Peneliti Australia Kaji Sunting Melayu, Soroti Kegelisahan Perempuan

Bronwyn Anne Beech Jones, mahasiswa S-3 Universitas Melbourne, tertarik melacak tulisan-tulisan perempuan Minangkabau di Sunting Melayu.

Bronwyn Anne Beech. [Foto: unimelb.edu.au]

Suluah.com – Karya sejarah mengenai perempuan Minangkabau pada masa kolonial masih terbatas dan kebanyakan bergantung pada laporan kolonial. Itu pula yang membawa Bronwyn Anne Beech Jones, mahasiswa S-3 jurusan spesialisasi sejarah dan bahasa Indonesia Universitas Melbourne, memulai pelacakannya pada Sunting Melayu.

"Di Sunting Melayu, kita menemukan wacana tentang pemberdayaan perempuan dalam sistem matriarki Minangkabau. Mereka membayangkan perubahan sosial dan masa depan yang lebih baik bagi untuk generasi-generasi perempuan yang terdidik," ujar Bron.

Sekilas Sunting Melayu

Terbit di Padang dari tahun 1912 hingga 1921, Sunting Melayu tercatat sebagai surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda. Berdirinya majalah ini berawal dari hasrat Rohana Kuddus untuk membuat surat kabar yang khusus menampung aspirasi perempuan.

Redaksi majalah sepenuhnya perempuan. Redakturnya adalah Rohana Kuddus dan Zoebeidah Ratna Djoewita, putri dari Datuk Sutan Maharaja.

Dalam perjalanannya, Sunting Melayu mengangkat kontributor mereka sebagai redaktur, di antaranya Sitti Noermah binti S.M Kajo sebagai redaktur di Padang, Amna binti Abdul Karim sebagai redaktur di Bengkulu, dan Sitti Djatiah Pasar Djohar sebagai redaktur di Kayu Tanam.

Bron melihat Sunting Melayu sebagai tempat perempuan Minangkabau mencurahkan kegelisahan mereka. "Mereka memunculkan pertanyaan-pertanyaan mengenai moralitas, keperempuanan, dinamika kekuasaan, dan memprotes ketidakadilan mereka hadapi," jelas Bron.

Meskipun demikian, perempuan tidak berterus terang dalam mengungkapkan kekerasan yang mereka alami kepada publik. "Melainkan dalam bentuk syair," demikian kesimpulan Brown saat meneliti tulisan-tulisan di Sunting Melayu.

Kisah Amna Karim

Contoh bagaimana kegelisahan perempuan Minangkabau pada masa kolonial terdapat pada kisah Amna Karim. Bron mengutip ungkapan Amna Karim, salah seorang penulis Sunting Melayu.

"Perempuan tidak pandai menyatakan apa-apa yang disaksikan di mata dan terasa di hatinya masing-masing, biarpun hal-hal itu membawa binasa dirinya, tiadalah dapat akan ditolaknya, selain daripada memanggul sebagaimana tak ubahnya sebuah patung."

Ungkapan Amna Karim itu, Bron kutip dari edisi Sunting Melayu pada 16 Agustus 1918.

Amna mengisahkan rasa "amat malu" seorang perempuan di Bengkulu ketika dokter laki-laki melakukan pemeriksaan padanya. Belum lagi, saat baru sampai di rumah sakit, Amna menyaksikan ada enam sampai delapan orang melihat saudaranya yang tengah kesakitan.

"Walaupun sudah terang betul, dalam ilmu dokter, di mana-mana kamar orang-orang sakit itu tak ada boleh dimasuki banyak orang," tulis Bron mengutip Amna.

Amnra mengkritik peristwia ini membuat perempuan lebih sakit karena membuat mereka malu. Mereka terpaksa mengikuti periksaan dan pertanyaan dokter karena mengharap pertolongan dokter. Jadi, perempuan terpaksa memperlihatkan kulit mereka kepada laki-laki di rumah sakit, yang menurut Amna sangat tak patut sekali.

