Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto dan Sejarah Nama Gluck Auf

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto didirikan pada 1910 dengan nama Gluck Auf

Gudang Pusat Kebudayaan Sawahlunto pada 2012. [Foto: Ist.]

Suluah.com – Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar) memiliki banyak bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia yang masih bertahan. Salah satunya Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Gedung ini terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4. Berdiri pada 1910, bangunannya menampilkan corak arsitektur neoklasik.

Sejarah Nama Gluck Auf

Lampiran Gambar
Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto sekitar tahun 1935. [Foto: KITLV]

Semula, Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto adalah gedung pertemuan bernama "Gluck Auf". Fungsinya sebagai tempat perkumpulan dan hiburan (societeit) bagi pejabat pemerintah kolonial Belanda, khususnya yang bekerja di tambang batu bara Ombilin.

Pada masa kolonial Belanda, kota-kota di Indonesia umumnya memiliki gedung societeit. Hal itu lantaran orang-orang Belanda memiliki kebiasaan untuk menghabiskan waktu berkumpul selepas bekerja.

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto menjadi tempat yang disenangi oleh orang-orang Belanda baik sipil maupun militer. Di sinilah, mereka berpesta ria, minum-minum, berdansa, hingga bermain biliar.

Kata "Gluck Auf" yang menjadi nama gedung merupakan istilah salam penambang tradisional. Salam itu merupakan penggalan doa dalam bahasa Jerman yang ditujukan kepada para penambang agar selamat dalam bekerja.

Revitalisasi dan Terbakar

Lampiran Gambar
Kondisi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto setelah kebakaran. [Foto: Ist.]

Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini menjadi aset milik PT Bukit Asam. Dalam perjalanannya, gedung ini pernah difungsikan sebagai kantor Bank Dagang Negara (sekarang Bank Mandiri), sebelum direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Sawahlunto.

Setelah revitalisasi, gedung ini diresmikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, tepatnya pada 1 Desember 2006 bertepatan dengan HUT Kota Sawahlunto ke-118.

Pada 3 November 2022 pagi, kebakaran menghanguskan seisi gedung, termasuk bagian atap dan rangkanya. Penyebab api diduga berasal dari korsleting. [den]

Baca Juga

Masjid Istiqamah adalah masjid tertua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-19.
Masjid Istiqamah, Masjid Tertua di Sawahlunto
INS Kayutanam mengalami masa krisis berupa terhentinya proses belajar mengajar selama periode pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan di Indonesia
Sejarah INS Kayutanam (3): Sempat Vakum Hingga Dibumihanguskan
INS Kayutanam menjadi salah satu sekolah bumiputra dengan fasilitas terlengkap di Sumatra Barat pada dasawarsa 1930-an
Sejarah INS Kayutanam (2): Salah Satu Sekolah Bumiputra dengan Fasilitas Terlengkap
Didirikan pada 31 Oktober 1926 oleh Muhammad Sjafei, INS Kayutanam menyelenggarakan jenjang pendidikan menengah setara dengan SMA/MA
Sejarah INS Kayutanam (1): Berdiri 31 Oktober 1926 Menumpang Kamar Sewaan
Mengapa air terjun Lembah Anai di Sumatra Barat populer dengan sebutan air mancur?
Mengapa Air Terjun Lembah Anai Dijuluki Air Mancur?
Jam Gadang pernah dipasangi papan reklame di puncaknya pada 1929 dan menimbulkan protes dari warga
Jam Gadang Pernah Punya Papan Reklame Raksasa di Puncaknya