Sejarah Gereja GPIB Padang, Berusia 140 Tahun Lebih

Gereja GPIB menjadi saksi perkembangan agama Kristen Protestan di Padang yang berkembang sejak abad ke-19. Bangunannya sudah berusia 140 tahun lebih

Gereja GPIB menjadi saksi perkembangan agama Kristen Protestan di Padang yang berkembang sejak abad ke-19. Bangunannya sudah berusia 140 tahun lebih. [Foto: Ist.]

Suluah.com – Beberapa tempat ibadah yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) masih berdiri sampai sekarang. Salah satunya Gereja GPIB yang terletak di Jalan Bagindo Aziz Chan.

Gereja ini menjadi saksi perkembangan agama Kristen Protestan di Padang yang berkembang sejak abad ke-19. Bangunannya sudah berusia 140 tahun lebih.

Sejarah Gereja GPIB Padang

Tahun pembangunan Gereja GPIB tidak diketahui, tetapi secara resmi dibuka pada tahun 1881. Gereja ini merupakan pengganti gereja Protestan terdahulu di Lapangan Dipo yang rusak akibat gempa bumi pada tahun 1855.

Gereja GPIB dibangun dengan hasil sumbangan dari pemerintah Kolonial sebanyak 7.000 Gulden ditambah dengan sumbangan yang diperoleh dari jemaah Protestan. Salah seorang penyumbang terbesar adalah Lie Saay, cukong terkenal di Kota Padang.

Dari fasadnya terlihat jelas bahwa bangunan gereja mengadopsi arsitektur kolonial Belanda. Hal yang paling menonjol adalah atapnya yang berbentuk limas yang meruncing di bagian atasnya sehingga memberi kesan ramping.

Atap limas tersebut terlihat seperti terbagi menjadi dua bagian, yaitu memanjang ke belakang. Pada atap bagian belakang terdapat seperti cerobong asap. Pada bagian muka terdapat teras yang diberi atap.

Di bagian belakang bangunan gereja terdapat bangunan menara tempat diletakkan lonceng. Menara tersebut berbentuk balok dengan bagian atapnya berbentuk limas sama kaki yang sangat runcing.

Akses masuk ke dalam ruangan gereja berada di sisi timur. Seperti halnya gereja pada umumnya, gereja GPIB memiliki ruangan luas tanpa sekat untuk menampung para jemaah.

Sekilas Sejarah Kristen di Padang

Perkembangan Kristen Protestan di Kota Padang tidak terlepas dari proses penginjilan Sumatra secara keseluruhan, yakni melalui kegiatan perdagangan dan pendidikan.

Pada 1854, pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan wilayah pekabaran Injil. Kristen Protestan yang dibawa oleh Belanda dan Jerman semula banyak diperkenalkan di daerah Tapanuli dan Nias.

Belakangan wilayah pekabaran Injil secara bertahap diperluas. Pada tahun 1856, G. van Asselt, misionaris Protestan dari Belanda, tiba di Kota Padang dan dipekerjakan oleh Gubernur Pesisir Barat pada perkebunan kopi di Angkola.

Baca juga: Friedrich Silaban, Arsitek Masjid Istiqlal Kesayangan Bung Karno

Seorang pastor Katolik telah menetap di Kota Padang dan mengajarkan Injil sejak tahun 1837 (khususnya kepada orang Eropa dan pendatang). Akan tetapi, jemaah Katolik baru memiliki gereja pada tahun 1933.

Selain Gereja GPIB, beberapa gereja Protestan yang saat ini melayani di Kota Padang yakni HKBP, BNKP, GBI, dan GKN-Rantau. [den]

Baca Juga

Bakmi GM adalah jaringan restoran Indonesia yang mengkhususkan diri dalam hidangan bakmi. Kuliner ini merupakan ikon bakmi di Jakarta.
Sejarah Bakmi GM, Ikon Bakmi di Jakarta
Di Nagari Pariangan, ada sedikitnya belasan surau dan lokasinya memusat ke arah Masjid Ishlah.
Meninjau Surau-Surau di Pariangan yang Terlewatkan
Sumur Ayek adalah sumur tua yang airnya tak pernah kering, bahkan saat musim kemarau sekalipun.
Melihat Sumur Ayek di Nagari Pelangai Kaciak, Pesisir Selatan
Masjid ini berusia lebih dari seabad. Bangunan induknya terbuat dari kayu dengan tambahan bangunan serambi yang terbuat dari batu bata.
Masjid Usang Koto Marapak, Bertahan Meski Ditinggalkan
Bersih dan nyaman, demikian fasilitas ibadah yang ingin dihadirkan oleh pengurus Masjid Jamik Nurul Huda di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang.
Beribadah di Masjid Jamik Nurul Huda Padang Panjang yang Bersih dan Nyaman
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan
Melihat Masjid dan Surau Syekh Muhammad Jamil di Bayang yang Terabaikan