"Untuk itu, Amna mengusulkan perempuan harus diperiksa oleh perempuan di rumah sakit. Dengan demikian, Amna berjuang untuk kesempatan pekerjaan bagi perempuan dan mendukung perempuan untuk bekerja," ungkap Bron.

Sunting Melayu, menurut Bron, merupakan sebuah jendela untuk memahami pengalaman dan perasaan perempuan pada masanya.

"Bagaimana perempuan Minangkabau pada masa lalu berkisah tentang kekerasan yang mereka alami dan saksikan baik itu dalam pernikahan, keluarga, dan masyarakat kita temukan di Sunting Melayu," jelasnya.

Pengalaman Bron Melakukan Penelitian

Bron berbagi kisah tentang pengalamannya dalam melakukan penelitian. Uniknya, ia justru menemukan salinan surat kabar Sunting Melayu di Australia, tempat ia menimba ilmu.

"Saya mendapatkan surat kabar Sunting Melayu di mikrofilm perpustakaan Monash University," ujarnya.

Justru di Sumatra Barat (Sumbar) sendiri, lanjut Bron, salinan Sunting Melayu terbatas.

"Di Sumbar, hanya ada beberapa edisi saja yang tersimpan di PDIKM Padang Panjang. Kondisi demikian, tentu amat disayangkan. Padahal, ketersediaan sumber bisa menjadi pintu untuk para akademisi melakukan penelitian."

Sudah lama peneliti sejarah Indonesia mengeluhkan sumber yang lebih banyak ada di luar Indonesia.

"Saya rasa kita tidak bisa mengeluh dan menunggu kebijakan pemerintah dan kampus, melainkan peneliti itu sendiri harus berjuang. Seperti membangun relasi dengan peneliti dari luar Indonesia untuk bertukar sumber. Itu sangat membantu," ujar Bron.

Bron melihat, ada ketidakadilan untuk mewarat warisan Indonesia sendiri. Kesan orang ketika bule kulit putih datang, mereka begitu welcome. Sebaliknya, peneliti lokal ada semacam ketidaksetaraan perlakuan. Hal ini tentu menyulitkan peneliti lokal untuk menggalli sumber tentang sejarah mereka sendiri.

Baca juga:  Audrey Kahin: Menulis Sejarah Minangkabau

Sebagai peneliti asing, Bron merasa beruntung. Ia mendapat pendanaan dari Indonesia Project yakni, sebuah inisiatif Australian National University (ANU), untuk penelitiannya di Sumbar.

Selanjutnya, ia mendapat bantuan dari banyak pihak. Ia bertemu dengan para akademisi dan mahasiswa di Universitas Andalas, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, dan Universitas Negeri Padang. [den]

Baca Juga

Masjid Tua Padukuan merupakan masjid tertua di Nagari Padukuan, Kabupaten Dharmasraya yang selesai dibangun pada tahun 1938.
Masjid Tua Padukuan, Nasibnya Kini
Bakmi GM adalah jaringan restoran Indonesia yang mengkhususkan diri dalam hidangan bakmi. Kuliner ini merupakan ikon bakmi di Jakarta.
Sejarah Bakmi GM, Ikon Bakmi di Jakarta
Gereja GPIB menjadi saksi perkembangan agama Kristen Protestan di Padang yang berkembang sejak abad ke-19. Bangunannya sudah berusia 140 tahun lebih
Sejarah Gereja GPIB Padang, Berusia 140 Tahun Lebih
Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau dan lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah.
Meninjau Surau-Surau di Pariangan yang Terlewatkan
Sumur Ayek adalah sumur tua yang airnya tak pernah kering, bahkan saat musim kemarau sekalipun.
Melihat Sumur Ayek di Nagari Pelangai Kaciak, Pesisir Selatan
Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan