Rayni N. Massardi, Penulis Indonesia Kelahiran Brussels

Rayni N. Massardi adalah penulis Indonesia. Suami dari Noorca M. Massardi ini pernah terlibat dalam produksi film Pengkhianatan G30S/PKI.

Rayni N. Massardi.

Suluah.com – Rayni N. Massardi adalah seorang penulis Indonesia yang juga suami dari Noorca M. Massardi. Ia pernah terlibat dalam beberapa produksi film dan mengajar sinematografi di Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pada pemilihan umum 2004, Rayni pernah mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat dari Partai Bintang Reformasi (PBR), tetapi tidak terpilih. Berikut profilnya.

Keturunan Raja Pagaruyung

Nama lengkapnya adalah Siti Ingrayni Anwar Massardi. Ia lahir di Brussels, ibu kota negara Belgia pada 29 Mei 1957. Ayahnya bernama Anwar A. Moein dan ibunya bernama Siti Baini. Saat ia lahir, sang ayah bekerja sebagai Attache de Presse di KBRI Brussels.

Kedua orang tua Rayni berasal dari Sumatra Barat. Sang ayah kelahiran Nagari Batu Palano, Kabupaten Agam sedangkan sang ibu berasal dari Kota Padang. Banoe Intan, keluarga besar Rayni, masih memiliki garis keturunan dengan Kerajaan Pagaruyung.

Pada 1958, Anwar A. Moein memboyong keluargnya pulang ke Tanah Air. Ia mendapat ancaman dari pemerintah tidak akan diperbolehkan lagi masuk ke Indonesia jika tidak pulang.

Pasalnya, saat itu sang ayah mendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), gerakan perlawanan pemerintah pusat yang dipimpin Ahmad Husein di Padang.

Sebenarnya, Anwar A. Moein belum ingin pulang. Ia merasa lebih baik tinggal di luar, tapi ia menghadapi dilema. Kesempatan untuk kembali ke Indonesia hanya sekali atau tidak sama sekali.

Pendidikan

Rayni N. Massardi menyelesaikan pendidikannya di Indonesia. Pada 1976, ia mengambil kuliah sinematografi di Departement d’Etude et de Recherches Cinematographiques Sorbonne Nouvelle University Paris 3 dan lulus pada 1981.

Saat di Paris, Rayni menikah dengan Noorca Marendra Massardi, seorang jurnalis. Mereka sebenarnya sudah berpacaran di Jakarta. Namun, orang tua Rayni kelihatan tak berterima. Mereka sengaja mengirim sang anak ke Paris untuk memisahkan Rayni dan Noorca.

Dari pernikahannya dengan Noorca, Rayni N. Massardi memiliki dua anak, yakni Cassandra Massardi dan Nakita Massardi, dan tiga orang cucu lelaki.

Karier di Dunia Film

Sepulang dari Paris pada Oktober 1981, Rayni N. Massardi ikut dalam beberapa produksi film dan mengajar sinematografi. Ia juga aktif di Teater Ketjil, IKJ, dan Taman Ismail Marzuki.

Salah satu film yang pernah ia ikut terlibat adalah Pengkhianatan G30S/PKI produksi Perum Produksi Film Negara (PPFN) di bawah Direktur Utama G. Dwipayana. Saat itu, ia diajak oleh sutradara Arifin C. Noer dan istrinya, Jajang C. Noer.

Dari puluhan kru film Pengkhianatan G30S/PKI, hanya ada dua orang perempuan, yakni Rayni sebagai pencatat adegan dan Jajang C. Noer sebagai pencatat skrip. Menurut penuturan suami Rayni, Noorca, mereka memang cocok dan kompak, bahkan sampai sekarang, karena sama-sama “urang awak” dan pernah tinggal lama di Paris.

Sebagai pengajar sinematografi, Rayni awalnya menjadi asisten dosen D. Djajakusuma di Fakultas Film & Televisi IKJ, sebelum akhirnya mengajar sebagai dosen penuh selama satu semester.

Sejak 1995, Rayni membantu promosi film dari kelompok Cinema XXI, khususnya sebagai koordinator media. Setelah itu, setelah jarang muncul di dunia perfilman film,

Karya Rayni N. Massardi

Berhenti dari kegiatan film, Rayni N. Massardi banyak menulis cerita pendek di berbagai koran dan majalah. Sebagian besar isi cerpen yang ia tulis berisikan atau bertemakan tentang kehidupan sosial di Indonesia.

Cerpen-cerpen pilihannya masuk dalam antologi Laki-Laki yang Kawin dengan Peri: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1995 dan Riwayat Negeri yang Haru: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2006. Adapun kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit yakni Istri Model Baru (1990), Pembunuh (2005), I Don’t Care (2008), Awas Kucing Hilang (2010), dan Terima Kasih Anakku (2012).

Baca juga: Kisah Rukmini Zainal Abidin, Pendiri Apotek Tunggal

Rayni juga menulis karya non-fiksi, di antaranya Ngoprek ‘Santai’ Syair Lagu: Dari Taman Langit sampai Tak Ada yang Abadi (2010), Hidup Enggak Enak Itu Enak! (2007), 1655: Tak Ada “Rahasia” dalam Hidup Saya! (2005), dan Inspirasi Mode Indonesia (2003).

Pada 2015, Rayni N. Massardi meluncurkan novel pertamanya Langit Terbuka bersama novel karya sang suami, Straw. Selanjutnya, pada 2017, ia meluncurkan kumpulan cerpen grafis Daun Itu Mati, bekerja sama dengan Christyan AS sebagai ilustrator. [den]

Baca Juga

Zukri Saad adalah aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Indonesia yang berkiprah dalam gerakan masyarakat sipil di Sumatra Barat
Zukri Saad, Tokoh Gerakan Masyarakat Sipil Sumatra Barat
Erlina Burhan adalah seorang dokter spesialis paru Indonesia yang berpraktik di dua lokasi di Jakarta, yakni di RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS YARSI
Erlina Burhan, Berkiprah Eliminasi TB hingga Penanganan Pandemi Covid-19
Kamardi Thalut berkiprah memajukan bagian bedah sekaligus menjadi guru besar untuk bidang tersebut di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Kamardi Thalut, Dokter Bedah Berdedikasi
Djamaluddin Tamim adalah seorang wartawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia di Sumatra Barat pada dekade 1920-an
Djamaluddin Tamim, Berjuang untuk Indonesia Merdeka Meski Bolak-Balik Penjara
Yulizal Yunus adalah seorang filolog dan akademisi bidang sastra Arab. Topik penelitiannya mencakup biografi dan karya ulama Minangkabau.
Yulizal Yunus, Mengkaji Khazanah Keilmuan Ulama Minangkabau Lewat Manuskrip
Zubaidah Djohar adalah seorang penyair dan aktivis kemanusiaan Indonesia
Zubaidah Djohar dan Kerja Kemanusiaannya Bagi Korban Konflik