakai kata penerangan pada nama BPPI.

"Ini merupakan cermin kecerdikan orang Minang berikutnya," ujar Ada. Dengan menggunakan kata penerangan, kata Ad, BPPI berhasil menghindarkan kecurigaan Jepang.

Padahal, BPPI merupakan tempat para pemuda menggodok gagasan, taktik, dan strategi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru berdiri. Sesuai namanya, para pengurus BPPI terdiri dari para pemuda dengan latar belakang berbeda-beda.

Perjuangan Mengibarkan Bendera Merah Putih

Salah satu strategi yang digodok dalam markas BPPI adalah perjuangan menegakkan bendera Merah Putih di Padang. Bukan perkara mudah. Masalahnya, bukan menaikkan bendera di sembarang tempat, melainkan bagaimana menurunkan bendera Jepang dan menaikkan Merah Putih di tempat-tempat utama, khususnya di kantor-kantor pemerintahan yang menjadi simbol kekuasaan.

"Maka akibat lengahnya Jepang, bendera Merah Putih dapat melenggang berkibar pada 21 Agustus 1945 di markas BPPI. Pengibaran ini merupakan yang pertama di Padang," ungkap Ad.

Dengan terbentuknya BPPI, kegiatan para pemimpin pergerakan lebih terbuka. Mereka tak lagi berkumpul diam-diam. Mereka siap menerima risiko apapun demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Merah Putih berkibar di markas BPPI, maka BPPI mengoordinasikan penaikan bendera di beberapa tempat utama di Kota Padang lewat satuan tugas berkelompok. Umumnya dimotori oleh kelompok pemuda Gyugun yang tergabung dalam BPPI dan berbagai kelompok pemuda anak-anak sekolah.

"Di BPPI-lah, kelompok-kelompok pemuda di Padang mengoordinasikan rencana penaikan bendera Merah Putih," ujar Ad.

Gedung BPPI Padang Saat Ini

BPPI perwujudan dari ilmu akalnya orang Minang. Jika kita berkunjung ke gedung BPPI yang kini bernama Gedung Joang '45 Padang, terdapat koleksi buku-buku yang memuat bagaimana heroiknya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Padang.

"Ada lebih dari 1.000 judul buku," ujar Ad.

Gedung Joang '45 Padang sekaligus menjadi kantor bagi Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan '45 Kota Padang dan Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan ’45 Sumatra Barat.

Baca juga: Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang

Tujuan awal BPPI adalah untuk memberikan informasi dan menampung persoalan sambil memberikan penjelasan kepada siapa saja yang bertanya tentang proklamasi.

Pada 1916, organisasi dagang orang Minang bernama Saudagar Vereenigning di Padang mengontrak gedung ini sebagai kantor mereka. Saudagar Vereenigning menghimpun para saudara Minang yang mendukung upaya pergerakan kemerdekaan Indonesia baik moril maupun materil. [den]

Baca Juga

Masjid Tuo Ampang Gadang terancam ambruk. Masjid yang berusia hampir dua abad ini kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masjid Tuo Ampang Gadang, Cagar Budaya yang Terancam Ambruk
Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad, Ulama Reformis di Bidang Dakwah dan Pendidikan
Parendangan Nasution adalah seorang guru Indonesia yang saat ini menjadi Kepala SMA Negeri 10 Padang. Ia merupakan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP).
Parendangan Nasution, Guru dan Kepala SMA Negeri 12 Padang
Sari Lenggogeni
Sari Lenggogeni, Akademisi dan Pengamat Pariwisata Indonesia
Sitinjau Laut atau Sitinjau Lauik adalah ruas jalan yang terkenal memiliki tikungan tajam dan curam menghubungkan Kota Padang dan Solok.
Bagaimana Kelanjutan Proyek Jalan Layang Sitinjau Laut?
Anwar Ilmar pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta (1984–1991). Ia juga pernah menjadi Bupati Jayapura pertama (1967–1975) dan Bupati Merauke kedua (1963–1966).
Anwar Ilmar, Urang Awak yang Jadi Bupati Merauke dan Jayapura hingga Wakil Gubernur Jakarta