Perjalanan Ayang Utriza Yakin, Dari Bekasi ke Belgia

Ayang Utriza Yakin adalah dosen tamu di Universitas KU Leuven, Belgia. Ia kerap menuai kontroversi karena pernyataannya di media sosial.

Ayang Utriza Yakin.

Suluah.com – Ayang Utriza Yakin adalah akademisi Indonesia di bidang hukum Islam, filologi, dan sejarah Islam. Saat ini, ia tercatat sebagai dosen tamu di Universitas Katolik Leuven, Belgia.

Ayang Utriza Yakin juga seorang aktivis dari Nahdlatul Ulama (NU). Meski demikian, ia kerap menuai kontroversi karena pernyataannya di media sosial. Berikut profilnya.

Pendidikan

Riza, demikian sapaan akrabnya, lahir di Jakarta pada 1 Juni 1978 sebagai anak kedua dari lima bersaudara pasangan Sjaiful Anwar Yakin bin Muhammad Yakin dan Utami Djuwariah binti Sudiadi. Ayahnya, Sjaiful Anwar Yakin adalah Ketua MUI Bekasi Barat.

Riza melewati masa kecil di Cibening, Bekasi. Tamat SD pada 1990, ia masuk ke Pondok Pesantren Wali-Songo, Ngabar, Ponorogo. Pada 1995, ia pindah ke Pondok Pesantren Darul Falah, Cukir, Jombang dan tamat pada 1996.

Setelah itu, ia kuliah dengan mengambil jurusan perbandingan mazhab dan hukum di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Tamat pada 2001, ia mendapat beasiswa Kementerian Agama untuk mengambil S-2 hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo. Namun, ia tidak menyelesaikan kuliahnya di al-Azhar dan pulang ke Indonesia pada pertengahan 2002.

Setelah itu, ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Prancis untuk kuliah ke Universitas Sorbonne, Paris. Beasiswa ini berkat rekomendasi Hassan Hanafi yang ia temui sewaktu kuliah di al-Azhar. Di Universitas Sorbonne, ia mengambil jurusan sejarah dan berhasil meraih gelar Diplôme Etudes Approfondies (DEA) pada Juni 2005.

Pada Agustus 2008, Riza melanjutkan pendidikannya S-3 dalam bidang sejarah dan filologi di universitas yang sama dengan beasiswa dari perusahaan minyak dan gas Prancis TOTAL E&P. Pada 16 Januari 2013, ia berhasil mempertahankan disertasi doktornya tentang kajian filologi dan sejarah atas naskah hukum Kesultanan Banten.

Kiprah Ayang Utriza Yakin

Ayang Utriza Yakin awalnya mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai dosen tidak tetap dari tahun 2005 hingga 2007 dan 2014 hingga 2016.

Selanjutnya, ia mengajar di Universitas Ghent, Belgia dari tahun 2019 hingga 2020. Sejak awal 2021, ia menjadi dosen tamu di Universitas Katolik Leuven, Belgia. Di luar kesibukannya mengajar, ia tercatat sebagai anggota Nahdlatul Ulama (NU) Belgia.

Baca juga: Rayni N. Massardi, Penulis Indonesia Kelahiran Brussels

Bersama keluarganya, ia ikut mengembangkan Yayasan Ar-Raudhah di Bekasi yang saat ini menaungi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).

Sebagai akademisi, Ayang Utriza Yakin telah menerbitkan dua buku, yakni Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX dan Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer. Keduanya diterbitkan pada 2016. [den]

Baca Juga

Asvi Warman Adam adalah sejarawan kontemporer Indonesia yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1983.
Asvi Warman Adam, Menguak Kabut Sejarah
Ahmad Khatib Datuk Batuah adalah seorang guru agama dan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) terkemuka di Sumatra Barat pada awal abad ke-20.
Ahmad Khatib Datuk Batuah, Dari Sarekat Islam ke PKI
Fauziah Fauzan El Muhammady adalah seorang guru yang sejak 2003 memimpin perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Fauziah Fauzan El Muhammady, Pemimpin Diniyyah Puteri
Abdul Hamid Hakim adalah seorang ulama bidang fikih dan pemimpin Thawalib Padang Panjang.
Abdul Hamid Hakim, Ulama Ahli Fikih dan Pemimpin Thawalib Padang Panjang
Idrus Hakimy Dt. Rajo Pangulu adalah seorang ulama dan ahli adat Minangkabau
Idrus Hakimy Dt. Rajo Pangulu, Ulama dan Ahli Adat Minangkabau
Abdul Latif Syakur adalah seorang ulama ahli tafsir yang berkiprah dalam pemajuan pendidikan perempuan dan pers. Ia membidani lahirnya majalah Islam umum, Pewarta Islam, dan majalah Islam khusus perempuan, Djauharah.
Abdul Latif Syakur, Ulama Ahli Tafsir dan Kiprahnya Memajukan Pendidikan Perempuan